Menuju konten utama
Sejarah Indonesia

Sejarah Kerajaan Singasari: Kisah Ken Arok Hingga Raja Kertanegara

Sejarah Kerajaan Singasari terkait erat dengan sosok Ken Arok dan Raja Kertanegara.

Sejarah Kerajaan Singasari: Kisah Ken Arok Hingga Raja Kertanegara
Arca peninggalan Kerajaan Singasari yang disimpan dan menjadi koleksi Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda, Jumat (15/9/2017). ANTARA FOTO/Ismar Patrizki

tirto.id - Sejarah Kerajaan Singasari terkait erat dengan sosok Ken Arok (1222-1247) yang konon sebagai pendirinya. Masa kejayaan kerajaan Hindu yang terletak di Jawa bagian timur ini terjadi saat dipimpin oleh Kertanegara (wafat tahun 1292) sekaligus menjadi raja terakhirnya.

Dikutip dari Neo Patriotisme: Etika Kekuasaan dalam Kebudayaan Jawa (2008) karya H.M. Nasruddin Anshoriy, Ch., lokasi kerajaan ini diperkirakan berada di daerah yang sekarang menjadi wilayah Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Nama sebenarnya dari Kerajaan Singasari adalah Kerajaan Tumapel yang beribukota di Kutaraja. Asal-usul penamaan Singasari bermula saat Raja Wisnuwardhana menunjuk anaknya yang bernama Kertanegara sebagai putra mahkota dan mengganti nama pusat pemerintahan kerajaan menjadi Singasari.

Singasari yang sebenarnya merupakan nama ibu kota justru lebih terkenal daripada nama kerajaannya yakni Tumapel. Pada akhirnya, orang terbiasa menyebut Kerajaan Tumapel dengan nama Kerajaan Singasari.

Kerajaan Singasari mengalami puncak keemasan pada era raja terakhirnya yakni Kertanegara dan memiliki wilayah kekuasaan yang amat luas. Widjiono Wasis dalam Ensiklopedi Nusantara (1989) mengungkapkan, Kertanegara kala itu ingin menyatukan sebagian wilayah Nusantara di bawah naungan Singasari.

Dengan pusat pemerintahan di Jawa bagian timur, wilayah kekuasaan Singasari pada era Kertanegara disebut-sebut mencakup Bali, Sunda, sebagian Kalimantan, bahkan sebagian Sumatera hingga kawasan Selat Malaka.

Ken Arok Menjadi Raja

Mulanya, Tumapel bukan sebuah kerajaan, melainkan daerah bawahan Kerajaan Kadiri (Kediri). Menurut Kitab Paraton, wilayah Tumapel dipimpin oleh Tunggul Ametung yang menjabat sebagai akuwu (setara camat). Tunggul Ametung memiliki istri bernama Ken Dedes.

Tahun 1222, masih disebutkan dalam Pararaton, Tunggul Ametung mati dibunuh oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok. Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung. Anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung ini nantinya diberi nama Anusapati.

Selain beristrikan Ken Dedes yang merupakan janda Tunggul Ametung, Ken Arok punya satu istri lagi bernama Ken Umang yang kelak melahirkan anak laki-laki bernama Tohjaya.

Dikutip dari buku yang mengambil judul Pararaton (1965) karya R. Pitono, setelah membunuh Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes, Ken Arok menjadi penguasa baru Tumapel. Ken Arok berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kerajaan Kadiri.

Terjadilah peperangan sengit antara Tumapel melawan Kadiri. Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok memenangkan perang tersebut yang kemudian mendeklarasikan diri sebagai raja dengan gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.

Dua Versi Raja-raja Singasari

Ada dua versi dalam dalam mengidentifikasi sejarah Kerajaan Tumapel atau Singasari menurut dua kitab, yakni Kitab Pararaton dan Kitab Negarakertagama. Perbedaan ini meliputi daftar penguasa dan angka tahunnya

Menurut Kitab Pararaton

Dikisahkan dalam Pararaton, Anusapati yang merupakan putra Tunggul Ametung (1185-1222) dan Ken Dedes ingin membalas dendam terhadap Ken Arok yang telah membunuh ayahnya.

Pada 1247, Ken Arok mati di tangan Anusapati yang kemudian berkuasa di Tumapel. Namun, pada 1249, gantian Anusapati yang tewas, dihabisi oleh Tohjaya yang tidak lain adalah anak Ken Arok dari Ken Umang.

Tohjaya naik singgasana sebagai raja Tumapel atau Singasari setelah Anusapati tiada. Akan tetapi, takhta Tohjaya hanya berlangsung singkat. Pada 1250, pemerintahannya digulingkan oleh pasukan khusus yang dihimpun oleh Ranggawuni atau yang nantinya dikenal sebagai Wisnuwardhana.

Ranggawuni atau Wisnuwardhana adalah anak dari Anusapati dan melanjutkan lingkaran dendam yang melingkupi takhta Kerajaan Singasari.

Wisnuwardhana dinobatkan sebagai raja selanjutnya hingga kemudian mewariskan kekuasaan kepada putranya yang bernama Kertarajasa.

Daftar Raja Tumapel/Singasari Versi Pararaton

  • Tunggul Ametung (1185-1222) | Pemimpin Tumapel
  • Ken Arok (1222-1247) | Pemimpin Tumapel, membunuh Tunggul Ametung
  • Anusapati (1247-1249) | Putra Tunggul Ametung & Ken Dedes, membunuh Ken Arok
  • Tohjaya (1249-1250) | Putra Ken Arok dari Ken Umang, membunuh Anusapati
  • Wisnuwardhana (1250-1272) | Putra Anusapati, menggulingkan Tohjaya
  • Kertanagara (1272-1292) | Putra Wisnuwardhana

Menurut Kitab Negarakertagama

Negarakertagama tidak pernah menyebut nama Tunggul Ametung maupun Ken Arok. Penguasa Tumapel yang mengalahkan Kerajaan Kadiri, menurut Negarakertagama, adalah Rangga Rajasa Sang Girinathaputra (1222-1227).

Rangga Rajasa memiliki putra bernama Anusapati (1227-1248) yang kemudian bertakhta di Tumapel alias Singasari. Anusapati digantikan oleh putranya yang bernama Wisnuwardhana pada 1248 dan memerintah hingga 1254.

Selanjutnya, raja terakhir Singasari adalah Kertanagara, putra Wisnuwardhana, yang memimpin hingga wafatnya pada 1292 sekaligus mengakhiri riwayat kerajaan ini lantaran terjadinya pemberontakan dari dalam.

Dengan demikian, Negarakertagama tidak menyebut sosok Tunggul Ametung, Ken Arok, Ken Dedes, Ken Umang, maupun Tohjaya dalam sejarah Kerajaan Tumapel alias Singasari, seperti yang termaktub dalam Pararaton.

Daftar Raja Tumapel/Singasari Versi Negarakertagama

  • Rangga Rajasa (1222-1227) | Penguasa Tumapel
  • Anusapati (1227-1248) | Putra Rangga Rajasa
  • Wisnuwardhana (1248-1254) | Putra Anusapati
  • Kertanagara (1254-1292) | Putra Wisnuwardhana

Baca juga artikel terkait KERAJAAN SINGASARI atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH