tirto.id - Senyawa kimia mikroplastik dalam udara, air, sampai wadah makanan dan minuman yang sering dipakai menjalar masuk ke organ tubuh manusia. Kandungan kimia dalam serpihan plastik atau mikroplastik disebut-sebut ratusan kali lipat lebih berbahaya dibanding logam berat yang selama ini menjadi momok kesehatan jangka panjang bagi manusia.
Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Rafika Aprilianti menjelaskan, mikroplastik adalah potongan kecil plastik berukuran kurang dari 5 milimeter.
Permukaannya mudah mengikat zat beracun di sekitarnya, seperti logam berat dan bahan kimia berbahaya lainnya. Sehingga, mikroplastik bisa 106 kali lebih beracun dibandingkan logam berat tunggal, karena membawa campuran berbagai polutan sekaligus.
Pada Februari 2025, Ecoton bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sempat menggarap penelitian yang menelisik seberapa besar senyawa kimia mikroplastik pada ibu hamil.
Studi pendahuluan dilakukan terhadap satu sampel cairan amnion dan satu sampel urin ibu hamil yang dikumpulkan secara aseptis di salah satu Puskesmas di Kabupaten Gresik. Dari hasil analisis mikroskopis, seluruh sampel terdeteksi mengandung mikroplastik.
Temuan awal menunjukkan bahwa partikel plastik mikro telah mampu menembus sistem biologis manusia yang seharusnya steril. Masuknya partikel mikroplastik dalam tubuh berpotensi memengaruhi kesehatan ibu serta perkembangan janin.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan dua sampel urin dan air ketuban pada ibu hamil terpapar 25 partikel mikroplastik. Partikel mikroplastik yang terkandung mulai dari fiber, filamen dan microbeads.
Fiber mendominasi dengan temuan 17 partikel mikroplastik. Fiber diketahui banyak berasal dari pakaian sintetis dan debu rumah tangga, sementara microbeads kerap ditemukan dalam produk kosmetik dan pembersih wajah.
Rafika menekankan bahwa sampel cairan berasal dari ibu hamil yang setiap harinya masih melakoni pekerjaan.
Fokus penelitian menelusuri kebiasaan mereka setiap harinya mengonsumsi plastik sekali pakai untuk wadah makanan dan minuman. Seturut itu, dilihat juga efek dari pembakaran sampah, termasuk sampah plastik mencemari udara yang kemudian terhirup oleh ibu hamil.
“Di Indonesia soal reproduksi terkait urin dan amnion belum pernah diteliti soal kandungan mikroplastiknya. Bayi yang belum lahir ternyata ada mikroplastik dari aktivitas ibunya,” terang Rafika kepada Tirto, Senin (27/10/2025).
Sumber Mikroplastik dalam Tubuh: Wadah Makanan Sampai Pembakaran Sampah
Kebiasaan sehari-hari semacam membeli makanan dalam kemasan plastik menjadi kebiasaan yang berujung tercemarnya tubuh dari zat beracun mikroplastik. Rafika mewanti-wanti, mikroplastik dalam berbagai wujud wadah makanan maupun minuman menjadi bahaya nyata proses transmisi atau paparan.
“Sebenarnya yang sangat berbahaya itu ketika makanan dan plastik itu digunakan sebagai wadah makanan dan minuman panas. Ditambah kalau wadah plastik tadi dipanaskan di microwave. Lalu ada juga, [misal] lontong yang dibungkus plastik itu juga berbahaya,” jelas Rafika.
Rafika menuturkan kalau palstik rentan terhadap panas karena sifatnya yang lebih cepat terdegradasi karena senyawa kimianya lepas. Dia juga menyebut penggunaan wadah seperti styrofoam yang tak kalah berbahaya.
“Dan styrofoam juga berbahaya karena mikroplastik tak kalah masifnya yang dapat ganggu hormon dan pemicu kanker,” ia menambahkan.

Aktivitas pembakaran sampah juga disebut Rafika menjadi pemicu paparan mikroplastik. Hal ini ditemukan dari sampel yang sempat Ecoton ujikan.
Dia mengingatkan bahwa pengelolaan sampah di Indonesia belum berjalan baik. Sebagian besar sampah masih dibakar atau dibuang ke lingkungan. Dari aktivitas semacam itu, mikroplastik menjamur mencemari lingkungan dan tubuh manusia.
Dari data yang dihitung Ecoton, penyumbang terbesar yaitu 50 persen mikroplastik di udara karena pembakaran sampah dan terhirup oleh orang di sekitarnya. Rafika menjelaskan soal sampah rumah tangga biasanya dibakar dan sampah plastik rentan terkena panas.
Saat sampah terbakar, maka bakal terpecah dan sampai jadi serpihan kecil yang disebut mikroplastik. “Selain menjadi mikroplastik, karena selain pembakaran sampah tidak sempurna, itu akan menghasilkan zat dioksin yang berdampak buruk bagi tubuh dan pada derajat tertentu berujung penyakit kanker juga,” ujar Rafika.
Secara teori, ujarnya, senyawa plastik tersusun dari 16 ribu senyawa kimia. Sifatnya akan tetap sama, sementara kandungan senyawa kimianya ketika bertransformasi menjadi serpihan mikroplastik.
Nantinya, mikroplastik yang menjelma senyawa kimia beracun karena bercampur dengan partikel lain. “Dan 38 persen itu [dari cemaran mikroplastik] mengganggu hormon, bisa menyebabkan inflamasi juga pada tubuh,” ujar dia.
“Plastik juga bisa mengikat sebagai vektor sebagai pengikat polutan yang ada di sekitarnya. Jadi mikroplastik itu dapat mengikat polutan di sekitarnya dan lebih berbahaya dari senyawa tunggal dan 100 kali lebih berbahaya,” imbuhnya.
Risiko Kesehatan Ibu Hamil dan Bayi Karena Mikroplastik
Terkait risiko kesehatan ibu dan bayi di dalam kandung, Rafika menekankan penelitian yang ada, akan berkembang menjadi studi kohort demi mengkaji hubungan antara kadar mikroplastik dengan kondisi kesehatan ibu hamil, seperti anemia (darah rendah) dan diabetes melitus gestasional, serta indikator kesehatan bayi baru lahir seperti berat badan lahir rendah.
“Hasilnya diharapkan dapat mengungkap potensi keterkaitan paparan mikroplastik terhadap risiko stunting pada anak,” kata dia.
Sejalan dengan penelitian terhadap ibu hamil, Ecoton dan FK Unair juga sedang menggarap penelitian paparan mikroplastik pada pemulung di Gresik. Persisnya, terdapat 34 sampel, dengan delapan sampel diantaranya adalah sample kontrol yang memang bukan pekerja pemulung.
Logika yang dibangun peneliti adalah, jika ibu hamil yang tidak setiap hari berurusan dengan plastik secara langsung bisa terpapar, maka hasil lebih representatif paparan mikroplastik kemungkinan terekam pada pekerja yang saban hari bergumul dengan sampah plastik.
“Nanti akan dilihat bagaimana perbedaannya. Untuk saat ini hasil sampel itu belum ada secara menyeluruh karena uji labnya di Korea Selatan karena keterbatasan alat di Indonesia untuk uji senyawa plastik,” terang Rafika.
Peneliti oseanografi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, mewanti-wanti soal pembakaran sampah plastik secara terbuka. Aktivitas ini, katanya, menghasilkan plastik dengan fragmen kecil berukuran mikro dan nano.
Plastik ini semakin kecil semakin ringan, mudah terbawa angin, dan bisa terhirup oleh manusia. Jika paparan terjadi terus-menerus, efeknya bisa menurunkan kualitas udara dan memperburuk kesehatan pernapasan masyarakat.
“Kalau ada angin, ini malah bisa terbang ke atmosfer hingga 15 kilometer. Tapi karena ukurannya jauh lebih kecil dari debu biasa, mikroplastik dapat menembus sistem pernapasan hingga paru-paru, menyebabkan iritasi, peradangan, dan stres oksidatif. Kalau sudah ada di udara, mikroplastik juga membawa bahan kimia berbahaya seperti logam berat, pelunak, dan zat aditif lain dari proses pembuatan plastik,” kata Reza kepada Tirto, Senin (27/10).
Ihwal pelepasan mikroplastik pada wadah makanan dan minuman serba plastik sekali pakai, Reza menekankan secara ilmiah mikroplastik dapat lepas dari kemasan sekali pakai atau styrofoam karena kombinasi panas, minyak, dan gesekan mekanis. Saat makanan panas seperti bakso atau gorengan ditempatkan langsung di wadah plastik atau styrofoam, suhu tinggi berkisar di atas 60-80 derajat celcius membuat struktur polimer menjadi tidak stabil.
“Ikatan kimia di permukaan plastik mulai melonggar, menyebabkan fragmen kecil dan aditif kimia (seperti stirena, ftalat, atau BPA) terlepas dan berpindah ke makanan. Nah, adanya minyak itu juga mempercepat proses ini karena banyak bahan kimia dalam plastik bersifat larut lemak," terang Reza.
"Akhirnya plastik ukuran kecil bisa masuk ke sistem pencernaan. Dalam jangka panjang, akumulasi partikel ini berpotensi menyebabkan stres oksidatif dan peradangan pada jaringan tubuh, sementara bahan adiktif atau zat kimia yang ikut terbawa dapat mengganggu sistem hormon dan metabolisme,” ia menambahkan.
Jakarta dan Kota Besa Indonesia Dipenuhi Partikel Mikroplastik
Mengingat penggunaan plastik kian umum di masyarakat, bahaya mikroplastik ini dapat menimpa siapa saja. Rafika, Peneliti Ecoton, menegaskan hal ini. Sebab, senyawa kimia mikroplastik bak menemani manusia pada setiap langkah aktivitasnya, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan.
“Ecoton pernah melakukan penelitian tentang mikroplastik versus manusia di 18 kota/kabupaten seluruh Indonesia. Semuanya mengandung mikroplastik dan salah satu senyawa kimia penyumbang terbesar adalah senyawa kimia dari kemasan saset dari makanan dan minuman.” kata dia.
“Dan pada penelitian kandungan senyawa kimia di udara di belasan kota atau kabupaten tersebut, Jakarta paling banyak terkontaminasi mikroplastik udaranya. Semua masif terkontaminasi mikroplastik karena sifatnya yang ringan dan bisa menyebar luas,” ia menambahkan.
Riset terakhir yang dia maksud mengungkap bahwa udara di kota-kota besar Indonesia kini dipenuhi partikel mikroplastik dalam jumlah tinggi dan mengkhawatirkan. Pemantauan di 18 kota pada Mei–Juli 2025 mencatat Jakarta Pusat sebagai lokasi tertinggi dengan jumlah 37 partikel mikroplastik dalam 2 jam, disusul Jakarta Selatan 15 partikel dalam 2 jam. Sementara Malang dan Bulukumba mencatat kadar terendah dengan jumlah 2 partikel dalam 2 jam.
Sumber utama pelepasan mikroplastik berasal dari aktivitas padat manusia: lalu lintas, industri tekstil, dan konsumsi harian. Mayoritas partikel berbentuk fragmen (53.26 persen), fiber (46.14 persen) dan film (0.6 persen). Ketiga partikel itu berasal dari kemasan sekali pakai, pakaian sintetis, botol plastik, jaring ikan, dan tali nilon.
Analisis menunjukkan adanya berbagai polimer seperti PET, PBT, nilon, PE, PP, BPA resin, PTFE, dan polyisobutylene dari abrasi ban kendaraan. Temuan ini lantas menegaskan bahwa mikroplastik udara bersumber dari berbagai aktivitas—mulai rumah tangga hingga industri dan transportasi—dan kini menjadi bagian dari udara yang kita hirup setiap hari.
Dari belasan kota atau kabupaten yang diuji, terdapat 12 wilayah yang tembus dua digit partikel mikroplastiknya. Selain Jakarta, ada Bandung, Semarang, Kupang, Denpasar, Jambi, Surabaya, Palembang, Pontianak, Aceh Utara dan Sumbawa Utara. Dari setiap wilayah yang terpapar, identifikasi mikroplastik berkutat pada tiga partikel: fiber, filamen dan microbeads.
Misal di Jakarta, jumlah mikroplastik tertinggi yang ditemukan di Jakarta Pusat, sebesar 37 partikel dalam 2 jam. Nilai ini dihitung dari jumlah partikel yang tertangkap oleh alat penangkap udara pasif. Titik-titik sampling di antaranya seperti di Pasar Tanah Abang, yang berstatus pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara, dengan intensitas lalu lintas kendaraan bermotor yang luar biasa tinggi, baik kendaraan pribadi, angkutan umum, maupun kendaraan logistik.
Masih merujuk data, pembakaran plastik menjadi sumber mikroplastik dari 18 kota yang diuji paparannya. Sedangkan sektor transportasi menyumbang 33 persen disusul kegiatan laundry dan tumpukan sampah kemasan yang tak terkelola.
“Aktivitas bongkar muat barang, penggunaan plastik sekali pakai dalam kemasan, dan interaksi ribuan orang setiap hari menciptakan kondisi ideal untuk pelepasan mikroplastik ke udara,” petikan laporan dikutip Tirto.
Penulis: Rohman Wibowo
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id
































