Menuju konten utama

Rosan Respons soal Danantara Jadi Sebab Outlook Moody's Negatif

Danantara menilai keputusan Mood's sebagai pengingat yang konstruktif untuk terus memperkokoh fondasi institusi.

Rosan Respons soal Danantara Jadi Sebab Outlook Moody's Negatif
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani berjalan usai mengikuti rapat terbatas Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/11/2025). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski mempertahankan peringkat jangka panjang di level Baa2 pada Kamis (5/2/2026).

Salah satu alasan yang disoroti lembaga pemeringkat tersebut adalah pembentukan sovereign wealth fund (SWF) baru Indonesia, Danantara. Dalam laporannya, Moody’s menilai pendirian Danantara memunculkan ketidakpastian terkait pembiayaan, tata kelola, serta prioritas investasi.

Danantara disebut memiliki kewenangan atas aset badan usaha milik negara (BUMN) yang nilainya melebihi 900 miliar dolar AS atau sekitar 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia pada 2025.

Moody’s menyoroti ambisi Danantara untuk merasionalisasi BUMN, meningkatkan imbal hasil, serta berinvestasi di sektor-sektor prioritas. Namun, lemahnya koordinasi dan kohesivitas kebijakan dinilai berpotensi menimbulkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan dan kewajiban kontinjensi bagi pemerintah.

Salah satu contoh yang disorot adalah kewenangan Danantara atas kebijakan dividen BUMN. Tekanan terhadap kesehatan keuangan BUMN dinilai dapat muncul karena dividen merupakan salah satu sumber pendanaan utama, sementara bank-bank BUMN tercatat telah meningkatkan pembayaran dividen pada 2025.

Meski demikian, Moody’s menilai Danantara masih berada pada tahap awal pengembangan. Pemerintah Indonesia juga disebut telah menyiapkan kerangka hukum dan kelembagaan melalui berbagai instrumen legislasi. Moody’s tetap berasumsi bahwa penguatan kelembagaan ke depan akan memberikan kejelasan lebih besar terkait tata kelola dan operasional Danantara.

Menanggapi penilaian tersebut, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan pihaknya mencermati revisi outlook Moody’s sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap kebijakan dan penguatan kelembagaan perekonomian nasional.

"Danantara Indonesia memandang hal ini sebagai pengingat yang konstruktif untuk terus memperkokoh fondasi institusi, menegaskan arah kebijakan, dan menjaga disiplin pelaksanaan sebagai kunci untuk mempertahankan kepercayaan serta stabilitas jangka panjang,” ujar Rosan dalam pernyataan resminya, Jumat (6/2/2026).

Rosan menekankan bahwa peringkat investment grade Indonesia tetap terjaga, yang mencerminkan kepercayaan terhadap ketahanan makroekonomi, disiplin fiskal, serta prospek pertumbuhan jangka panjang.

Penyesuaian outlook tersebut, menurut dia, sekaligus menegaskan pentingnya reformasi kelembagaan dan konsistensi kebijakan dalam agenda pembangunan nasional.

Sebagai SWF yang baru dibentuk, Rosan menyebut Danantara masih berada dalam fase pembangunan institusi dengan penekanan pada tata kelola yang kuat, proses investasi yang disiplin, serta manajemen risiko yang pruden sesuai praktik global.

Ia menjelaskan, peta jalan tata kelola Danantara difokuskan pada penguatan struktur pengambilan keputusan dan fungsi pengawasan, penerapan kerangka manajemen risiko terpadu, disiplin alokasi modal berbasis kelayakan komersial, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas di seluruh portofolio BUMN.

“Danantara Indonesia akan terus beroperasi secara profesional, akuntabel, dan transparan guna menjalankan peran kami sebagai pengelola aset negara yang kredibel bagi masa depan Indonesia,” kata Rosan.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana