tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp18.187 pada perdagangan hari ini, Senin (8/6/2026). Rupiah melemah 151,5 poin atau 0,84 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp18.035.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan faktor internal melemahnya rupiah terjadi karena kegelisahan pasar atas agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo Subianto terhadap program politik, yaitu makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih membuat devisit neraca transaksi berjalan melebar.
"Pelebaran devisit tersebut, terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia," urainya dalam keterangan resmi, Senin.
Pemerintah dinilai perlu menghitung ulang dengan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang begitu besar akibat lonjakan harga minyak mentah setelah penutupan Selat Hormuz. Hal ini membuat kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat utang pemerintah makin membengkak.
Ibrahim mengatakan, Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa mencapai USD144,9 miliar atau setara Rp2.590,2 triliun pada akhir Mei 2026. Cadangan devisa tersebut turun dari bulan sebelumnya sebesar USD146,2 miliar.
"Bahkan, jika ditarik data historis lebih jauh maka cadangan devisa di level USD144,9 miliar itu merupakan rekor terendah baru sejak Juni 2024, saat itu cadangan devisa di level USD140,2 miliar, atau dalam 23 bulan terakhir," tuturnya.
"Posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 itu setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," lanjut dia.
Ibrahim berujar BI menilai cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. BI turut meyakini ketahanan sektor eksternal akan tetap terjaga dengan cadangan devisa tersebut.
Ia melanjutkan faktor eksternal melemahnya rupiah, tensi geopolitik kembali memanas usai serangan Israel terhadap Lebanon. Sementara itu, suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan.
Lalu, Israel mengaku akan menyerang pabrik petrokimia di barat daya Iran, bersamaan dengan serangan di tempat lain terhadap target militer. Hal itu terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari serangan lebih lanjut.
"Meskipun Iran menembakkan rentetan rudal ke target Israel sebagai balasan, Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang yang lebih luas masih sangat mungkin tercapai," lanjut dia.
Ibrahim menyatakan ekonomi AS pada Mei 2026 menambahkan 172 ribu pekerjaan, jauh di atas ekspektasi 85 ribu pekerjaan. Sementara itu, angka penggajian pada April 2026 direvisi lebih tinggi menjadi 179 ribu dari 115 ribu dan tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3 persen.
"Laporan NFP yang lebih kuat dari perkiraan mendukung argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah atau bahkan menaikkannya karena para pejabat menilai dampak inflasi dari harga energi yang lebih tinggi. Fokus pasar minggu ini adalah data inflasi AS terbaru berupa Indeks Harga di tingkat Konsumen AS," pungkas Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id



































