Sejarah Indonesia

Sejarah Kejayaan Kesultanan Mataram Islam Masa Sultan Agung

Oleh: Yuda Prinada - 24 Februari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah puncak kejayaan Kesultanan Mataram Islam terjadi pada era Sultan Agung Hanyakrakusuma pada 1613-1645 Masehi.
tirto.id - Sejarah puncak kejayaan Kesultanan Mataram Islam terjadi pada era Sultan Agung Hanyakrakusuma pada 1613 hingga 1645 Masehi. Sosok bernama muda Raden Mas Rangsang ini adalah cucu pendiri Kesultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati (1587-‎1601 M).

Panembahan Senopati mendeklarasikan Kesultanan Mataram Islam pada 1584 M di alas Mentaok atau Yogyakarta. Panembahan Senopati akhirnya dinobatkan pada 1587 M dengan gelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa

Menurut Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3 (1981), di bawah pimpinan Panembahan Senopati, Kesultanan Mataram Islam berhasil menguasai beberapa wilayah di sekitar Bengawan Solo, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.

Tahun 1601, Panembahan Senopati wafat dan digantikan putranya, Raden Mas Jolang atau Prabu Hanyakrawati. Pada 1613, Prabu Hanyakrawati meninggal dunia karena mengalami kecelakaan sewaktu berburu rusa di hutan Krapyak. Raja penerus takhta Mataram Islam selanjutnya pun harus segera ditetapkan.


Semasa hidup, Prabu Hanyokrowati sempat berpesan agar takhta Mataram diserahkan kepada Raden Mas Rangsang.

Namun, karena suatu janji, maka takhta harus diserahkan kepada putra Prabu Hanyakrawati lainnya yang bernama Raden Mas Wuryah, meskipun hanya satu hari sebagai simbolis menepati janji.

Maka, Raden Mas Wuryah yang menyandang kebutuhan khusus dinobatkan menjadi raja dengan gelar Adipati Martapura.

Sehari kemudian, Raden Mas Rangsang menggantikan Adipati Martapura sebagai penguasa Kesultanan Mataram Islam dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.


Kejayaan Mataram Islam Era Sultan Agung

Setahun setelah menjabat, Sultan Agung memulai operasi penaklukkan sejumlah wilayah di Jawa untuk memperluas daerah kekuasaan Kesultanan Mataram Islam.

Perjalanan pertama dimulai ke Timur Jawa. Sartono Kartodirjo dalam Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 (1993:131) menerangkan, pada 1614, Sultan Agung meluncurkan aksi penyerangan ke daerah Timur.

Sultan Agung memberikan perintah kepada Tumenggung Suratani yang akhirnya berhasil menguasai Malang dan sekitarnya. Atas pencapaian itu, Tumenggung Suratani dianugerahi gelar Senopati Menggala Yuda.

Selanjutnya, tahun 1615, Sultan Agung mengirim pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Martalaya untuk mengambil-alih kekuasaan wilayah Wirasaba (kini wilayah Karesidenan Banyumas).


Pada Januari 1616 atau setahun berselang, Kesultanan Mataram Islam diserang oleh beberapa wilayah yang menjalin aliansi termasuk Pasuruan dan Tuban. M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1991:85), menyebutkan, pertempuran tersebut Mataram Islam.

Sepanjang tahun 1616-1619, Sultan Agung juga melakukan ekspansi ke wilayah Lasem, Pasuruan, dan Tuban. Tumenggung Martalaya dan Tumenggung Jaya Supanta berperan aktif dalam misi ini yang menuai keberhasilan ini.

Misi menaklukkan Surabaya boleh dikatakan paling sulit dan berlangsung cukup lama yakni pada 1620-1625. Sultan Agung akhirnya menerapkan strategi untuk melemahkan Surabaya.

Rantai distribusi makanan ke Surabaya dari beberapa wilayah yang sudah menjadi taklukan Mataram diputus. Pada 1625, Surabaya takluk dengan sendiri karena kehabisan bahan pangan.


Kemajuan Kesultanan Mataram Islam

Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Kesultanan Mataram Islam juga berhasil mencapai kemajuan di berbagai sektor kehidupan, termasuk bidang ekonomi, keagamaan, budaya, hukum, tata negara/pemerintahan, dan lain-lain.

Zaid Munawar dalam tulisan berjudul "Kebijakan Ekonomi Sultan Agung pada Masa Kerajaan Mataram Islam Tahun 1613-1645 M" (2013), ada tiga paket kebijakan ekonomi yang dijalankan Sultan Agung, yakni di sektor pertanian, fiskal, dan moneter.

Di sektor pertanian, diberikan tanah kepada para petani dan dibentuk forum komunikasi sebagai wadah pembinaan. Kemudian, dalam bidang fiskal diatur regulasi mengenai pajak yang tidak memberatkan rakyat. Di aspek moneter dibentuk sebuah lembaga keuangan untuk mengatur kas kerajaan.


Dalam bidang keagamaan dan hukum Islam, sebut Purwadi dalam Sejarah Raja-raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa (2007), Sultan Agung menerapkan kebijakan berupa pembaharuan hukum sesuai ajaran agama Islam dan memberikan ruang kepada kaum ulama untuk bekerjasama dengan kerajaan.

Selain itu, Sultan Agung merumuskan dan menetapkan penanggalan/kalender Jawa sejak tahun 1633. Salam Iskandar dalam 99 Tokoh Muslim Indonesia (2009:76) menjelaskan, penghitungan tanggal ini merupakan hasil kombinasi antara kalender Saka dengan Kalender Hijriah.

Akulturasi kebudayaan juga diterapkan dalam upacara-upacara kerajaan, semisal upacara Garebeg Poso dan Garebeg Mulud. Garebeg Poso dimaksudkan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri sedangkan Garebeg Mulud untuk perayaan Maulid Nabi Muhammad.


Sumarsam dalam Gamelan: Cultural Interaction and Musical Development in Central Java (1995) mencatat, berbagai jenis tari serta gamelan dan wayang berkembang pesat di era Sultan Agung.

Bahkan, Sultan Agung juga menghasilkan sejumlah karya seperti Serat Sastra Gendhing, yang terdiri dari Pupuh Sinom, Pupuh Asmaradana, Pupuh Dandanggula, dan Pupuh Durma.

Tata bahasa pun mengalami perkembangan pada masa Sultan Agung dengan mulai diberlakukannya penggunaan tingkatan bahasa di luar Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Selain itu, Sultan Agung juga menciptakan struktur administrasi yang inovatif dan rasional. Dibentuklah "provinsi" dengan menunjuk orang sebagai adipati sebagai kepala wilayah di daerah-daerah taklukan Mataram.


Sepeninggal Sultan Agung

Di bawah pimpinan Sultan Agung, Kesultanan Mataram Islam melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda alias VOC. Bahkan, Mataram dua kali menyerang pusat VOC di Batavia yakni pada 1628 dan 1629 meskipun belum berhasil dengan gemilang.

Kendati begitu, serbuan kedua Mataram Islam ke Batavia berhasil membendung serta mencemari Sungai Ciliwung. Akibatnya, wabah kolera melanda Batavia. Gubernur Jenderal VOC kala itu, J.P. Coen, menjadi korban wabah tersebut dan meninggal dunia.

Sultan Agung wafat di Karta (ibu kota Kesultanan Mataram Islam atau yang kini berada di Pleret, Yogyakarta) pada 1645 M. Sepeninggal Sultan Agung, Kesultanan Mataram Islam mulai mengalami kemunduran dan nantinya terpecah-belah serta bisa dipengaruhi oleh Belanda.


Baca juga artikel terkait KESULTANAN MATARAM ISLAM atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight