Sejarah Indonesia

Sejarah Candi Badut Peninggalan Kerajaan Kahuripan & Keunikannya

Penulis: Iswara N Raditya - 19 Agu 2021 07:10 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Candi Badut merupakan salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Kahuripan dan memiliki keunikan dengan candi-candi di Jawa Timur lainnya.
tirto.id - Candi Badut merupakan salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Kahuripan yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-8. Prasasti yang terletak di kawasan Tidar, di bagian barat Kota Malang ini memiliki keunikan tersendiri dengan candi-candi lain di Jawa Timur.

Pamor Candi Badut kembali mengemuka setelah klub sepak bola asal Malang, Arema FC, memperkenalkan jersey terbarunya untuk kompetisi Liga 1 Indonesia musim 2021-2022 dengan menyertakan motif corak atau relief candi ini.

Tim Singo Edan tampaknya terinspirasi dengan kejayaan masa kerajaan di Malang pada masa lampau. Jersey utama dengan motif relief Candi Badut ini dinilai tidak hanya menjadi inspirasi motivasi bagi skuad Arema FC, namun juga memberikan kedekatan emosional kepada publik Malang Raya.

Manager Bisnis Arema FC, Yusrinal Fitriandi, mengatakan, sebenarnya jersey dengan corak kebesaran sejarah sebenarnya sudah dipersiapkan sejak lama. Tujuannya adalah mengusung semangat kultural untuk sebagai inspirasi bagi tim Singo Edan.

“Ketika bicara tentang masa lampau ada banyak hal yang bisa dipelajari dan dimaknai. Terlebih ketika kita bicara tentang candi, secara filosofi tentu sangat kuat dan memiliki makna yang dalam,” ucapnya dikutip dari laman resmi Arema FC.

“Selain itu kita juga harus melihat secara wujud dari bangunan candi ini. Zaman berganti hingga ribuan tahun lalu masih tetap berdiri kokoh, kekokohan ini diharapkan menjadi sebuah inspirasi dari perjalanan Arema FC ke depan,” imbuhnya.


Sejarah Candi Badut dan Raja Gajayana

Candi Badut, sering pula ditulis Candi Badhut, ditemukan tahun 1921. Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan ini dikaitkan dengan Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 Masehi. Prasasti Dinoyo mengisahkan tentang Gajayanalingga Jagatnata atau Raja Gajayana, penguasa Kanjuruhan pada 760-789 M.

Penamaan Candi Badut diperkirakan berasal dari istilah dalam bahasa Sanskerta yakni Bha-dyut yang berkaitan dengan sorot rasi bintang. Candi juga disebut Candi Liswa ini berlokasi di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, atau kurang lebih 5 km dari Kota Malang.

Pembangunan Candi Badut diperkirakan dilakukan tahun 760 M atau pada awal pemerintahan Raja Gajayana dan dianggap sebagai candi tertua di Jawa Timur. Beberapa ahli sejarah meyakini bahwa candi ini memang dibangun di pusat pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan atas perintah Raja Gajayana.

Candi Badut dibangun jauh sebelum masa pemerintahan Airlangga (1009-1042 M), penguasa terbesar Kerajaan Kahuripan yang berpusat di Sidoarjo, dekat Surabaya. Airlangga dikenal sebagai sosok raja yang memulai pembangunan candi-candi di Jawa Timur pada abad ke-10 Masehi.

Penemuan Candi Badut yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 memperkuat dugaan bahwa candi ini, tulis Sagimun Mulus Dumadi dalam Peninggalan Sejarah Masa Perkembangan Agama-agama di Indonesia (1988), merupakan salah satu candi tertua di Jawa Timur.


Keunikan Khusus Candi Badut

Selain berusia jauh lebih tua dari candi-candi lainnya di Jawa Timur, Candi Badut yang merupakan candi bercorak Hindu peninggalan Kerajaan Kanjuruhan juga memiliki keunikan khusus atau ciri khas tersendiri.

Dikutip dari laman resmi Perpustakaan Nasional RI, salah satu keunikan Candi Badut adalah terdapat pahatan Kalamakara di ambang pintunya. Kalamakara berupa kepala dan wajah raksasa yang biasanya ditempatkan di pintu masuk candi dengan tujuan untuk mengusir roh-roh jahat.

Relief kepala raksasa yang terdapat di candi-candi Jawa Timur pada umumnya dibuat lengkap dengan rahang bawah. Namun, Kalamakara yang terdapat di Candi Badut berwujud tanpa rahang bawah, mirip dengan Kalamakara yang terdapat pada candi-candi di Jawa tengah.

Infografik SC Sejarah Candi Badut
Infografik SC Sejarah Candi Badut. tirto.id/Sabit


Selain itu, bentuk Candi Badut yang tambun lebih mirip dengan candi-candi di Jawa Tengah, sedangkan candi-candi di Jawa Timur rata-rata berbentuk lebih ramping. Relief Candi Badut yang simetris juga memiliki kemiripan dengan Candi Dieng di Jawa Tengah.

Dalam buku Sejarah Seni Budaya Daerah Jawa Timur (1977) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan disebutkan bahwa Candi Badut bentuknya mirip sekali dengan candi-candi Jawa Tengah pada masa-masa permulaan.


Antara Kanjuruhan dan Mataram Kuno

Jika merujuk kemiripannya dengan Candi Dieng, Candi Badut diduga kuat masih terpengaruh candi-candi khas peninggalan Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan yang eksis sejak abad ke-8 Masehi ini memiliki dua periode, yakni periode Jawa Tengah dan periode Jawa Timur.

Semula, Kerajaan Medang berpusat di Bhumi Mataram atau Yogyakarta, kemudian sempat pindah ke wilayah Kedu, dekat Magelang, Jawa Tengah, di bawah pemerintahan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra yang memang dikenal gemar membangun candi-candi.

Pada 929 Masehi, Kerajaan Medang atau Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok yang mengawali periode baru dengan Wangsa Isyana. Namun, bukan faktor perpindahan ini yang menjadi alasan mengapa Candi Badut mirip dengan candi-candi di Jawa Tengah.


Pengaruh Jawa Tengah yang terdapat di Candi Badut bisa terjadi lantaran diduga ada hubungan yang baik antara Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dengan Kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur dan saling mengirimkan hadiah, termasuk candi atau arca pemujaan.

Menurut versi lainnya, seperti dikutip dari "Sejarah Singkat Kecamatan Singosari dan Mengenal Tinggalan Kesejarahannya" (2018) yang ditulis Devan Firmansyah dan Febby Soesilo, Kerajaan Mataram Kuno pernah menguasai Malang, termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan.

Dari sinilah dapat ditemukan benang merah sekaligus alasan mengenai kemiripan candi-candi di Jawa Tengah era Mataram Kuno dengan Candi Badut milik Kerajaan Kanjuruhan yang membedakannya dengan candi-candi lainnya di Jawa Timur.


Baca juga artikel terkait KERAJAAN KAHURIPAN atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Addi M Idhom

DarkLight