Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp16.787 Akhir Pekan Ini

Rupiah naik sebesar 28 poin atau 0,17 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.759.

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp16.787 Akhir Pekan Ini
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat akan mengikuti pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.787 pada perdagangan hari ini, Jumat (27/2/2026). Nilai tukar rupiah naik sebesar 28 poin atau 0,17 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.759.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar melemahnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal, Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) mengumumkan pengenaan bea masuk imbalan atas sel dan panel surya yang diimpor oleh perusahaan-perusahaan di India, Indonesia, dan Laos. Langkah ini diambil sebagai upaya melawan subsidi yang mendukung industri di ketiga negara tersebut.

AS menetapkan tarif subsidi umum sebesar 125,87 persrm untuk impor dari India, 104,38 persen untuk impor dari Indonesia, dan 80,67 persen untuk impor dari Laos.

Kata Ibrahim, berdasarkan data perdagangan pemerintah, ketiga negara tersebut menyumbang nilai impor senilai 4,5 miliar dolar AS atau setara Rp75,73 triliun tahun lalu. Ini sekitar dua pertiga dari total impor sepanjang 2025.

"Keputusan ini merupakan rangkaian terbaru dari pengenaan bea masuk selama satu dekade terhadap 'impor produk surya murah dari Asia, yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asal China'," urai Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

"Berdasarkan lembar fakta yang diunggah di situs resmi DOC, lembaga tersebut menghitung tarif subsidi umum bagi para importir," lanjut dia.

Ibrahim berujar melalui keputusan tersebut, pejabat perdagangan AS mengatakan mendukung pemilik pabrik tenaga surya domestik setelah menemukan bahwa perusahaan yang beroperasi di tiga negara itu menerima subsidi pemerintah. Hal ini membuat produk AS menjadi tidak kompetitif di pasar sendiri.

Menurut Ibrahim, faktor eksternal melemahnya rupiah, ketegangan geopolitik terkait Iran menjadi pendorong utama karena AS mengerahkan lebih banyak kapal ke Timur Tengah. AS juga mengancam tindakan militer, jika Teheran tidak menerima kesepakatan nuklir.

Pembicaraan AS-Iran mengenai ambisi nuklir Teheran berakhir pada hari Kamis tanpa kesepakatan yang jelas. Namun, kedua pihak mengisyaratkan mereka akan segera melanjutkan negosiasi dengan diskusi tingkat teknis juga akan berlangsung minggu depan di Wina.

"Ketidakpastian yang meningkat atas perekonomian AS juga menjadi faktor setelah geopolitik, terutama setelah putusan Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan Presiden Donald Trump," urai Ibrahim.

Namun, Ibrahim menyatakan, Trump menanggapi dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka hukum yang berbeda dan mengancam akan memberlakukan lebih banyak bea masuk. Hal ini disebut membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan ekonomi lebih lanjut akibat bea masuk tersebut.

Selain itu, kata Ibrahim, pasar sedang menilai kembali jalur kebijakan moneter Fed karena para pembuat kebijakan tetap khawatir tentang inflasi yang tinggi. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan di bulan Maret dan April.

"Sementara, penurunan suku bunga pada bulan Juni, yang sebelumnya dianggap sebagai waktu yang paling mungkin bagi The Fed untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter, kini tampaknya kurang pasti," ucap Ibrahim.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Bayu Septianto