tirto.id - Ratusan nelayan dan warga pesisir Kota Tegal kembali menggelar tradisi sedekah laut pada Senin (7/7/2025). Upacara ini merupakan bentuk syukur atas limpahan hasil tangkapan sekaligus permohonan keselamatan selama melaut.
Sejak pagi hari, prosesi larung sesaji hingga penguburan kepala kerbau ke tengah laut berlangsung khidmat. Atraksi budaya pun disertai pawai kapal dan pentas kesenian rakyat.
Ketua Panitia Sedekah Laut, Rakiman, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan sarat nilai spiritual yang diyakini membawa berkah bagi nelayan.
“Tradisi ini sudah turun-temurun. Kami percaya, sedekah laut bisa memperlancar rezeki. Ini bentuk syukur kami atas nikmat dari laut,” tuturnya.
Sedekah laut bukan hanya agenda tahunan, tetapi juga momentum penting untuk merefleksikan berbagai persoalan yang dihadapi komunitas nelayan, mulai dari ketergantungan pada laut, minimnya infrastruktur, hingga tantangan keselamatan di pelabuhan yang makin padat.
Turut hadir dalam kegiatan ini, Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono. Dia menyatakan apresiasinya atas kekompakan masyarakat dalam menjaga warisan budaya bahari. Namun, ia turut menyoroti persoalan serius yang selama ini membayangi aktivitas pelabuhan.
“Saya mengingatkan kembali, baru saja terjadi dua insiden yang cukup mengkhawatirkan. Tanggal 20 Juni lalu ada 16 motor terbakar, lalu kemarin (6/7/2025) kapal ikut terbakar. Ini menunjukkan bahwa pelabuhan kita sudah sangat padat dan tidak aman,” ujarnya.
Menurut Dedy Yon, Pelabuhan Tegal yang luasnya hanya 17,2 hektare sebenarnya dirancang untuk menampung maksimal 300 kapal. Namun dalam kenyataannya, jumlah kapal yang bersandar bisa empat kali lipat dari kapasitas.
“Sekarang jumlah kapal bisa tembus 800 sampai 1.200 unit. Ini tidak ideal. Kita sudah ajukan ke pemerintah pusat agar pembangunan pelabuhan baru segera dilakukan,” tegasnya.
Penulis: Tegalterkini.id
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































