Menuju konten utama
Mozaik

Sejarah Remi dan Siapa Sosok di Balik King, Queen, dan Jack?

Permainan ini muncul di Tiongkok, lalu menyebar ke Mesir, selanjutnya ke Eropa. Namun, gambar dalam kartu remi sekarang dianggap tidak mewakili siapa pun. 

Sejarah Remi dan Siapa Sosok di Balik King, Queen, dan Jack?
header Mozaik Sejarah Kartu Remi dan Siapa yang Berada pada Gambar King, Queen, Jack. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sesekali kita mungkin pernah bermain kartu remi. Entah saat indekos, di sebuah warung kopi, atau saat bercengkrama dengan keluarga. Kadang dimainkan di atas meja plastik, meja kayu tua, atau lantai rumah. Diiringi tawa, bisik-bisikan strategi, dan kadang sedikit ketegangan.

Tapi seberapa sering kita benar-benar memperhatikan kartu-kartu itu? Pernahkah kita bertanya: mengapa Raja Sekop terlihat murung, atau mengapa Ratu Hati memegang bunga? Siapa sebenarnya Jack yang sering jadi korban dalam permainan?

Dari Dinasti Tang ke Raja Mamluk

Jejak awal kartu remi bermula di Tiongkok sekitar abad ke-9, saat Dinasti Tang berkuasa. Ia lahir dari dua inovasi: kertas dan teknik cetak balok kayu. Tanpa keduanya, gagasan tentang setumpuk kartu yang seragam tak akan pernah muncul.

Kartu remi lahir dari teknologi yang juga melahirkan buku dan uang kertas. Catatan tertua tentang permainan kartu muncul dalam teks “Koleksi Aneka Ragam di Duyang” tahun 868. Disebutkan bahwa Putri Tongchang, putri Kaisar Yizong dari Tang, bermain “permainan daun” (yezi xi) bersama klan Wei.

Makna pasti dari “daun” ini masih diperdebatkan. Ouyang Xiu, sejarawan Dinasti Song, menganggapnya sebagai halaman buku dalam permainan dadu, bukan kartu seperti yang kita kenal. Meski kabur, catatan ini menunjukkan satu hal penting: kertas cetak mulai digunakan untuk hiburan, sebuah langkah awal menuju kartu remi.

Teori lain datang dari antropolog William Henry Wilkinson. Ia menyebut bahwa kartu remi pertama mungkin adalah uang kertas itu sendiri. Saat itu, uang digunakan sebagai alat permainan dan taruhan.

Lama-lama, demi keamanan dan kepraktisan, uang asli diganti dengan “kartu uang” yang bersifat simbolik. Kartu-kartu ini punya empat jenis bernuansa moneter: koin, untaian koin, puluhan ribu, dan ratusan ribu. Inilah cikal bakal sistem “jenis kartu” atau suit yang kita kenal sekarang.

Dari Tiongkok, kartu-kartu ini kemungkinan besar dibawa melalui jalur perdagangan Jalur Sutra menuju Persia dan kemudian ke dunia Islam. Bukti paling kuat dari tahap perkembangan ini adalah penemuan kartu-kartu Mamluk dari Mesir yang berasal dari abad ke-12 hingga ke-16.

Kartu-kartu Mamluk memiliki empat suit: tongkat polo, koin, pedang, dan cangkir. Setiap suit terdiri dari 13 kartu: nomor 1 hingga 10 ditambah tiga kartu istana yang disebut malik (raja), na'ib malik (wakil raja), dan thani na'ib (wakil kedua).

Karena seni Islam menghindari gambar makhluk hidup, kartu-kartu ini tampil tanpa figur manusia. Hierarki ditunjukkan lewat kaligrafi dan desain geometris.

Keunikan kartu Mamluk terletak pada teks kaligrafi di bagian atas kartu yang berisi pepatah berima: "Dengan pedang kebahagiaan aku akan menebus kekasih yang kemudian akan mengambil nyawaku" atau "Lihatlah betapa indahnya permainanku dan pakaianku yang luar biasa cantik".

Tradisi anikonik ini justru membuka jalan bagi evolusi kartu di Eropa. Ketika dek (satu paket kartu) Mamluk tiba di sana, seniman Eropa menemukan struktur yang kokoh tapi kosong secara tokoh. Maka mereka mengisinya dengan potret khas dunia mereka: raja, ksatria, dan pelayan.

Inovasi yang Mengubah Permainan

Kartu remi tiba di Eropa pada akhir abad ke-14 dan menyebar dengan cepat. Menurut Trevor Denning dalam bukunya The Playing-cards of Spain: A Guide for Historians and Collectors (1996:14), referensi Eropa pertama tentang kartu remi berasal dari Catalonia pada tahun 1371, di mana kata naip disebutkan dalam kamus sajak berbahasa Catalan.

“Di Catalan, tidak ada artinya selain 'kartu bermain' yang pernah dikaitkan dengan kata tersebut,” lanjut Trevor.

Meski jalur penyebarannya belum pasti, kemungkinan besar ia masuk lewat perdagangan dengan dunia Mamluk atau dibawa oleh tentara salib dan pelancong. Popularitasnya melonjak karena sifatnya yang portabel, fleksibel, dan cocok untuk hiburan.

Pada tahun 1377, sudah ada larangan permainan kartu di Florence, Italia, yang menyebutkan “permainan tertentu yang disebut nabbie, yang baru diperkenalkan di daerah ini”. Di Paris pada tahun yang sama, sebuah ordonansi melarang permainan kartu khususnya untuk kelas pekerja. Keberadaan larangan-larangan ini menunjukkan betapa populernya kartu remi di kalangan masyarakat Eropa pada masa itu.

Popularitas dek Mamluk memicu kreativitas lokal. Italia dan Spanyol mempertahankan sistem suit Latin yang mirip dengan kartu Mamluk: pedang, cangkir, koin, dan pentungan (yang dulunya tongkat polo).

Jerman mengembangkan sistem suit sendiri yang mencerminkan kehidupan perdesaan: hati, lonceng, daun, dan biji ek. Kartu istana Jerman terdiri dari könig (raja), obermann (pria atas), dan untermann (pria bawah), dan menghilangkan figur ratu.

Namun, inovasi paling signifikan terjadi di Prancis sekitar tahun 1480. Para pembuat kartu Prancis menciptakan sistem suit yang kita kenal hari ini: coeurs (hati), piques (sekop), carreaux (wajik), dan trèfles (keriting). Simbol-simbol tersebut cerminan struktur sosial Prancis kala itu: gereja, militer, pedagang, dan rakyat jelata.

Menurut artikel The Atlantic, desain pada suit Prancis mewakili empat elemen masyarakat Abad Pertengahan. Cangkir pada dek Mamluk berubah jadi hati sebagai lambang rohaniawan. Begitu juga pedang yang menjadi sekop mewakili simbol militer. Lalu koin menjadi wajik, lambang pedagang. Tongkat polo yang tak dikenal di Eropa, diadaptasi jadi keriting sebagai lambang petani.

Keunggulan inovasi tersebut terletak pada pembagian keempat suit ke dalam dua warna: merah dan hitam, dengan simbol-simbol yang disederhanakan dan lebih jelas. Ini membuat kartu mudah dikenali dan murah diproduksi. Kartu kehormatan pun distandarisasi menjadi raja, ratu, dan jack, menggantikan Ksatria dengan sosok ratu yang memberi nuansa istana khas Prancis.

Kartu kemudian diproduksi dengan menggunakan stensil, seratus kali lebih cepat dibandingkan teknik tradisional pemotongan kayu dan ukiran yang dilakukan dengan tangan. Dengan proses manufaktur kertas yang lebih baik dan pengembangan proses pencetakan yang lebih efisien, termasuk mesin cetak Gutenberg yang ditemukan pada 1440, teknik-teknik tradisional yang lambat dan mahal digantikan dengan produksi yang jauh lebih efisien.

Dek Prancis diekspor secara luas melalui perdagangan dan ekspansi kolonial, yang membantu memperkuat posisi mereka sebagai suit standar yang kita lihat hari ini. Di Indonesia, kartu remi bersuit Prancis dimainkan terutama oleh komunitas Eropa di Hindia Belanda. Sementara para penduduk lokal dan komunitas Tionghoa lebih suka permainan kartu Ceki dan Ujang Omi.

Membedah Identitas Kartu Kehormatan

Pada abad ke-16, Prancis membawa kartu remi ke puncak evolusinya. Para pembuat kartu mulai mengaitkan dua belas kartu kehormatan dengan tokoh-tokoh sejarah, mitologi, dan kitab suci. Tradisi ini dikenal sebagai portrait officiel, potret resmi yang mengubah kartu menjadi galeri pahlawan portabel.

Potret tersebut dianggap sebagai fondasi peradaban Barat: dari dunia Yahudi-Kristen, Yunani dan Romawi kuno, hingga Kekaisaran Kristen Eropa. Setiap raja dalam kartu mewakili era besar. Raja David (Sekop), Alexander Agung (Keriting), Charlemagne (Hati), dan Julius Caesar (Wajik), yang mewakili empat kerajaan: Yahudi, Yunani, Prancis, dan Romawi.

Para Ratu pun tak kalah beragam. Ratu Sekop adalah Pallas Athena, dewi perang dan kebijaksanaan, satu-satunya yang membawa senjata. Hati adalah Judith, pahlawan kitab suci yang memenggal jenderal musuh demi bangsanya. Wajik adalah Rahel, tokoh matriarkal dari Kitab Kejadian. Keriting adalah Argine, sosok misterius yang diyakini sebagai anagram dari Regina, kadang dikaitkan dengan Argea atau Elizabeth of York.

Jack, yang dulu disebut knave (pelayan), mewakili para ksatria dan pahlawan. Sekop adalah Ogier the Dane, tokoh dari legenda Charlemagne. Hati adalah La Hire, komandan yang bertempur bersama Joan of Arc. Wajik adalah Hector, pahlawan Troya yang menghadapi takdir dengan keberanian. Keriting adalah Lancelot, Ksatria Meja Bundar yang dikenal karena kehebatan dan cinta tragisnya.

Merujuk Organisasi Permainan Kartu Dunia (IPCS), kartu-kartu dengan pola Inggris (internasional) hingga hari ini tidak pernah membawa nama dan tidak dianggap mewakili siapa pun secara khusus.

Belakangan muncul Joker, tambahan dari Amerika abad ke-19. Awalnya kartu truf dalam permainan Euchre, Joker tak terikat oleh jenis atau peringkat. Ia adalah simbol kebebasan, individualisme, dan kemampuan kartu remi untuk terus beradaptasi.

Baca juga artikel terkait PERMAINAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi