Menuju konten utama

Trump dan Israel Klaim Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Tewas

Tidak hanya menargetkan Khamenei, militer Israel bahkan mengeluarkan rincian nama para pejabat inti pertahanan Iran yang mereka sebut turut menjadi korban.

Trump dan Israel Klaim Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Tewas
Ayatollah Ali Khamenei menghadiri pertemuan dengan para pejabat di Teheran, Iran, Rabu, 3 April 2024. (Kantor Pemimpin Tertinggi Iran melalui AP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Eskalasi konflik bersenjata antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel mencapai tingkat kritis setelah pejabat Israel dan Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah tewas, menukil Al Jazeera.

Namun, klaim tersebut sejauh ini dibantah pihak Iran.

"Iran membantah pembunuhan tersebut, dengan media semiresmi mengatakan ia 'teguh' dalam memimpin di lapangan," tulis Al Jazeera, dikutip Minggu (1/3/2026) pagi.

Tidak hanya menargetkan Khamenei, militer Israel bahkan mengeluarkan rincian nama para pejabat inti pertahanan Iran yang mereka sebut turut menjadi korban.

Israel mengklaim bahwa serangan-serangan tersebut, selain menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei, juga telah menewaskan penasihatnya, Ali Shamkhani.

Pejabat lain yang diklaim telah tewas adalah menteri pertahanan Aziz Nasirzadeh, kepala biro militer pemimpin tertinggi, Mohammad Shirazi, kepala IRGC, Mohammad Pakpour, dan pejabat tinggi intelijen Saleh Asadi.

Sementara dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan "Khamenei salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas".

Lebih lanjut ia menulis, "Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat," ujar Trump. "Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negaranya," imbuhnya.

Klaim tewasnya para petinggi Iran ini berbarengan dengan dimulainya operasi militer terbuka yang diumumkan langsung oleh Washington.

"Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa AS telah memulai “operasi tempur besar” di Iran setelah Israel juga mengatakan telah meluncurkan serangan rudal terhadap negara tersebut," lapor Al Jazeera.

Trump, yang sebelumnya mengumumkan “operasi tempur besar” di Iran setelah Israel juga menyatakan telah meluncurkan serangan rudal ke negara tersebut, mengatakan bahwa pengeboman “besar dan tepat sasaran” itu akan terus berlanjut “tanpa henti sepanjang pekan ini atau selama diperlukan” untuk mencapai tujuannya, menukil Al Jazeera.

Serangan udara gabungan dari AS dan Israel ini memicu kepanikan dan guncangan hebat di sejumlah titik vital di wilayah Iran. Beberapa ledakan terdengar di ibu kota Iran, Teheran, sementara ledakan juga dilaporkan terjadi di beberapa lokasi lain di seluruh penjuru negeri.

Operasi tempur besar ini dilaporkan telah menimbulkan korban jiwa massal yang mencakup warga sipil.

Serangan terhadap sebuah sekolah di Iran selatan telah menewaskan 115 orang per Minggu pagi. Laporan media Iran, yang mengutip Bulan Sabit Merah, mengatakan sedikitnya 201 orang tewas di 24 provinsi.

Merespons gempuran mematikan tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) tidak tinggal diam dan segera memperluas zona perang untuk memburu aset-aset Washington dan Tel Aviv di Jazirah Arab.

Iran telah membalas, menargetkan aset-aset Israel dan AS di beberapa negara Timur Tengah, termasuk Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, dan Irak, menurut Al Jazeera.

Sementara itu, dalam wawancara dengan NBC News, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Khamenei masih hidup. Dia menegaskan Israel tidak bisa mengganti rezim di Iran.

"Anda tidak dapat melakukan perubahan rezim sementara jutaan orang mendukung rezim yang disebut-sebut itu," kata Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara dari ibu kota Teheran.

Namun, keberadaan Khamenei saat ini tidak diketahui.

"Semua pejabat tinggi masih hidup. Jadi semua orang saat ini berada di posisinya masing-masing, dan kami menangani situasi ini, semuanya baik-baik saja," tegasnya.

Dilaporkan BBC, pemerintah Iran pun terus berupaya meredam isu ini di dalam negeri.

Iran bersikukuh menyebut Khamenei sudah diamankan.

Seorang presenter di televisi pemerintah Iran, tanpa menyebut nama Khamenei, mengatakan kepada rakyat Iran untuk mengabaikan "propaganda psikologis musuh", lapor BBC.

Ironisnya, di tengah bantahan rezim tersebut, beredar kabar adanya perayaan dari sebagian warga sipil.

"Sebuah video media sosial, dibagikan di X dan diverifikasi secara eksternal oleh BBC Persian, menunjukkan beberapa warga Iran di Karaj merayakan laporan kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei - sebelum hal itu tampaknya dikonfirmasi oleh Donald Trump," tulis BBC.

Kondisi geopolitik yang semakin tak terkendali ini membuat wilayah udara di kawasan Timur Tengah berada dalam status bahaya tinggi. Beberapa negara di kawasan tersebut telah menutup wilayah udara mereka di tengah baku serang tersebut.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Farida Susanty