Menuju konten utama

Tradisi Ngejot, Berbagi Berkah Antarumat Beragama di Bali

Tradisi ngejot, menjadi salah satu ciri khas di Bali untuk berbagi makanan baik ketika Iduladha maupun Galungan.

Tradisi Ngejot, Berbagi Berkah Antarumat Beragama di Bali
Besek yang berisikan daging sapi atau kambing yang diberikan ketika ngejot, Denpasar, Jumat (06/06/2025). Tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pagi hari, Jumat (6/6/2025), terdengar lantunan doa dari masjid-masjid yang ada di seluruh Indonesia, sebab Iduladha sudah tiba. Selepas menggelar Salat Ied, proses pemotongan daging kurban lantas dimulai dengan hewan-hewan kurban diarak ke tempat penjagalan.

Ratusan hewan ternak melewati tahapan, mulai dari penyembelihan, pembersihan, pemotongan, hingga pengemasan menjadi paket-paket kurban. Tidak ada kesan ngeri dalam proses penyembelihan tersebut.

Iduladha memang identik dengan kepatuhan dan pengorbanan, berkaca dari kisah Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan putranya. Sebelum Ismail, putra Nabi Ibrahim, dikurbankan, Allah menggantikannya dengan domba. Kejadian tersebut lantas diperingati dengan penyembelihan hewan ternak setiap tahunnya.

Hari Raya Iduladha yang penuh makna ini lantas dibalut lagi dengan lebih hangat oleh pemeluk agama Islam di Pulau Dewata. Hidup di tanah yang sebagian besar penduduknya menganut Hindu, umat Islam memutuskan untuk merangkul agama-agama lainnya dalam perayaan Iduladha. Mereka saling berbagi berkah dengan tradisi yang disebut ngejot.

Ngejot berarti memberi. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Bali untuk membagikan makanan kepada sesama sebagai bentuk persaudaraan dan kerukunan antara umat beragama.

Dalam hari raya besar, seperti Galungan dan Iduladha, masyarakat mengantarkan makanan kepada sanak saudara atau tetangga terdekat. Kebiasaan ini membentuk siklus saling memberi antara masyarakat yang seagama maupun beda agama.

Tradisi ngejot memiliki akar di abad ke-15, ketika Ida Dalem Waturenggong atau yang dikenal sebagai Raja Bali ke-4 memimpin. Saat itu, sang raja mengajak umat Islam dari Blambangan, Jawa Timur, ke Kampung Gelgel yang terletak di Kabupaten Klungkung. Para pemeluk agama Islam itu lantas berkembang dan hidup berdampingan dengan pemeluk agama Hindu.

Panitia Qurban DPW LDII Bali

Masyarakat di sekitar Kantor DPW LDII Bali saling bahu membahu untuk mengolah kurban. Nantinya kurban ini akan dibagikan dengan cara ngejot ke rumah-rumah warga sekitar, Denpasar, Jumat (06/06/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

“Dalam Islam ada ukhuwah wathaniyah sebagai sama-sama bangsa Indonesia, sebagai anggota masyarakat. Sementara di Bali ada menyama braya. Semangat-semangat dari perayaan hari raya ini yang harus kita kobarkan. Pada setiap hari raya besar, kita semua wajib ikut bahagia,” ucap Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, yang hadir di Kantor Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Bali, Jumat (06/06/2025).

Sukahet menyebut ngejot sebagai modal kerukunan di Bali yang berdampak pula pada berjalannya pariwisata di Bali. Dia menilai, terdapat persamaan ajaran antara setiap agama yang menekankan pentingnya persatuan dan saling tolong menolong tanpa memandang asal suku, bangsa, dan golongan.

Agama dinilai tidak akan memusnahkan persaudaraan, tetapi justru memupuknya.

“Semangat dan jiwa berkorban tidak saja ada di kalangan umat Islam, tetapi ada di seluruh kitab suci agama-agama. Harapannya supaya semangat berkorban, semangat menolong, jiwa membantu, dan peduli itu berkumandang ke seluruh pelosok Nusantara,” tegasnya.

Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Bali menjadi salah satu pihak yang melestarikan tradisi ngejot. Tahun ini, mereka menyembelih 145 ekor sapi dan 273 ekor kambing yang akan dibagikan ke 10.000 orang yang tersebar di seluruh Bali tanpa memandang agama.

Terdapat sekitar 200 kepala keluarga (KK) di sekitar kantor yang akan mendapat daging kurban dari tradisi ngejot yang rutin dilakukan setiap tahunnya ini. Panitia kurban akan berjalan kaki sambil membawa sejumlah besek yang berisikan 2 kilogram daging kurban per paket untuk diberikan kepada tetangga sekitar.

Seluruh hewan kurban yang disembelih itu telah melalui proses pemeriksaan kesehatan demi memastikan keamanan konsumsi.

Alhamdulillah kepada kami, saat ini bisa berkurban lebih banyak dari tahun kemarin. Mudah-mudahan di tahun depan kita bisa berkurban lebih banyak lagi,” kata Ketua LDII Bali, Olih Solihat Karso, yang turut hadir.

Olih menyebut, ngejot dan menyama braya yang ada di Bali mengandung makna ikhlas, baik itu untuk berkurban dan berbagi. Dalam tradisi tersebut, tidak hanya umat seagama yang dijadikan saudara, tetapi juga umat lain yang menganut agama berbeda.

Adanya tradisi tersebut juga memupuk kerukunan dan mengurangi potensi terjadinya gesekan antarumat yang beragama beda.

“Kita ini saudara, cuma beda keyakinan. Di Bali, yang saya tahu, dalam satu keluarga pun ada yang berbagai macam agama, tapi tetap akur, tetap rukun. Jadi, intinya, agama itu tidak memusnahkan persaudaraan kita, tapi akan memperkuat persaudaraan kita. Itulah makna yang sebenarnya di sana,” ucapnya.

Memupuk Kebersamaan Sepanjang Masa

Panitia Qurban DPW LDII Bali

Masyarakat di sekitar Kantor DPW LDII Bali saling bahu membahu untuk mengolah kurban. Nantinya kurban ini akan dibagikan dengan cara ngejot ke rumah-rumah warga sekitar, Denpasar, Jumat (06/06/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

Penyembelihan hewan kurban di Kantor DPW LDII Provinsi Bali dilakukan dengan gotong royong bersama warga. Para pria mengangkat perkakas, lalu memotong 14 ekor sapi dan 32 ekor kambing yang sudah dikuliti. Setelah itu, mereka lantas memasukkan daging-daging ke dalam baskom, lalu menimbang satu per satu daging tersebut. Dua kilogram per paket adalah target mereka.

Panitia kurban kemudian mengangkat paket-paket berbentuk besek anyaman bambu tersebut, lalu berjalan menuju rumah warga di sekitar Padang Sambian. Mereka mengetuk pintu dengan salam dan menyerahkan paket yang dipegangnya dengan senyum semringah.

Tidak hanya umat Islam yang dapat bagian, tetapi juga agama lainnya. Misalnya, I Gusti Ayu Anjani (46) asal Singaraja, Kabupaten Buleleng. Ketika dikunjungi, dia lantas turun dari lantai dua kediamannya di Jalan Padang Griya.

Anjani yang memiliki toko kelontong di dekat sana itu muncul menggunakan kamben dan selendang, lalu menerima daging berwadah besek dari seorang panitia kurban. Tidak lupa, dia mengucapkan selamat kepada para pemeluk agama Islam.

“Saya merasa senang. Kita istilahnya bertetangga di sini. Meskipun berbeda agama, kita tetap jalin silaturahmi dengan baik, saling menghormati. Kita hidup berdampingan, itu enggak jadi masalah,” ucap Anjani ketika diwawancarai, Jumat (06/06/2025).

Anjani sudah tinggal di sana, selama 10 tahun lamanya sejak beranjak dari Kabupaten Buleleng. Oleh sebab itu, tahun ini bukanlah tahun pertama ia menerima daging kurban dari kegiatan ngejot tersebut. Setiap Iduladha, pasti daging tersebut diberikan ke kediamannya yang berada beberapa meter dari Kantor DPW LDII Provinsi Bali.

Rangkaian persembahyangan Galungan di Bali

Umat Hindu berjalan sambil menjunjung keben bambu atau tempat sesajen saat tradisi Mapeed pada rangkaian persembahyangan Hari Raya Galungan di Desa Lukluk, Badung, Bali, Rabu (2/8/2023). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/aww.

Sebagai timbal balik, setiap Hari Raya Galungan, Anjani akan membagikan buah-buahan kepada tetangganya yang berkeyakinan lain, termasuk pemeluk Islam. Daging yang didapatkannya dari panitia kurban tersebut nantinya akan diserahkan kepada penghuni kos untuk diolah menjadi hidangan.

“Saya harap kerukunan ini terus terjalin dan Iduladha setiap tahunnya lancar. Kita ini hidup berdampingan. Walaupun berbeda, kita tetap satu,” imbuhnya.

Bantuan Sapi Kurban Presiden Akan Dibagi Lintas Agama

Panitia Qurban DPW LDII Bali

Masyarakat di sekitar Kantor DPW LDII Bali saling bahu membahu untuk mengolah kurban. Nantinya kurban ini akan dibagikan dengan cara ngejot ke rumah-rumah warga sekitar, Denpasar, Jumat (06/06/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

Beberapa kilometer jauhnya dari Kantor DPW LDII Provinsi Bali, berdirilah Musala Thoriqussalam. Musala kecil yang dibangun pada tahun 1993 ini terpilih menjadi salah satu penerima bantuan sapi kurban dari Presiden Prabowo Subianto. Terdapat dua ekor sapi yang diberikan, masing-masing berbobot 500 kilogram.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Presiden yang telah berkenan memberikan bantuan kepada kami, masyarakat Musala Thoriqussalam Sanur dan sekitarnya. Mudah-mudahan dengan bantuan ini, bisa bermanfaat bagi kami,” kata Ketua Musala, Hadi Suyitno, ditemui Tirto di halaman musala, Kamis (05/06/2025).

Sapi dari Presiden disembelih dan dibagikan pada Sabtu (07/06/2025) atau satu hari setelah Hari Raya Iduladha. Selain sapi seharga Rp30 juta per ekor dari Presiden, musala ini juga memiliki 8 ekor sapi lainnya dan 22 ekor kambing yang dikurbankan. Hadi menyebut, seorang warga negara asing (WNA) asal Kuwait juga ambil bagian dalam berkurban sapi.

“Dari instansi, kami menerima bantuan kambing, yaitu dari Bapak Wali Kota Denpasar (I Gusti Ngurah Jaya Negara). InsyaAllah kita bagikan ke masyarakat kami sebanyak 1.800 penerima,” tambahnya.

Tidak hanya masyarakat yang memeluk agama Islam saja, tetapi Musala Thoriqussalam juga memberikan paket daging kurban kepada masyarakat di sekitar Banjar Betngandang, Desa Sanur Kauh, termasuk yang beragama lain.

Hadi mengeklaim musala ini punya komitmen untuk bersinergi, menjunjung tinggi nilai-nilai komunikasi, dan membangun hubungan harmonis dengan lingkungannya.

“Kita berbagi kepada fakir miskin, kaum duafa, yatim piatu, dan saudara-saudara kami yang ada di sekitar Musala Thoriqussalam. Ada kegiatan apa pun, semua saudara-saudara kami juga mendapatkan, baik yang Muslim maupun yang Hindu,” terang Hadi.

Dalam proses pemotongannya, Musala Thoriqussalam telah menjalin komitmen dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memastikan keramahan terhadap lingkungan. Pembagian daging kurban tidak akan menggunakan plastik, sementara pembuangan limbah dan kotoran hewan akan dikelola oleh musala terlebih dahulu.

“Ada pembuangan limbahnya dan bungkusnya pakai besek. Itulah bagian dari komitmen kami mendukung program Pemerintah Bali, kurban tanpa limbah. Jadi semua hal-hal yang terkait dengan pemotongan itu tidak ada yang kita bawa keluar” tutupnya.

Baca juga artikel terkait IDULADHA atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - News Plus
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Rina Nurjanah