Sejarah Indonesia

Sejarah Kerajaan Aceh: Sebab Runtuhnya Kesultanan & Silsilah Raja

Oleh: Ilham Choirul Anwar - 23 Februari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Apa saja faktor penyebab keruntuhan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam?
tirto.id - Kesultanan Aceh Darussalam yang berdiri tahun 1496 Masehi tercatat dalam sejarah pernah menjadi kerajaan besar di Serambi Mekah setelah Samudera Pasai. Namun, sepeninggal Sultan Iskandar Muda (1608-1637), Kesultanan Aceh mulai menuai keruntuhan. Apa saja faktor penyebabnya?

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam menjadikan kekuatan baru di kawasan barat Nusantara. Angkatan perangnya pun tidak bisa diremehkan dan membuat bangsa-bangsa asing harus berpikir panjang sebelum untuk memasuki wilayah Aceh tanpa izin.

Wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh cukup luas, setidaknya mencakup negeri-negeri sekitar Semenanjung Malaya, termasuk Johor, Malaka, Pahang, Kedah, Perak, sampai Patani (Thailand bagian selatan). Sebagian besar Sumatera juga sudah menjadi bagian kekuasaan Kesultanan Aceh.


Kendati demikian, sebagaimana dicatat oleh sejarawan Ibnu Khaldun, suatu kerajaan mempunyai siklus yaitu masa perebutan kekuasaan, masa kejayaan, lalu masa kehancuran.

Begitu pula dengan Kesultanan Aceh yang mengalami pasang surut perkembangan dan kemunduran, seiring dengan pergantian sultan dari waktu ke waktu.

Dikutip dari Sejarah dan Dialog Peradaban (2005), pendiri Aceh Darussalam adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Era pemerintahannya pada 1514-1528 M, Kesultanan Aceh Darussalam menunjukkan eksistensi sebagai kerajaan yang kuat.

Sultan Ali Mughayat Syah melakukan perluasan wilayah ke berbagai daerah termasuk Daya dan Pasai. Bahkan, Kesultanan Aceh berpolemik dengan bangsa Portugis yang berada di Malaka dan menaklukkan pula Kerajaan Aru (pesisir timur Sumatera).

Namun, sepeninggal Sultan Ali Mughayat Syah, Kesultanan Aceh Darussalam agak goyah. Penerusnya, Sultan Salahuddin, tidak secakap sang ayah dalam mengelola pemerintahan.

Setelah itu, Sultan Salahuddin digantikan saudaranya, Sultan Alaudin Riayat Syah al Kahar. Di bawah kepemimpinan sultan baru ini, kerajaan mulai sedikit bangkit. Kesultanan Aceh mulai meluaskan wilayah.



Kejayaan di Era Sultan Iskandar Muda

Kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Dalam buku Aceh Serambi Mekkah (2008) disebutkan, saat Sultan Iskandar Muda memegang kekuasaan, Aceh merupakan pusat pendidikan dan mencapai puncak kejayaan dengan pesat.

Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh Darussalam melakukan penaklukan ke berbagai wilayah.Kesultanan Aceh juga menguasai sektor perdagangan dan punya bandar niaga yang disinggahi para saudagar dari berbagai bangsa di dunia.

Kehidupan masyarakat Aceh menjadi lebih makmur. Kesultanan Aceh menjadi pengekspor hasil bumi, misalnya beras, lada, rempah-rempah, dan lain-lain.

Sementara untuk aktivitas impor, Kesultanan Aceh mendatangkan kain dari Koromendal (India) porselen dan sutera dari Jepang dan Cina, serta minyak wangi dari Eropa maupun Timur Tengah.


Kemakmuran Kesultanan Aceh membuatnya menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa, terutama Portugis. Beberapa kali terjadi konfrontasi antara Aceh dengan Portugis yang didukung Kerajaan Johor yang ada di Semenanjung Malaya.

Portugis berambisi menaklukkan Aceh agar bisa menguasai jalur perdagangan Selat Malaka dan daerah-daerah penghasil lada.

Sultan Iskandar Muda enggan bernegosiasi dengan bangsa-bangsa Barat. Ia menolak permintaan pembelian lada yang ada di pesisir Sumatera bagian barat dari Inggris dan Belanda.

Sayangnya, Kesultanan Aceh Darussalam mulai mengalami kemunduran setelah Sultan Iskandar Muda mangkat pada 1636. Menurut laman Kemendikbud, kemunduran ini akhirnya membuat Kesultanan Aceh hancur secara perlahan.


Faktor Penyebab Runtuhnya Kesultanan Aceh

Beberapa penyebab runtuhnya Kesultanan Aceh Darussalam adalah sebagai berikut:
  1. Tidak adanya pemimpin yang cakap setelah wafatnya Sultan Iskandar Muda.
  2. Terjadi perpecahan internal antara kaum birokrat (bangsawan kerajaan) dengan kaum agama.
  3. Banyak negeri taklukan yang memisahkan diri, termasuk Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau, Siak, dan lainnya.
Melemahnya Kesultanan Aceh memberi peluang bagi Belanda untuk masuk dan menanamkan pengaruh. Menurut laman Pemprov Aceh, Belanda mulai menginvasi Kesultanan Aceh melalui Perang Sabi yang berlangsung 30 tahun lamanya sejak 26 Maret 1873.

Jatuhnya banyak korban jiwa dan tidak mampu menaungi Aceh, pemimpin terakhir kesultanan yakni Sultan Muhammad Daud Syah mengumumkan pengakuan kedaulatan Belanda atas Aceh.

Akhirnya, wilayah Kesultanan Aceh Darussalam akhirnya menjadi bagian dari Hindia Timur Belanda (Nederlansch Oost-Indie) atau pemerintah kolonial Hindia Belanda.


Daftar Sultan Aceh Darussalam

1. Sultan Ali Mughayat Syah (1514 – 1528 M)
2. Sultan Salahuddin (1528 - 1537)
3. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar (1537 - 1568)
4. Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636)
5. Sultan Iskandar Thani (1636 - 1641)
6. Sultan Sri Alam (1575-1576)
7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9. Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)


Baca juga artikel terkait KESULTANAN ACEH DARUSSALAM atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight