Menuju konten utama

Rupiah Kian Tertekan, Ditutup Rp17.424 per US$ Sore Ini

Sepanjang hari, mata uang Garuda bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp17.395 hingga Rp17.455 per dolar AS, setelah dibuka Rp17.404 per dolar AS.

Rupiah Kian Tertekan, Ditutup Rp17.424 per US$ Sore Ini
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (17/1/2025). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan ditutup menguat 14 poin menjadi Rp16.362 per dolar AS. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup ambrol ke level Rp17.424 pada Selasa (5/5/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah terdepresiasi 30 poin atau 0,17 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS.

Sepanjang hari, mata uang Garuda bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp17.395 hingga Rp17.455 per dolar AS, setelah dibuka pada level Rp17.404 per dolar AS pada perdagangan pagi tadi.

Sementara itu, mata uang kawasan Asia terpantau bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang (JPY) melemah 0,03 persen, dolar Singapura (SGD) menguat tipis 0,02 persen, dolar Taiwan (TWD) menguat 0,05 persen, dan peso Filipina (PHP) menguat 0,03 persen.

Selanjutnya, rupee India (INR) melemah 0,32 persen, sementara yuan China (CNY) menguat 0,16 persen dan baht Thailand (THB) melemah 0,06 persen. Di sisi lain, won Korea (KRW) menguat 0,38 persen, ringgit Malaysia (MYR) melemah 0,18 persen, dan dolar Hong Kong (HKD) menguat 0,04 persen.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah terjadi aksi militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk.

"Sentimen pasar tetap rapuh setelah pertukaran militer kembali terjadi antara AS dan Iran, yang meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global," ujarnya dalam rilis harian yang diterima Tirto.

Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran terganggunya jalur distribusi minyak, khususnya di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Meski AS meluncurkan inisiatif "Proyek Kebebasan" untuk mengamankan jalur pelayaran, pelaku pasar menilai langkah tersebut belum mampu meredakan risiko geopolitik secara menyeluruh.

"Walaupun ada upaya pengamanan jalur pelayaran, konflik geopolitik yang mendasari belum terselesaikan, sehingga pasar tetap sensitif terhadap perkembangan situasi," kata Ibrahim.

Selain itu, lonjakan harga energi global turut memberi tekanan tambahan. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

"Guncangan energi ini mendorong bank sentral, khususnya The Fed, untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpotensi memperketat kebijakan jika inflasi meningkat," ujarnya.

Dari dalam negeri, Ibrahim melihat fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, didorong oleh momentum libur nasional dan hari besar keagamaan.

"Pertumbuhan ekonomi yang tetap solid ditopang oleh konsumsi masyarakat, terutama karena peningkatan mobilitas selama momen hari besar keagamaan," katanya.

Ia menambahkan, berbagai stimulus pemerintah seperti diskon transportasi, pemberian tunjangan hari raya (THR), serta kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang stabil turut membantu menjaga daya beli masyarakat.

Meski demikian, tekanan global dinilai masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. "Untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.430-17.450 per dolar AS," tandasnya.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana