Menuju konten utama

Ruwat Bumi Guci, Simbol Kolaborasi Budaya & Wisata Berkelanjutan

Bukan cuma seru, atraksi budaya Ruwat Bumi Guci juga menyentuh, karena bermuatan edukasi pentingnya menjaga tradisi dan alam sekitar.

Ruwat Bumi Guci, Simbol Kolaborasi Budaya & Wisata Berkelanjutan
Ribuan warga padati kawasan wisata Guci dalam gelaran Ruwat Bumi 2025. Tradisi tahunan ini menjadi daya tarik wisata sekaligus bentuk pelestarian budaya dan lingkungan, Guci, Kabupaten Tegal. FOTO/itsma / tegalterkini.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hujan tak menyurutkan antusias ribuan warga untuk berkumpul mengikuti tradisi tahunan Ruwat Bumi Guci di kawasan wisata Guci, Dukuh Pekandangan, Desa Rembul, Desa Guci, Kabupaten Tegal pada Rabu, 2 Juli 2025.

Atraksi budaya ini bahkan menarik perhatian wisatawan dari luar kota untuk menyaksikan rangkaian acara yang sarat makna spiritual dan budaya tersebut.

Tak sekadar prosesi adat, Ruwat Bumi Guci tahun ini jadi simpul kolaborasi. Masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha menyatukan energi untuk menjaga kelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

Salah satu warga yang turut mengikuti jalannya Ruwat Bumi Guci, Riska Awalina, mengatakan bangga dapat ikut menyaksikan dan menjadi bagian dari tradisi tersebut.

“Setiap tahun saya selalu sempatkan datang. Rasanya berbeda, bukan cuma seru tapi juga menyentuh karena kita disadarkan betapa pentingnya menjaga tradisi dan alam sekitar,” ujarnya.

Menurutnya, selain untuk berwisata acara seperti ini juga mempererat hubungan antarwarga dan menghidupkan suasana Guci secara keseluruhan.

“Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga pengingat bahwa kita punya warisan budaya yang luar biasa,” pungkasnya.

Kepala Dinas Porapar Kabupaten Tegal, Ahmad Uwes Qowroni, menyampaikan bahwa tradisi ini merupakan bentuk silaturahmi antara manusia, alam, dan budaya.

“Lewat kegiatan ini, kita belajar bahwa menjaga lingkungan wisata tidak hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh warga,” ungkapnya.

Ruwat Bumi 2025

Ribuan warga padati kawasan wisata Guci dalam gelaran Ruwat Bumi 2025. Tradisi tahunan ini menjadi daya tarik wisata sekaligus bentuk pelestarian budaya dan lingkungan, Guci, Kabupaten Tegal. FOTO/itsma / tegalterkini.id

Rangkaian prosesi dimulai dari pementasan seni budaya di dua desa, dilanjutkan kirab gunungan hasil bumi, serta prosesi memandikan kambing kendit di Pancuran 13.

Ritual sakral itu turut diikuti oleh Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, bersama jajaran Forkopimda dan Forkopimcam.

Bupati Tegal dalam sambutannya menyebutkan, tradisi ini bukan hanya agenda budaya tahunan, tapi juga motor penggerak ekonomi kawasan wisata Guci.

“Ruwat Bumi Guci mampu meningkatkan daya tarik wisata dan mendongkrak ekonomi UMKM di sekitar,” ujarnya.

Malam sebelum puncak acara, digelar juga doa bersama dan pengambilan air suci oleh pelaku usaha, disusul pementasan ronggeng dan penanaman pohon di kaki Gunung Slamet. Kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata komitmen pelestarian lingkungan.

Tradisi ditutup dengan doa dan rebutan gunungan hasil bumi yang sebelumnya ditempatkan di panggung utama. Warga dan wisatawan berebut aneka hasil panen seperti palawija, buah, dan sayuran sebagai simbol berkah dan harapan kesuburan.

Baca juga artikel terkait TRADISI atau tulisan lainnya dari Tegalterkini.id

tirto.id - Flash News
Kontributor: Tegalterkini.id
Penulis: Tegalterkini.id
Editor: Siti Fatimah