3 Februari 1468

Johannes Gutenberg Merebut Kuasa Gereja Melalui Mesin Cetak

Penulis: Ahmad Zaenudin, tirto.id - 3 Feb 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Melalui mesin cetak pertama di dunia, Johannes Gutenberg mengambil kekuasaan absolut gereja untuk diserahkan kepada masyarakat.
tirto.id - Dikirim dari London menggunakan jasa pengiriman parsel Tice and Lynch, kotak kayu berisi salah satu benda paling berharga di dunia itu tiba di kediaman Estelle Betzold Dohemy di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 14 Oktober 1950. Kiriman tersebut tiba dalam keadaan lusuh, penyok di sana-sini, hingga membuat Dohemy geram dan menyebut kotak kayu yang sangat dinanti-nantinya itu, "ditangani dengan sangat buruk, lebih buruk penanganannya dari apapun yang pernah saya beli."

Sebagai salah seorang yang terkaya di AS, Dohemy mengoleksi buku-buku langka yang antik dan memiliki nilai sejarah tinggi. Di antaranya De Officiis (Marcus Tullius Cicero, 44 SM), Summa Theologica (Thomas Aquinas, 1485), dan The Canterbury Tales (Geoffrey Chaucer, sekitar 1400). Dan benda di dalam kotak kayu yang dikirim dari London itu adalah sebuah buku sangat langka yang dapat menggenapkan koleksinya, yang ia beli dengan harga $70.093 (lebih dari Rp1 miliar). Hal ini membuat Dohemy menjadi kolektor buku paling mahsyur di dunia.

Meski kesal dengan penanganan Tice and Lynch atas buku yang dinantinya, namun tatkala kotak kayu dibuka, sebagaimana dikisahkan Margaret Leslie Davis dalam The Lost Gutenberg: The Astounding Story of One Book's Five-Hundred-Year Odyssey (2019), Dohemy seketika menitikkan air mata. Ia terharu melihat Injil edisi pertama dari cetakan pertama menggunakan mesin cetak bergerak (movable-type printing press) pertama di dunia karya Johannes Gutenberg. Kini Injil Gutenberg (Gutenberg's Bible) berada di tangannya.

Injil ini menjadi penanda dimulainya zaman saat buku dicetak atau diterbitkan secara massal. Atau merujuk apa yang disampaikan John Mann dalam The Gutenberg Revolution: The Story of Genius and an Invention that Changed the World (2003), penanda dimulainya kapitalisme buku.

Mainz adalah Kunci Mengapa Gutenberg Memilih Mencetak Injil

Awalnya, sabda-sabda Tuhan yang termuat dalam Injil disiarkan oleh para pemuka agama, dari Paus hingga pendeta. Namun pada 1455, Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg, mengambil alih kuasa pemuka agama ini melalui mesin cetak bergerak (movable-type printing press) buatannya.

Sebagaimana dipaparkan Margaret Leslie Davis dalam The Lost Gutenberg: The Astounding Story of One Book's Five-Hundred-Year Odyssey (2019), Gutenberg berhasil mencetak sekitar 180 eksemplar Injil St. Jerome. 150 eksemplar dicetak di atas kertas dan 30 menggunakan kulit binatang (vellum), yang lantas dijual seharga 30 florin atau setara dengan tiga tahun rata-rata gaji masyarakat Eropa kala itu.

Pemilihan Injil sebagai buku yang dicetak pertama kali, merujuk pemaparan John Mann dalam The Gutenberg Revolution: The Story of Genius and an Invention that Changed the World (2003), karena Injil merupakan sumber utama kewenangan pemuka agama dan raja dalam menguasai masyarakat Eropa kala itu.

Sebelum mengenal sains, masyarakat Eropa menggatungkan seluruh hidupnya kepada agama dan rela mengunjungi ratusan tempat suci (gereja) di seantero Eropa untuk mendengarkan pemuka agama melantunkan sabda-sabda Tuhan. Ini dilakukan sebagai pengganti melakukan perjalanan berbahaya selama setahun ke Tanah Suci. Kala itu, bagi masyarakat umum, Injil tak terjangkau karena langka dan harganya sangat mahal. Melalui penguasaan terhadap Injil, pemuka agama kala itu mengubah sabda-sabda Tuhan sebagai sumber kekayaan, menjual "indulgensi" atau surat pengampunan dari Paus bagi masyarakat guna memusnahkan dosa mereka.

Gutenberg melihat peluang dari perilaku masyarakat Eropa ini, terlebih ia lahir dan besar di Mainz-- salah satu kota terpenting Kekaisaran Romawi Suci (Jerman).

Mainz merupakan pusat kaum Yahudi Eropa klasik, tempat pemuka Yahudi bernama Gershom ben Judah memperkenalkan Talmud untuk pertama kalinya pada masyarakat Eropa. Dipaparkan John Mann, berkumpulnya kaum Yahudi di Mainz terjadi atas andil orang-orang Romawi yang membuka hubungan dagang dengan kaum Yahudi hingga membuat kaum Yahudi bertransmigrasi ke Eropa.

Awalnya, karena dianggap sebagai kaum yang diselamatkan Bahtera Nuh (Ashkenazim), kedatangan kaum Yahudi diterima dengan baik oleh penduduk lokal. Terlebih, meskipun berasal dari Timur Tengah, kaum Yahudi memiliki bahasa yang mirip dengan bahasa Jerman sehingga memudahkan interaksi. Namun, akhirnya penduduk lokal Mainz memeluk Katolik dan kaum Yahudi dipaksa berganti keyakinan.

Hal ini membuat Mainz akhirnya bertransformasi menjadi wilayah berpenduduk mayoritas beragama Katolik dengan dibumbui budaya-budaya Yahudi. Semisal nama "Gutenberg" sendiri yang sebetulnya khas Yahudi. Bukan karena Johannes Gutenberg seorang Yahudi, tetapi karena nama rumah yang ditinggali Gutenberg, awalnya dimiliki oleh orang Yahudi bernama "Gutenberg". Dan budaya masyarakat Eropa kala itu menautkan nama rumah dengan nama asli pemberian orang tua.


Infografik Mozaik Johannes Gutenberg
Infografik Mozaik Johannes Gutenberg. tirto.id/Tino


Kembali merujuk paparan John Mann, setelah kaum Yahudi yang bermigrasi itu pindah agama, kehidupan masyarakat Mainz normal-normal saja. Namun, selayaknya COVID-19 yang mengacak-acak kehidupan umat manusia saat ini, pada tahun 1348-1349 Mainz diterjang Wabah Hitam (Black Death) hingga mengakibatkan lebih dari 10.000 penduduknya meninggal dunia. Dan karena sains saat itu belum berkembang, maka penduduk lokal menjadikan kaum Yahudi--yang telah berganti agama atau diam-diam masih memeluk keyakinan lama mereka--sebagai kambing hitam.

Tak terima hal ini, keturunan Yahudi di Mainz menyerang balik penduduk lokal yang menuduh mereka sebagai biang Wabah Hitam. Karena hanya menghasilkan permusuhan dan pertikaian, masyarakat akhirnya beralih ke pemuka agama untuk terbebas dari Wabah Hitam. Di titik ini, kuasa pemuka agama akhirnya menggeliat. Terlebih, meskipun Mainz adalah bagian Kekaisaran Romawi Suci atau Jerman, tapi tidak ada konsep "negara" dalam pikiran orang-orang Jerman.


Dalam benak masyarakat Jerman kala itu, "Jerman" merujuk pada panggilan orang-orang yang tinggal di antara Sungai Rhine dan Elbe, mencakup bukan hanya wilayah Jerman modern saat ini, tetapi juga Austria, Polandia, hingga Ceko. Maka ketika Jerman untuk pertama kalinya membangun universitas pada 1348, bukan Berlin atau Munchen yang dijadikan tempat universitas berdiri, tetapi Praha. Maka, dari ambiguitas "negara" inilah gereja lebih berkuasa.

Lahir dan besar di tengah masyarakat yang sangat bergantung dan dikendalikan oleh pemuka agama/gereja, membuat Gutenberg paham bahwa Injil sangat dibutuhkan melebihi buku apapun. Melalui mesin cetak bergerak buatannya, Gutenberg seakan-akan mengambil kekuasaan absolut gereja untuk diserahkan kepada masyarakat.

Gutenberg meninggal pada 3 Februari 1468, tepat hari ini 554 tahun silam.

Baca juga artikel terkait MESIN CETAK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight