Obituari

Sejarah Kemesraan Keluarga BJ Habibie dengan Soeharto

Oleh: Petrik Matanasi - 12 September 2019
Dibaca Normal 1 menit
Hubungan baik keluarga besar B.J. Habibie dengan Soeharto terjalin saat terjadi pemberontakan Andi Azis di Makassar.
tirto.id - Sepanjang tahun 1950, Makassar sebagai bekas ibukota Negara Indonesia Timur (NIT) memanas karena pemberontakan Andi Azis. TNI mengirim banyak pasukannya ke Makassar, salah satunya Brigade Mataram pimpinan Soeharto. Saat itulah Soeharto mulai berkenalan dengan keluarga besar B.J. habibie.

“Di tengah suasana penumpasan pemberontakan itu, kami berkenalan dengan keluarga Habibie yang tinggal di seberang jalan, di depan Brigade Mataram,” kenang Soeharto dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989) yang disusun Ramadhan K.H.

Ayah B.J. habibie adalah Alwi Abdul Djalil Habibie yang lahir pada 17 Agustus 1908. Sementara ibunya bernama Tuti Marini Poespowardojo, kelahiran 23 Maret 1909. Ibunya keturunan seorang dokter Jawa bernama dokter Tjitrowardojo.

Alwi Abdul Djalil Habibie lulusan sekolah pertanian di Bogor. Ia lama bekerja di Pare-pare dan Makassar sebagai Landbouwconsulent (kepala jawatan pertanian). Sementara ibunya menurut catatan Solichin Salam dalam B.J. Habibie: Mutiara Dari Timur (1986:94), sempat belajar di Hogere Burger School (HBS), sekolah tempat anak-anak orang Eropa dan orang pribumi terpandang.

“Dari pihak ibunya, telah mengenal jalur pendidikan tinggi lebih dahulu daripada dari pihak ayahnya,” tulis Solichin Salam.

Menurut Soeharto, keluarga Habibie sudah menjadi bagian dari keluarga besar Brigade Mataram. Tuti Marini yang fasih berbahasa Jawa membuat para prajurit yang jauh dari keluarganya di Jawa merasa terhibur.

“Obrolannya dalam bahasa Jawa merupakan hiburan tersendiri bagi anggota staf kami yang jauh dari keluarga,” kenang Soeharto.

Kedekatan Brigade Mataram dengan keluarga besar Habibie diperkuat oleh pernikahan antara Kapten Soebono Mantofani dengan Titi Sri Sulaksmi, kakak B.J. Habibie.

“Saya sebagai Komandan Brigade [Mataram] 'besanan' dengan lbu Habibie,” ucap Soeharto.


Kepergian Sang Ayah

Suatu malam ketika Soeharto seharusnya tidur lelap, dua remaja mendatangi asrama Brigade Mataram sambil menangis. Ayah mereka, Alwi Habibie, terkena serangan jantung saat menjalankan salat Isya. Seorang dokter segera memberikan pertolongan, namun ayah B.J. Habibie tak tertolong. Ia wafat pada 10 September 1950 di usia 42 tahun.

“Kita berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan. Beliau mengembuskan napasnya yang terakhir di depan saya, dokter Irsan, dan keluarganya,” kenang Soeharto puluhan tahun kemudian.

Saat ayahnya meninggal, B.J. Habibie baru berusia 14 tahun dan masih duduk di kelas dua HBS. Sementara Tuti Marini, ibu B.J. Habibie, tengah mengandung. Kesannya terhadap sang ayah adalah seorang yang alim, kuat, dan keras dalam beragama.

Sebelum pindah ke Bandung, B.J. Habibie sekolah di HBS Concorde Makassar. Kepergiannya ke Bandung tak lama setelah ayahnya wafat.




Infografik Habibie dan Soeharto
Infografik Habibie dan Soeharto. tirto.id/Quita


Berkhidmat di Pemerintahan

“Dia (B.J. Habibie) [berangkat ke Jawa] naik kapal sendiri tanpa diantar siapapun juga,” tulis Solichin Salam.

Beberapa tahun kemudian ibu dan saudara-saudaranya ikut pindah ke Bandung. Sementara ia kemudian melanjutkan kuliah ke Jerman.

Hubungan B.J. Habibie dengan para perwira Brigade Mataram terus terjalin. Ketika ia mulai kuliah di Jerman, Soeharto sudah menjadi panglima di Jawa Tengah. Dan saat Habibie mulai berkarir sebagai teknokrat di Jerman, Soeharto semakin menjadi orang penting di Angkatan Darat, terlebih setelah peristiwa G30S 1965.

Bertahun-tahun setelah Soeharto menjadi orang nomor satu di Indonesia, ia memanggil B.J. Habibie untuk pulang ke tanah air dan dijadikan sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Dan saat Soeharto mengundurkan diri dari tampuk kekuasaannya, B.J. Habibie tampil menjadi Presiden Indonesia ke-3.

Baca juga artikel terkait BJ HABIBIE MENINGGAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
Artikel Lanjutan
DarkLight