Menuju konten utama

Rupiah Tembus Rp17.300 per US$, Lebih Cepat dari Perkiraan

Rupiah berpotensi terus melemah hingga menyentuh Rp17.400 per dolar AS.

Rupiah Tembus Rp17.300 per US$, Lebih Cepat dari Perkiraan
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Mengutip data Trading Economics, hingga pukul 10.40 WIB rupiah berada di level Rp17.295 per dolar AS, setelah sempat menembus Rp17.300 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB.

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, rupiah masih bertahan di kisaran Rp17.300 per dolar AS pada pukul 11.06 WIB, atau melemah 119 poin (0,69 persen).

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah terjadi lebih cepat dari perkiraan. Bahkan, menurutnya, pada pekan depan nilai tukar rupiah berpotensi terus melemah hingga menyentuh Rp17.400 per dolar AS.

"Hari ini rupiah tembus Rp17.300, artinya ekspektasi Rp17.300 sudah kena di hari Kamis, dan kemungkinan besar sekitar di akhir April atau pekan depan akan tembus Rp17.400," ujar dia dalam keterangan kepada awak media, dikutip Kamis (23/4/2026).

Sebelumnya, proyeksi tersebut diperkirakan baru terjadi pada akhir 2026.

"Tetapi kenyataannya di bulan April akan berada di Rp17.400," tambahnya.

Ibrahim menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang mendorong pelemahan signifikan rupiah. Dari sisi eksternal, eskalasi ketegangan di Timur Tengah—yang dipicu konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran—telah mengguncang stabilitas pasar keuangan global.

Situasi memanas setelah Iran menolak perundingan damai yang dimediasi Pakistan dengan Amerika Serikat. Penolakan ini dipicu tudingan pelanggaran kesepakatan, termasuk insiden penguasaan kapal tanker Iran di Selat Hormuz.

"Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut dikarenakan Amerika sudah menyalahi aturan dalam kebijakan senjata dengan melakukan penangkapan, ya penguasaan terhadap kapal tanker Iran yang melewati selat Hormuz," jelas dia.

Di sisi lain, konflik AS-Iran diperkirakan berlangsung lebih panjang dan berisiko mengganggu distribusi energi global. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

Kenaikan tersebut tercermin dari harga minyak Brent yang telah menyentuh US$103 per barel, serta WTI di level US$98 per barel. Lonjakan harga energi ini tidak hanya menekan pasar global, tetapi juga berimplikasi pada fiskal domestik.

"Dengan kenaikan harga minyak Brent crude oil yang saat ini sudah jadi 103 dolar AS per barel, kemudian WTI crude oil itu di 98 dolar AS per barel, ini membuat defisit anggaran Indonesia kemungkinan besar kembali melebar," ujar Ibrahim.

Tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kian besar seiring tingginya ketergantungan impor energi. Dengan kebutuhan impor BBM mencapai sekitar 1 juta barel per hari—dari total konsumsi sekitar 2,1 juta barel per hari—pemerintah harus menyiapkan anggaran besar di tengah lonjakan harga minyak.

Di saat yang sama, kebijakan menahan harga BBM subsidi turut memperlebar beban fiskal. Pemerintah berpotensi mengalihkan anggaran dari pos lain untuk menjaga stabilitas harga energi domestik.

"Tidak menaikkan harga BBM subsidi ini membuat subsidi pemerintah semakin besar. Sehingga harus mencari anggaran dari departemen-departemen lain untuk membantu subsidi terhadap pertalite. Nah, ini yang bisa membuat defisit anggaran kembali mengalami pelebaran," tutur Ibrahim.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana