Menuju konten utama

Rupiah Kembali Perkasa, Ditutup Menguat ke Rp16.863 per US$

Penguatan rupiah, menurut Ibrahim, didukung oleh kecukupan cadangan devisa yang disebut BI mampu mendukung ketahanan sektor eksternal.

Rupiah Kembali Perkasa, Ditutup Menguat ke Rp16.863 per US$
Petugas menghitung uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen sebagai upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.863 pada perdagangan hari ini, Selasa (10/3/2026). Rupiah terapresiasi sebesar 86 poin atau 0,51 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.949.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar menilai, penguatan rupiah didukung oleh kecukupan cadangan devisa yang disebut Bank Indonesia mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

"Ke depannya sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai, serta aliran masuk modal asing. Optismisme itu bersandar kepada persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik," ujar dia.

Selain itu, faktor eksternal juga turut menjadi salah satu pendorong penguatan rupiah pada hari ini. Menurut Ibrahim, panggilan telepon Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perang di Iran telah meredekan kekhawatiran atas peningkatan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Di samping itu, harga minyak juga diprediksi akan kembali melandai dengan Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Rusia, dan melepaskan cadangan minyak mentah darurat sebagai bagian dari serangkaian opsi yang bertujuan untuk menekan lonjakan harga minyak global.

"Negara-negara G7 mengatakan mereka siap untuk menerapkan langkah-langkah yang diperlukan sebagai respons terhadap melonjaknya harga minyak global, tetapi tidak sampai berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat," tutur Ibrahim.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana