Sejarah Indonesia

Sejarah Kerajaan Kanjuruhan dan Isi Prasasti Peninggalannya

Kontributor: Alhidayath Parinduri - 26 Jan 2021 19:55 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Jejak sejarah Kerajaan Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur bisa diketahui dari prasasti Dinoyo. Salah satu Raja Kanjuruhan adalah Gajayana.
tirto.id - Kanjuruhan merupakan kerajaan yang pernah berpusat di wilayah tempat Kota Malang saat ini. Hal tersebut dikonfirmasi dari penemuan prasasti Dinoyo. Kini, prasasti sejarah Kerajaan Kanjuruhan yang berangka tahun 682 Śaka atau 760 Masehi itu tersimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Jejak sejarah Kanjuruhan juga dapat dilihat dari Candi Badut yang terletak di desa Karang Besuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Situs ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan dan dibangun pada masa pemerintahan Gajayana.

Jacques Dumarcay, seorang ahli bangunan kuno berpendapat candi ini pernah mengalami dua kali perubahan yaitu pada abad 9 dan abad 13, demikian dikutip dari laman Kemdikbud.

Candi bercorak Hindu-Siwa tersebut, menurut Purbatjaraka, terkait dengan Prasasti Dinoyo. Sebab lokasi penemuan prasasti Dinoyo tidak jauh dari Candi Badut, dan sama-sama menunjukkan unsur Siwaisme yang menonjol.

Berdasarkan pendapat B. De Haan yang juga dilansir di laman Kemdikbud, Candi Badut termasuk bangunan situs tertua di Jawa Timur karena arsitektur maupun seni arcanya memperlihatkan gaya Jawa Tengah. Pendapat ini didukung pula oleh Dr. R. Soekmono dalam disertasinya.


Isi Prasasti Dinoyo

Pengungkapan jejak Kerajaan Kanjuruhan tidak terlepas dari diketahuinya isi dari prasasti Dinoyo, yang ditemukan pada awal abad ke-20.

Mengutip keterangan di situs Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu milik Kemendikbud, prasasti Dinoyo semula pecah menjadi 3 bagian dan ketiganya ditemukan di tempat terpisah dengan waktu penemuan yang berlainan.

Pecahan pertama berupa bagian tengah prasasti yang ditemukan pada tahun 1904 di Desa Dinoyo. Meski diberitakan ditemukan di Desa Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tetapi prasasti tersebut kemungkinan besar ditemukan di Desa Merjoyo.

Selanjutnya, ditemukan pecahan kedua dan ketiga, berupa bagian atas serta bawah prasasti, pada tahun 1923, di Desa Merjosari. Tiga desa tersebut letaknya bersebelahan sehingga tidak terpaut jauh jaraknya.

W.J. van der Meulen berpendapat, meskipun prasasti Dinoyo memakai Bahasa Sansekerta, isinya menunjukkan adanya pengaruh Bahasa Jawa Kuno. Maka itu, pemahatan prasasti Dinoyo diyakini berlangsung saat awal mula penggunaan Bahasa Sanskerta dalam tradisi Bahasa Jawa Kuno.

Prasasti Dinoyo memuat unsur penanggalan dalam candrasengkala berbunyi "nayana-vayurase" dan jika diuraikan berangka tahun 682 Saka atau 760 Masehi. Penafsiran ini memberikan petunjuk bahwa telah ada sebuah kerajaan yang berdiri di Dinoyo (Malang) pada abad ke-8 Masehi.

Isi Prasasti Dinoyo tentang peresmian bangunan suci bagi Arca Agastya yang dilaksanakan pada bulan Marggaśirsa tahun 682 Śaka (November, 760 Masehi). Prasasti Dinoyo juga mengungkapkan informasi penting terkait silsilah penguasa Kerajaan Kanjuruhan.


Silsilah penguasa Kerajaan Kanjuruhan itu dimulai dari Devasiṃha yang memiliki putera bernama Limwa. Setelah diangkat menjadi raja Kanjuruhan menggantikan ayahnya, nama Limwa berganti menjadi Gajayana. Limwa memiliki puteri bernama Uttajana yang menikah dengan Jananiya.

Merujuk pada kajian Sri Soejatmi Satari dalam "Upacara Weda di Jawa Timur: Telaah Baru Prasasti Dinoyo" yang terbit melalui Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi (Volume 27, No 1 Tahun 2009: hlm. 38), ketika Prasasti Dinoyo ditulis, Raja Gajayana sebenarnya telah wafat.

Fakta ini terlihat dari keberadaan kata "smṛtaḥ" di belakang nama Gajayana yang berarti: "seperti yang diingat orang." Selain itu, upacara penggantian arca Agastya dari kayu cendana menjadi batu hitam serta pendirian bangunan, yang tercatat di prasasti Dinoyo, dilaksanakan oleh A-nanah yang merupakan anak Uttajana, alias cucu Gajayana.

Isi lengkap Prasasti Dinoyo dan terjemahannya bisa dilihat di link ini.

Sejarah Kanjuruhan

Slamet Sujud dalam artikel bertajuk "Eksplorasi Nilai-Nilai Pendidikan Bangsa dari Sejarah Lokal Malang Mulai Zaman Prasejarah Sampai Masa Hindu-Budha Abad XI" yang terbit di Jurnal Sejarah dan Budaya UM (Volume 8, 2014: 88), menjelaskan bahwa sudah ada struktur sosial-politik yang mapan di kawasan Malang, Jawa Timur, pada abad ke-8 Masehi.

Pada saat itu, Kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin seorang raja bernama Liswa atau Limwa dengan abhisekanama (gelar) Gajayana, telah memiliki sistem pemerintahan yang tertata, serta susunan masyarakat yang teratur seperti golongan petani, punggawa, dan bangsawan.

Sementara Rully Dwi dalam "Kajian Historis tentang Candi Badut di Kabupaten Malang" yang terbit di Jurnal Pancaran (Volume 2, 2013: 204-205), memberikan penafsirannya terkait dengan isi dari Prasasti Dinoyo.


Menurut dia, Kerajaan Kanjuruhan awalnya dipimpin oleh raja bernama Dewasimha. Sepeninggal Dewasimha kerajaan tersebut dipimpin oleh anaknya Liswa dengan gelar Gajayana.

Selanjutnya, sekitar 742 hingga 755 M sepeninggal Dewasimha, Liswa (Gajayana) memindahkan ibu kota Kanjuruhan dari sebelah barat Gunung Kelud ke sebelah timur Gunung Kawi.

Rully mengutip pendapat W. J. Van der Meulen, bahwa pemindahan ibu kota Kanjuruhan berkaitan dengan serangan angin ribut (Sanjaya) yang menampar dari arah barat.

Perpindahan itu juga disebut sebagai strategi terbaik Gajayana, karena letak geografis Kanjuruhan yang berada di wilayah tumapel yang dipagari barisan gunung.

Keruntuhan dari Kanjuruhan sebenarnya bukan disebabkan invasi dari kerajaan lain, melainkan karena munculnya sebuah kerajaan baru yang dipimpin oleh keturunan Raja Mataram Kuno, yakni Balitung, Daksa, Tulodong, dan Wawa.

Balitung (898-910) saat itu memilih memusatkan kerajaan di Kediri daripada di Malang. Sejak saat itulah Kerajaan Kanjuruhan hanya sebuah kerajaan bawahan yang tidak terlalu penting.

Sementara pendapat lainnya menyatakan Kerajaan Kanjuruhan diperkirakan telah ditaklukkan oleh Mataram dan rajanya dianggap sebagai raja bawahan dengan gelar Rakai Kanuruhan (Sumadio, 2008: 127).

Nama Kanuruhan pertama kali disebutkan dalam Prasasti Wurandungan B. Prasasti berangka tahun 865 Saka tersebut menyebutkan sebuah daerah bernama Watek Kanuruhan. Pada masa Jawa Kuno, watek atau watak merupakan sebuah wilayah yang terdiri dari beberapa wanua (desa) dan dipimpin oleh seorang rakai atau rakarayān (rakryan).


Baca juga artikel terkait SEJARAH KERAJAAN atau tulisan menarik lainnya Alhidayath Parinduri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Alhidayath Parinduri
Penulis: Alhidayath Parinduri
Editor: Addi M Idhom

DarkLight