tirto.id - Plastik adalah salah satu hal paling kontroversial di kehidupan manusia. Di satu sisi, plastik merupakan material buatan manusia yang tidak bisa diurai kembali oleh Bumi. Di sisi lain, plastik terbuat dari zat-zat yang sebetulnya berasal dari Bumi juga.
Oleh karena itu, lebih dari tiga dasawarsa silam, dalam sebuah pertunjukan komedi tunggal bertajuk "Jammin' in New York", komedian legendaris bernama George Carlin berseloroh:
"Planet ini tidak akan ke mana-mana. Kitalah yang akan pergi dari sini, dan kita tidak akan meninggalkan banyak jejak, kecuali mungkin stirofoam. Planet ini akan tetap ada jauh setelah kita pergi dan ia akan memperbaiki dirinya sendiri, membersihkan dirinya sendiri, karena itulah Bumi, sebuah sistem yang bisa melakukan itu semua secara otomatis. Udara dan air akan segar kembali, Bumi akan kembali seperti sediakala, dan apabila memang plastik tidak bisa diurai, ya, planet ini menjadikannya bagian dari dirinya dalam sebuah paradigma baru: Bumi plus plastik."
Kendati sasaran utama kritik tersebut adalah kecongkakan manusia, ucapan Carlin soal plastik makin lama makin terdengar seperti ramalan.
Plastik memang sudah jadi bagian tak terpisahkan dari Bumi. Ia, dalam wujud mikronya, bertebaran di mana-mana. Di kemasan makanan, di kotak bekal, di udara yang kita hirup, di air yang kita teguk, di air hujan, mikroplastik sudah menyatu dengan semua benda ataupun zat yang bisa dengan mudah masuk ke tubuh manusia.
Menurut studi yang diselenggarakan World Wildlife Fund, tiap pekannya, rata-rata manusia bisa mengonsumsi plastik sampai dengan 5 gram, atau setara dengan selembar kartu ATM.
Banyak Jalan Mikroplastik Menuju Tubuh Manusia
Sudah bukan hal mustahil mikroplastik masuk ke tubuh kita, lewat makanan yang kita konsumsi. Jalur yang paling populer dan sering dibahas adalah melalui hidangan laut.
Tak hanya ekosistem laut, mikroplastik telah menyusup ke sistem pertanian kita. Partikel-partikel itu bisa terbawa melalui pupuk yang berasal dari limbah padat serta mulsa plastik di perkebunan.
Banyak tanaman pangan, seperti wortel, selada, dan pohon apel, dapat menyerap partikel plastik melalui sistem perakarannya. Mikroplastik itu pada akhirnya terdistribusikan ke bagian tanaman yang kita makan.
Selain dari sumber makanan itu, proses pengolahan dan pengemasan juga berkontribusi signifikan. Mikroplastik dapat luruh dari botol air minum plastik, wadah penyimpanan makanan, hingga kantong teh celup yang kita seduh dengan air panas.
Nah, tubuh punya respons yang sama dengan Bumi ketika dihadapkan pada mikroplastik. Tubuh menganggapnya zat asing yang tidak bisa dihancurkan. Akibatnya, tubuh mengalami peradangan kronis dan stres oksidatif. Itulah kondisi yang menjadi akar dari berbagai penyakit degeneratif.
Bahaya plastik tidak hanya datang dari wujud fisiknya, tetapi juga dari unsur kimia aditif yang dibawanya, seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates, yang dikenal sebagai pengganggu endokrin. Zat-zat tersebut dapat meniru hormon alami manusia, mengacaukan metabolisme, serta mengganggu sistem reproduksi.
Bahkan, ada studi yang mengaitkan akumulasi mikroplastik di otak dengan peningkatan risiko penyakit seperti demensia. Terdapat konsentrasi plastik yang jauh lebih tinggi pada pasien dengan gangguan kognitif dibandingkan mereka yang sehat.
Berbagai temuan itu makin jelas menunjukkan betapa mustahilnya menghindar dari paparan mikroplastik. Namun, bukan berarti tidak langkah yang bisa kita lakukan.

Mungkinkah Mengatasi Bencana Mikroplastik dalam Tubuh?
Pintu masuk utama mikroplastik yang paling sering diabaikan adalah air minum. Di banyak negara maju, air keran terfilter sering kali lebih aman daripada air kemasan botol plastik karena botol plastik melepaskan ribuan partikel akibat gesekan dan degradasi material selama distribusi. Namun, di Indonesia, air keran umumnya belum layak minum sehingga tantangannya menjadi lebih kompleks.
Cara paling aman sebenarnya adalah dengan mengonsumsi air hasil filtrasi Reverse Osmosis (RO). Teknologi tersebut mampu menyaring partikel hingga skala mikron melalui mekanisme pembersihan fisik menggunakan membran semipermeabel yang sangat rapat. Dengan ukuran pori-pori membran yang mencapai sekitar 0,0001 mikron, sistem RO secara mekanis mampu memblokir mikroplastik, bahkan nanoplastik yang ukurannya masih jauh lebih besar daripada ambang batas pori-pori tersebut.
Penggunaan RO juga menghindarkan kita dari risiko terkena paparan mikroplastik dari botol plastik maupun galon.
Selain urusan air, langkah preventif harus menyentuh area dapur dan peralatan makan. Sangat disarankan untuk tidak lagi memanaskan makanan di dalam wadah plastik menggunakan microwave. Sebab, suhu tinggi dapat mempercepat peluruhan partikel dan zat kimia pengganggu hormon ke dalam asupan kita. Sebagai gantinya, penggunaan peralatan makan dan penyimpanan berbahan kaca atau baja tahan karat (stainless steel) jauh lebih aman digunakan. Kita pun perlu mewaspadai penggunaan talenan plastik, mengingat setiap gesekan pisau yang tajam dapat melepaskan fragmen mikroplastik.
Mikroplastik juga masuk ke tubuh melalui udara dalam ruangan, berasal dari serat pakaian sintetis, karpet, serta perabotan yang luruh dan menjadi bagian dari debu rumah tangga. Untuk meminimalkan risiko ini, penting untuk rutin membersihkan debu dengan penyedot debu berfilter HEPA atau mengepel dengan kain basah.
Lalu, bagaimana dengan partikel yang sudah terlanjur menyusup masuk ke dalam sistem biologis kita?
Salah satu cara paling efektif untuk membantu tubuh mengeluarkan mikroplastik adalah dengan meningkatkan asupan serat makanan secara signifikan. Serat, yang banyak ditemukan dalam sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian, bekerja layaknya sapu biologis yang sangat efisien.
Secara mekanis, serat menambah massa pada kotoran dan mempercepat waktu transit makanan di dalam usus. Makin cepat sisa-sisa makanan bergerak keluar, makin sedikit waktu mikroplastik bersentuhan dengan dinding usus. Peluangnya menembus penghalang biologis menuju aliran darah pun mengecil.
Selain itu, serat mampu mengikat partikel-partikel plastik tersebut di dalam jaring-jaringnya untuk memastikan mikroplastik tetap berada di jalur pembuangan hingga akhirnya keluar dari tubuh melalui feses.
Selain mengoptimalkan saluran pencernaan, memperkuat organ filtrasi biologis lainnya, seperti hati dan ginjal, juga tak kalah penting. Meskipun tidak berkemampuan memecah struktur polimer plastik secara langsung, organ-organ tersebut berperan vital dalam memproses dan membuang sisa bahan kimia berbahaya yang luruh dari mikroplastik. Menjaga hidrasi yang memadai, dengan air yang sudah melalui proses filtrasi ketat, membantu ginjal terus membilas racun-racun kimia plastik keluar dari sistem sirkulasi.
Memilih asupan nutrisi alami juga tak kalah krusial. Mengonsumsi makanan utuh dan segar, alih-alih makanan olahan yang disimpan lama dalam kemasan plastik, secara drastis mengurangi beban kimiawi tambahan yang harus diproses oleh hati. Makin sedikit bahan tambahan pangan sintetis dan residu plastik baru yang masuk, makin optimal kemampuan tubuh mengelola stres oksidatif serta peradangan yang dipicu oleh keberadaan partikel plastik yang sudah terlanjur bersemayam di dalam sel.
Yang terakhir adalah rajin berolahraga. Berkeringat dapat membantu tubuh melepaskan sebagian beban kimia yang menyertai paparan mikroplastik, meski bukan secara harfiah mengeluarkan mikroplastik.
Kendati plastik memang sudah jadi bagian tak terpisahkan, bukan berarti manusia tidak berkuasa atas tubuh dan hidupnya. Langkah-langkah yang diperlukan untuk menghindari, atau menyingkirkan, plastik dari tubuh pun sesungguhnya tidak sulit. Memang, perlu ada upaya lebih. Akan tetapi, apalah arti upaya tersebut jika keuntungan yang didapatkan adalah tubuh yang bersih dari paparan mikroplastik?
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































