tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.243 pada Selasa (28/4/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah terdepresiasi 32 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level Rp17.211 per dolar AS.
Sepanjang hari, mata uang Garuda bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp17.218 hingga Rp17.256 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah berada di level Rp17.218 per dolar AS.
Sementara itu, mata uang kawasan Asia terpantau bergerak bervariasi. Yen Jepang (JPY) melemah 0,06 persen, dolar Singapura (SGD) turun 0,14 persen, dolar Taiwan (TWD) terdepresiasi 0,22 persen, dan peso Filipina (PHP) melemah 0,91 persen.
Selanjutnya, rupee India (INR) melemah 0,31 persen, yuan China (CNY) turun 0,13 persen dan baht Thailand (THB) terdepresiasi 0,44 persen. Sebaliknya, won Korea (KRW) menguat 0,10 persen, ringgit Malaysia (MYR) naik 0,05 persen, dan dolar Hong Kong (HKD) naik 0,02 persen.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, gerak rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Laporan terbaru menunjukkan, Washington sebagian besar skeptis terhadap proposal yang ditawarkan Iran, mengingat hal itu melibatkan penundaan pembicaraan tentang aktivitas nuklir Teheran.
"Presiden AS Donald Trump tampak tidak senang dengan proposal terbaru Iran yang bertujuan untuk mengakhiri perang," tutur Ibrahim dalam rilis hariannya.
Sementara itu, sumber-sumber Iran mengungkapkan pada bahwa proposal Teheran menghindari pembahasan program nuklirnya sampai permusuhan berhenti dan sengketa pelayaran di Teluk diselesaikan.
"Ketidakpuasan Trump terhadap tawaran Iran membuat konflik tersebut buntu, dengan Iran menutup arus pelayaran melalui Selat Hormuz, yang biasanya membawa pasokan setara dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak dan gas global, dan AS tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran," lanjut Ibrahim.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































