Menuju konten utama
Mozaik

Tradisi Dandangan Jelang Ramadhan, Jejak Dakwah Sunan Kudus

Tradisi yang telah berusia ratusan tahun ini tetap dilestarikan setiap kali menyambut Ramadhan. Kini bahkan berkembang menjadi festival. 

Tradisi Dandangan Jelang Ramadhan, Jejak Dakwah Sunan Kudus
Header Mozaik Tradisi Dandangan Peninggalan Sunan Kudus. tirto.id/Fuad

tirto.id - Sekali waktu menjelang senja, di tengah hamparan langit yang mulai jingga, kota Kudus dipenuhi gelombang manusia yang bergerak menuju satu titik: Masjid Menara Kudus. Masjid yang megah dengan arsitektur unik ini menjadi saksi bisu dari sejarah panjang penyebaran agama Islam di Tanah Jawa.

Hari itu, Masjid Menara Kudus bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga pusat kebersamaan, semangat, dan kekuatan spiritual masyarakat dalam menyambut bulan Ramadhan.

Suasana sudah terasa begitu hidup sejak pagi hari. Para pedagang mulai berdatangan, membuka sejumlah lapak di sekitar masjid. Aroma rempah-rempah, kue tradisional, dan minuman hangat memenuhi udara.

Suara tawa dan obrolan riang terdengar dari segala penjuru. Warna-warni pakaian tradisional Jawa, seperti kebaya dan sarung, menambah keindahan panorama ini. Saat matahari mulai turun, kerumunan massa semakin padat. Mereka datang dari berbagai pelosok Kudus dan sekitarnya untuk berkumpul di area masjid.

“Dang! Dang! Dang!” bunyi beduk dari arah menara menggema.

Lantas dilanjutkan dengan tabuhan kedua yang menjadi penanda bahwa awal Ramadhan sudah dimulai. Seketika, sorak sorai dan takbir menggema di seluruh penjuru masjid. Suara itu seperti gelombang yang menyebar, membangkitkan semangat dan kebahagiaan di hati setiap orang.

Malam makin larut ketika pasar malam di sekitar masjid kian dipenuhi pengunjung. Tradisi ini merupakan festival besar yang sudah berjalan berhari-hari jelang awal Ramadhan. Padahal sekitar lima abad silam, tradisi ini dilakukan dengan sederhana oleh para santri dan Sunan Kudus yang memberikan tausiah usai beduk ditabuh untuk kedua kalinya.

Jejak Dakwah Sunan Kudus

Bulan Ramadhan di mana seluruh kaum muslimin diwajibkan berpuasa, kedatangannya selalu dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Umat Islam di Indonesia biasanya menyambut bulan Ramadhan dengan tradisi-tradisi unik yang beragam di masing-masing daerah, seperti Nyorog di Jakarta, Cucurak di Jawa Barat, Padusan di Yogyakarta, Marpangir di Sumatra Utara, Malamang di Sumatra Barat, Meugang di Aceh, Mattunu Solong di Sulawesi Barat, Megibung di Bali, dan Balimau di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.

Setiap tradisi memiliki makna yang beragam, seperti berdoa, saling memaafkan, dan mempererat silaturahmi.

Di Kudus, Jawa Tengah, salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga kini dikenal dengan istilah Dandangan. Tradisi ini bermula saat Sunan Kudus, yang bernama asli Syaikh Ja’far Shodiq, menentukan awal Ramadhan pada awal abad ke-16.

Tradisi Dandangan Kudus

Kegiatan visualisasi tradisi Dandangan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto/https://jatengprov.go.id/

Kudus berjarak sekitar 25 km dari Demak, kota pertama yang berdiri sebagai Kerajaan Islam di Jawa. Demak dipimpin oleh Sultan yang terkenal, Raden Patah. Banyak wali, termasuk Wali Songo, yang berperan besar dalam dakwah Islam di kedua wilayah ini.

Menurut Gus Mus dalam Koridor: Renungan A. Mustofa Bisri (2010:44), Kudus kerap diidentikkan sebagai sebuah komunitas yang lekat dengan basis sosial santri-Muslim dan kota yang memiliki ciri khas sosial-ekonomi yang khas, seperti rokok, soto, jenang, dan produk bordir.

Salah satu tokoh pentingnya ialah Sunan Kudus, salah satu adipati sekaligus murid yang mengabdi ke Kerajaan Demak. Ia juga termasuk anggota Wali Songo yang sangat berpengaruh dalam menyebarkan Islam di Kudus dan sekitarnya.

Gus Mus lantas mengutip dua sejarawan Belanda, H.J. De Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud yang menulis buku Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa (1974). Menurut mereka, awal mula Sunan Kudus mendirikan kota Kudus setelah ia keluar dari Demak karena berbeda pendapat dalam menentukan awal bulan puasa dengan Sultan Demak.

Dalam berdakwah, Sunan Kudus mendekati tradisi lokal dan mengintegrasikan elemen-elemen budaya sehingga Islam dapat diterima lebih mudah oleh masyarakat. Pendekatan ini dikenal sebagai metode akulturasi budaya, yang menjadi salah satu kunci keberhasilan penyebaran Islam di Jawa.

Masjid Menara Kudus, yang dikenal juga sebagai Masjid al-Aqsa, dibangun Sunan Kudus pada 1549 Masehi atau 956 Hijriah. Arsitektur menara di masjid ini menyerupai candi Hindu, simbol penghormatan terhadap budaya lokal yang sudah ada sebelumnya.

Akulturasi yang dijalankan Sunan Kudus seperti melarang penyembelihan sapi, yang merupakan hewan yang dihormati dalam agama Hindu, berhasil menarik banyak masyarakat untuk memeluk Islam tanpa merasa terpaksa atau terasing dari akar budaya mereka.

Selain dikenal sebagai sosok yang sangat dihormati, Sunan Kudus juga diakui keilmuannya, terutama dalam bidang fikih (hukum Islam) dan falaq (astronomi). Keahliannya dalam penanggalan Islam menjadikannya figur yang dipercaya oleh masyarakat dalam menetapkan awal bulan Ramadhan yang akhirnya dikenal dengan tradisi Dandangan.

Tradisi Dandangan Kudus

Kegiatan visualisasi tradisi Dandangan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang diramaikan dengan pasar malam selama menjelang datangnya puasa Ramadan. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Dandangan, Dulu dan Kini

Dandangan diambil dari “ndang”, bunyi yang keluar saat beduk dipukul. “Ndang” juga diasumsikan dalam bahasa Jawa dengan “cepat”, yang berarti agar menyegerakan persiapan makan sahur untuk memulai puasa esok hari.

Pada masa lampau, menjelang Ramadhan, masyarakat dari berbagai penjuru akan berkumpul di sekitar Masjid Menara Kudus untuk menantikan pengumuman resmi dari Sunan Kudus mengenai penetapan tanggal 1 Ramadhan.

Kiwari, saat tradisi ini digelar dan masyarakat berduyun-duyun untuk berkumpul, para pedagang memanfaatkannya untuk berjualan. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat setempat, tapi juga simbol solidaritas dan kebersamaan dalam menyambut Ramadhan.

Dandangan, sebagai sebuah tradisi, tidak hanya memiliki makna historis, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial dan spiritual yang terus dijaga hingga saat ini. Tradisi ini mencerminkan bagaimana agama dan budaya dapat berpadu secara harmonis, menciptakan sebuah identitas yang khas bagi masyarakat Kudus.

Seturut Erik Aditia Ismaya dkk dalam studinya yang diterbitkan Universitas Muria Kudus, tradisi Dandangan bagi masyarakat Kudus merupakan sebuah momentum bangkitnya perekonomian kelas menengah bawah.

“Para pedagang itu tidak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga dari berbagai daerah sekitar Kudus, bahkan dari Jawa Barat dan Jawa Timur,” sambung Erik.

Tradisi Dandnagan tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan peran Sunan Kudus. Juga menjadi daya tarik wisata budaya dan religi bagi para pengunjung yang ingin menyaksikan langsung prosesi ini.

Tahun 2025, Dandangan digelar pada 19-28 Februari di sepanjang Jalan Sunan Kudus hingga Alun-alun Kudus. Dimeriahkan dengan berbagai festival budaya, pertunjukan seni tradisional, car free night, stan kuliner berbagai UMKM, hingga kirab dan pawai akbar.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2025 atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - News
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi