Menuju konten utama
Sejarah Indonesia

Sejarah Kerajaan Panjalu Kediri: Letak, Pendiri, Raja, & Prasasti

Sejarah Kerajaan Kediri (Kadiri) atau Panjalu masih terkait dengan Kerajaan Kahuripan dan Dinasti Mataram Kuno, juga Kerajaan Jenggala.

Sejarah Kerajaan Panjalu Kediri: Letak, Pendiri, Raja, & Prasasti
Wilayah Kerajaan Jenggala dan Kediri. wikimedia commons/free share

tirto.id - Kerajaan Kediri (Kadiri) atau Panjalu merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Nusantara yang terletak di Jawa bagian timur. Sejarah Kerajaan Kediri ini masih terkait dengan Kerajaan Kahuripan dan Dinasti Mataram Kuno, juga Kerajaan Jenggala.

Kahuripan yang dipimpin oleh Raja Airlangga (1009-1042 M) adalah kerajaan turunan Dinasti Mataram Kuno periode Jawa Timur. Tamatnya Kerajaan Kahuripan yang berpusat di sekitar Sidoarjo inilah yang menjadi awal riwayat dua kerajaan baru yakni Jenggala dan Daha atau Kediri.

Sebelum wafat, Raja Airlangga sejatinya sudah menunjuk penerusnya untuk memimpin Kerajaan Kahuripan, yaitu putrinya yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi.

Namun, sang putri mahkota memilih hidup sebagai pertapa sehingga memunculkan potensi konflik antara dua putra Airlangga yang sama-sama menginginkan takhta Kahuripan.

Kedua putra Airlangga itu bernama Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. I Ketut Ardhana dan kawan-kawan dari Universitas Udayana dalam riset bertajuk "Religi, Ritual, dan Sistem Kerajaan Jawa Timur" (2016) mengungkapkan, Airlangga membagi wilayah Kerajaan Kahuripan untuk kedua putra tersebut.

Sri Samarawijaya memperoleh wilayah di bagian barat yang kemudian berdiri dengan nama Kerajaan Kadiri (Panjalu), berpusat di Daha. Sedangkan wilayah bagian timur diberikan kepada Mapanji Garasakan, yaitu Kerajaan Jenggala dengan pusatnya tetap di Kahuripan.

Letak & Perang Saudara

Kerajaan Panjalu berpusat di Daha atau yang dikenal dengan nama Kediri sekarang didirikan oleh Sri Samarawijaya setelah Airlangga turun takhta dari singgasana Kerajaan Kahuripan pada 1042 Masehi.

Meskipun wilayah kekuasaan Kerajaan Kahuripan sudah dibagi sama rata, namun polemik antara Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Kerajaan Jenggala masih kerap terjadi.

Salah satu bukti terjadinya perang saudara tersebut adalah dengan Prasasti Ngantang. Di prasasti ini tercatat tulisan Panjalu Jayati yang artinya “Panjalu menang”. Catatan tersebut diperkirakan merujuk kepada kemenangan Panjalu atas Jenggala.

Selain itu, ditemukan pula Prasasti Turun Hyang yang berangka tahun 1044 Masehi. Isi dari prasasti ini adalah memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga, yakni Kerajaan Jenggala melawan Kerajaan Kediri.

Kerajaan Jenggala akhirnya benar-benar runtuh pada 1059 Masehi. Dengan demikian, Kerajaan Panjalu atau Kediri menjadi satu-satunya dinasti keturunan Airlangga yang masih berkuasa.

Raja & Masa Kejayaan Panjalu

Sri Samarawijaya adalah pendiri Kerajaan Kediri pada 1042 Masehi. Kemudian, berdasarkan Prasasti Sirah Keting tahun 1104, ditemukan nama Sri Jayawarsa sebagai penguasa Kerajaan Kediri pada periode tersebut.

Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaan pada masa Sri Jayabhaya (1135-1157). Dikutip dari tulisan bertajuk “Sejarah Panji” dalam Majalah Adiluhung (Edisi 14: 2017), catatan Cina berjudul Ling Wai Tai Ta yang ditulis oleh Chou Ku-fei pada 1178 memperkuat hal tersebut.

Chou Ku-fei menuliskan, bahwa pada masa-masa itu, negeri-negeri di dunia yang paling kaya selain Cina adalah Arab (Dinasti Abbasiyah), Jawa, dan Sumatera. Untuk Jawa, disebutkan Kerajaan Panjalu, sedangkan Sumatera kala itu menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Disebutkan pula wilayah kekuasaan Panjalu kala itu, meliputi: Pai-hua-yuan (Pacitan), Ma-tung (Medang), Ta-pen (Tumapel/Malang), Hi-ning (Dieng), Jung-ya-lu (Hujung Galuh/Surabaya), Tung-ki (Jenggi/Papua Barat), juga Ta-kang (Sumba).

Kemudian Huang-ma-chu (Papua), Ma-li (Bali), Kulun (kemungkinan di Papua Barat atau Nusa Tenggara), Tan-jung-wu-lo (Tanjungpura di Kalimantan Barat), Ti-wu (Timor), Pingya-i (Banggai/Sulawesi Tengah), hingga Wu-nu-ku (Maluku).

Keruntuhan Kerajaan Panjalu

Kerajaan Panjalu atau Kediri mengalami keruntuhan pada era Kertajaya. Pararaton mengisahkan, Kertajaya terlibat perselisihan dengan kaum brahmana.

Kaum brahmana tersebut kemudian meminta bantuan Ken Arok yang saat itu memimpin Tumapel setelah membunuh Tunggul Ametung.

Tumapel kala itu merupakan wilayah taklukan Kerajaan Kediri. Kebetulan pula, Ken Arok juga berencana memerdekakan Tumapel dari Kediri, bahkan berambisi menggulingkan pemerintahan Kertajaya.

Tahun 1222 Masehi, terjadi pertempuran di Ganter, suatu tempat di lereng Gunung Dorowati, Malang. Berkat strategi jitunya, Ken Arok yang memimpin Tumapel akhirnya mengalahkan pasukan Kerajaan Kediri di bawah komando Kertajaya.

Dikutip dari George Coedes dalam The Indianized States of Southeast Asia (1968), kekalahan Kertajaya sekaligus mengakhiri riwayat Kerajaan Kediri. Ken Arok kemudian mendeklarasikan Tumapel sebagai kerajaan yang pada akhirnya dikenal dengan nama Kerajaan Singasari.

Prasasti dan Peninggalan

Beberapa peninggalan sejarah termasuk prasasti yang menceritakan mengenai Kerajaan Panjalu atau Kediri antara lain:

Prasasti Pucangan, Prasasti Pamwatan, Prasasti Gandhakuti, Prasasti Mataji, Prasasti Turun Hyang, Prasasti Ngantang, Prasasti Sirah Keting, Prasasti Hantang, Prasasti Talan, Prasasti Jepun, Prasasti Pandlegan, Prasasti Kahyunan, Prasasti Waleri, Prasasti Angin, Prasasti Jaring, Prasasti Semanding, Prasasti Cker, Kakawin Bharatayuddha, Situs Tondowongso di Kediri, dan lainnya.

Daftar Raja Kediri/Panjalu

  • Maharaja Sri Samarawijaya (sejak 1042 Masehi)
  • Maharaja Sri Jitendrakara (sekitar tahun 1051)
  • Maharaja Sri Bameswara (1117-1130)
  • Maharaja Sri Jayabhaya (1135-1157)
  • Maharaja Sri Sarweswara (1159-1161)
  • Maharaja Sri Aryeswara (sekitar tahun 1171)
  • Maharaja Sri Gandra (sekitar tahun 1181)
  • Maharaja Sri Kamesywara (sekitar tahun 1190)
  • Maharaja Sri Kertajaya (1194-1222)

Baca juga artikel terkait KERAJAAN KEDIRI atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH