Waspadai Mikroplastik di Dalam Garam Laut

Oleh: Widia Primastika - 6 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Lautan selama ini menampung sampah plastik. Akibatnya, ada mikroplastik di dalam garam laut.
tirto.id - “Pacaran tanpa bertengkar itu kayak makan sayur tanpa garam.” Perumpamaan tersebut menggambarkan pentingnya garam sebagai bahan yang hampir tak pernah ditinggalkan saat memasak. Tanpa garam, rasa masakan bisa menjadi hambar.

Namun, pernahkah Anda mendengar adanya campuran plastik pada beberapa produk garam laut? The Guardian pernah menulis bahwa dalam penelitian di Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, dan Amerika Serikat ditemukan adanya partikel mikroplastik yang terkandung dalam garam laut.

Mikroplastik adalah plastik dengan ukuran kurang dari 5 mm, yang merupakan hasil penguraian alami plastik baik secara fisik, kimia, maupun biologi.

Artikel The Guardian tersebut juga mencatat bahwa di Amerika Serikat, penelitian dilakukan oleh Sherri Mason bersama dengan University of Minnesota. Dalam penelitian tersebut, diketahui 12 merek garam dapur yang berbeda, seluruhnya mengandung komponen mikroplastik. Pada penelitian tersebut, 10 merek garam diantaranya merupakan garam laut.

Pada 2014, Dongqi Yang, dkk. pernah melakukan penelitian berjudul “Microplastic Pollution in Table Salts from China”. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 15 merek garam dapur dari 3 jenis garam dapur (garam laut, garam danau, dan garam pegunungan) itu, ditemukan bahwa mikroplastik pada garam laut lebih besar jika dibandingkan dengan garam danau dan garam pegunungan. Di Cina, kandungan garam laut bahkan mengandung 550–660 partikel mikroplastik per kilogram sampel.

Selain di Amerika Serikat dan Cina, penelitian tentang kandungan mikroplastik juga pernah dilakukan oleh Maria E. Iniguez, dkk di Spanyol pada tahun 2017. Dalam penelitian berjudul “Micropastics in Spanish Table Salt” itu, mereka membandingkan kandungan mikroplastik pada garam di Spanyol dan Cina. Meski kadar mikroplastik di Spanyol tak sebesar di Cina, tapi mikroplastik telah mengkontaminasi garam laut di Spanyol dengan jumlah partikel berkisar antara 50 hingga 280 partikel/kilogram.

Penelitian tentang adanya kandungan mikroplastik pada garam laut tak hanya dilakukan di Amerika Serikat, Cina, dan Spanyol. Dalam penelitian itu, garam laut di beberapa negara seperti Australia, Perancis, Jepang, Malaysia, Portugal, dan Afrika Selatan ternyata diketahui telah tercemar oleh kandungan mikroplastik.

Apa saja mikroplastik yang mencemari?

Seperti dikutip The Guardian, terdapat lebih dari 12,7 juta ton plastik dari berbagai jenis mengalir ke lautan setiap tahunnya, diantaranya polietilena (PE), polietilena tereftalat (PET), poliuretana (PU), polipropilena (PP), polimetil-metakrilat (PMMA), poliamida-6 (PA-6), dan polivinilklorida (PVC).

Dari berbagai macam jenis plastik yang ada, jenis PET menduduki peringkat kontaminan tertinggi. Ia merupakan jenis polimer termoplastik yang biasa digunakan sebagai bahan untuk botol minuman.

Forbes menulis, lebih dari 1 juta botol plastik terbeli setiap menitnya. Bahkan hingga tahun 2050 mendatang, jumlah produksi plastik di dunia diperkirakan akan bertambah hingga empat kali lipat.


Indonesia Perangi Sampah Plastik


Di Indonesia, pada bulan Maret 2018 lalu, jagat dunia maya dihebohkan dengan unggahan video seorang turis asal Inggris, Rich Horne yang menyelam di perairan Nusa Penida bersama sampah plastik. Bahkan terdapat bagian, Rich menyelam di bawah sampah-sampah plastik yang terapung.

Meski Kementerian Pariwisata sempat membantah video itu melalui akun Twitter resminya, tapi seperti dikutip BBC, salah satu pengusaha penyelaman di Nusa Penida, Andri Yusuf, mengakui jika pada sebenarnya banyak sampah plastik tersebar di lautan. Andri bahkan menyampaikan jika kondisi itu tak hanya terjadi di Bali, tapi juga di Sulawesi.

Dalam halaman resmi milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Peneliti Oseanografi Pusat Riset Kelautan KKP, Dr. Widodo Pranowo menyampaikan bahwa mikroplastik telah mencemari laut Indonesia.

“Rata-rata dekat dengan sebaran konsentrasi pemukiman penduduk, terutama di Pulau Jawa. Seperti perairan Pulau Biawak di Indramayu, Kepulauan Seribu, dan Perairan Banten,” demikian Widodo.

Selain di daerah-daerah tersebut, kondisi yang sama juga terjadi di Selat Makassar, Selat Bali, Selat Rupat, Taman Nasional Laut (TNL) Taka Bonerate Flores, TNL Bunaken, TNL Bali Barat, dan Laut Banda. Luasan cemaran mikroplastik di lautan Indonesia pun beragam, tapi cemaran terluas ada di Taman Nasional Laut Bunaken yakni 50 hingga 60 ribu partikel per kilometer persegi.

Indonesia merupakan penghasil sampah plastik urutan kedua terbesar di dunia setelah Cina. Meski begitu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berdalih sampah mikroplastik yang berada di Laut Jawa diduga berasal dari perairan lain karena sampah makroplastik dapat terdegradasi hingga ratusan tahun. Mereka juga menduga Samudera Pasifik merupakan penyumbang sampah di Laut Jawa.

Menanggapi tingginya sampah plastik di Indonesia, Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar menyampaikan saat ini pengelolaan sampah plastik menjadi prioritas kementeriannya dengan mengajak serta produsen dan konsumen dalam mengurangi jumlah sampah plastik.

“Untuk produsen saat ini kami meminta untuk membuat regulasi peta jalan pengurangan sampah untuk produsen, mempunyai baseline dan perencanaan seperti kebijakan pengurangan sekaligus daur ulang,” ujar Novrizal kepada Tirto, Senin (02/06/2018).


Namun, Novrizal mengaku bahwa saat ini pihaknya masih memiliki kesulitan untuk menekan penggunaan styrofoam, plastik sekali pakai, sedotan, botol plastik, dan kemasan saset. Di Indonesia saat ini, setiap tahunnya terdapat 2.000 ton sampah plastik. Untuk itu, KLHK mendorong pemerintah daerah agar membuat regulasi daerah soal pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Infografik Mikroplastik


Bahaya Mikroplastik


Meski ukurannya kecil, mikroplastik memiliki luas permukaan yang besar. Pakar toksikologi lingkungan dari Universitas Katolik Soegijapranata, Budi Widianarko, menjelaskan permukaan plastik merupakan tempat menempelnya berbagai senyawa pencemar organik persisten (POPs).

“Paparan terhadap mikroplastik berisiko kontaminasi POPs. Selain itu, proses pembuatan plastik juga menggunakan bahan aditif seperti plasticisers yang bersifat toksik (beracun). Terakhir, yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian para ilmuwan justru plastiknya sendiri (PP, PE, PET, poliester, nilon, dll) yang dalam ukuran renik berperan sebagai kontaminan,” kata Budi kepada Tirto melalui pesan singkat, Selasa (03/06/2018).

Meski mekanisme toksisitas mikroplastik belum terungkap secara utuh, hingga kini para ilmuwan masih mempertanyakan terkait ada tidaknya plastik renik tersebut masuk dalam organisme yang bisa dimakan manusia. Sebab, sudah ada penelitian yang menunjukkan mikroplastik dapat ditransfer melalui rantai makanan.

“Dengan ukurannya yang sangat kecil, juga ada risiko mikroplastik terserap oleh sistem pencernaan dan masuk ke peredaran darah. Tentu hal ini akan memiliki risiko kesehatan. Tapi sekali lagi, studi-studi tentang ini belum lengkap,” ungkap Budi.

Banyak perdebatan muncul lantaran belum adanya studi yang memaparkan toksisitas mikroplastik secara lengkap. Namun, bukan berarti kita bisa mengabaikannya. Sebagai puncak piramida makanan, manusia patut mempertanyakan keamanan garam yang didapat dari lautan yang tercemar.

Baca juga artikel terkait GARAM atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight