Menuju konten utama
Horizon

Ruwahan Apem Jelang Ramadhan di Sosromenduran, Yogyakarta

Kata "apem" diyakini berasal dari bahasa Arab, yakni "afwan” yang artinya “maaf/pengampunan”. Maka, kue apem menjadi penganan utama dalam tradisi ini.   

Ruwahan Apem Jelang Ramadhan di Sosromenduran, Yogyakarta
Kirab gunungan dalam gelaran Ruwahan Apem di jalan Sosrowijayan, Kelurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta, pada Jumat (21/2/2025). Foto/Siti Fatimah.

tirto.id - Ruwahan Apem adalah salah satu hajat besar yang digelar oleh warga Kelurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Pelaksanaannya digelar tiap bulan Syakban atau Ruwah dalam penanggalan Jawa. Masyarakat mengusung gunungan apem untuk kemudian dirayah atau dijarah bersama-sama.

Pada Jumat (21/2/2025) pagi, Ibu-ibu dari 54 berkumpul menjajarkan diri di Jalan Sosrowijayan. Mereka mengaduk campuran tepung beras yang telah diinapkan semalaman untuk dibuat apem.

Bagi warga Sosromenduran, apem memang tidak dipandang sebagai kue biasa. Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Sosromenduran, Sigit Apriyanto, menjelaskan bahwa apem berasal dari bahasa Arab, yakni "afwan” yang artinya “maaf atau pengampunan”.

“Kita mohon ampun agar kesalahan kita diampuni. Baik oleh sesama maupun Allah SWT,” ujar Sigit di lokasi Ruwahan Apem, Jalan Sosromenduran, Jumat sore.

Menurut Sigit, dalam tradisi Jawa, Ruwah dikaitkan dengan kata "arwah". Waktunya bertepatan dengan bulan Syakban dalam penanggalan Hijriah. Menjelang Ramadhan, masyarakat biasanya memang mendoakan para leluhur yang tidah mendahului (arwah).

Selain apem, warga Sosromenduran juga membuat sesaji lainnya, yaitu ketan dan kolak. Ketan juga dimaknai dari dari bahasa Arab “khotoan” yang artinya kesalahan. Sementara kolak diambil dari bahasa Arab “khaliq” yang artinya Sang Pencipta.

“Sebelum memasuki bulan Ramadhan yang merupakan bulan penuh keberkahan, penuh ampunan, dan doa-doa dikabulkan, kita berharap hubungan antara manusia dengan manusia ketika bermuamalah bisa diampuni, saling memaafkan,” kata Sigit.

“[Sementara] kolak [yang diambil] dari kata ‘khaliq’ artinya pencipta. Maka kita sebagai hamba diharapkan pada bulan Ramadhan agar kita menambah takwa. Segera kita mendekatkan diri ke Allah SWT,” imbuhnya.

Ruwahan Apem

Raqila bahagia mendapat banyak apem saat rayahan gunungan dalam gelaran Ruwahan Apem di jalan Sosrowijayan, Kelurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta, pada Jumat (21/2/2025). Foto/Siti Fatimah.

Merayah Berkah

Gunungan yang diarak dalam Ruwahan Apem Sosromenduran dipandang sebagai berkah oleh warga. Selain itu, juga menyebar kebahagiaan, lantaran mereka dapat berkumpul dan bersilaturahmi guna mengakrabkan diri. Oleh sebab itu, hajatan ini diikuti oleh semua kalangan, baik tua maupun muda.

Salah seorang yang berbahagia karena berhasil ngerayah adalah Raqila. Bocah sembilan tahun itu bersiap di muka paling depan di antara warga yang hendak berebut gunungan. Dia kemudian gesit berlari dan menyelipkan diri untuk ngeramban apem yang disusun pada gunungan.

“Senang sekali, dapat banyak,” kata Raqila pada Tirto.

Warga yang lain, bernama Anis Ngadiarti, juga berhasil mencangking apem untuk dibawa pulang. Perempuan 51 tahun itu mengaku selalu datang tiap Ruwahan Apem.

“Senang aja dapat apem, ikut merayah karena ikut-ikutan,” kata dia.

Anis berharap, dengan silaturahmi yang dilakukannya saat Ruwahan Apem dapat memberikan berkah dan rezeki.

Berharap Agar Sosrowijayan jadi Sentra Apem

Antusiasme warga Sosromenduran dalam Ruwahan Apem menumbuhkan cita-cita, agar warga nantinya dapat menjadikan Jalan Sosrowijayan di kelurahan tersebut sebagai sentra apem. Plt Lurah Sosromenduran, Hendy Setiawan, mengatakan saat ini apem dikenal sebagai salah satu hidangan sesaji yang ternyata mengandung makna tuntunan ajaran Islam.

“Apem, ketan, dan kolak, berangkat dari konsep agama Islam. Itu kami kejar. Jangan hanya membuat saat Ruwahan, buat dong sepanjang tahun. Ini kerja yang kami kejar bahwa ini dapat menjadi andalan untuk meningkatkan perekonomian dan menjadi daya tarik baru di wilayah kami,” ujar Hendy diwawancarai di kantornya, Jumat sore.

Hendy mengatakan, berangkat dari apem, Kelurahan Sosromenduran mulai mencari cara agar Jalan Sosrowijayan dapat menjadi sentra kuliner.

“Kami berharap, makanan tradisional yang ada di dalam proses Ruwahan bukan hanya jadi makanan tradisi yang hanya dibuat di hari-hari tertentu. Kami ingin, tapi masih dalam tahap cita-cita,” kata dia.

Ruwahan Apem

Rayahan gunungan dalam gelaran Ruwahan Apem di jalan Sosrowijayan, Kelurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta, pada Jumat (21/2/2025). Foto/Siti Fatimah.

Dalam upaya mewujudkan Jalan Sosrowijayan sebagai sentra apem, Kelurahan Sosromenduran menjalin kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Untuk melakukan pelatihan pada masyarakat cara membuat apem yang setidaknya tahan untuk beberapa hari ke depan,” ungkapnya.

Hendy membeberkan, tujuannya untuk meningkatkan jumlah wisatawan di Kota Yogyakarta. Selain itu, juga meningkatkan perekonomian warganya.

“Karena jika ini ditujukan untuk meningkatkan jumlah wisatawan, berarti tujuannya apem bisa dibawa pulang ke daerah asal wisatawan dan cukup layak dikonsumsi. Ini masih jadi PR buat kami. Karena selama ini apem dibuat hari itu dan harus dimakan di hari itu juga,” jelasnya.

“[Sementara] kalau dilakukan pemanasan ulang cita rasanya berbeda,” imbuhnya.

Bertepatan pula, kata Hendy, Ruwahan Apem mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta yang menggelar Sarkemfest.

“Kolaborasi kami sudah lima tahun. Pelaksanaannya selalu mengikuti Ruwahan Apem yang penanggalannya kalau dihitung dengan Masehi maju terus sebelas hari,” bebernya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko, mengatakan Ruwahan Apem merupakan kearifan lokal. Sehingga penting bagi pemrintah untuk mendukung kegiatan tersebut.

“Kearifan lokal yang sudah ada di Sosrowijayan dan Pasar Kembang, yaitu Ruwahan Apem itu kami akomodasi dan kami gabungkan dengan seni,” kata Wahyu.

“Harapan kami, semua daya tarik sekecil apa pun yang dimiliki Kota Yogyakarta yang berdasar dari kearifan lokal, kami perbesar dengan menyelenggarakan event. Harapannya bisa menambah daya tarik pariwisata Kota Yogyakarta,” tandasnya.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2025 atau tulisan lainnya dari Siti Fatimah

tirto.id - News
Kontributor: Siti Fatimah
Penulis: Siti Fatimah
Editor: Irfan Teguh Pribadi