Menuju konten utama

RI Bebaskan Tarif Impor AS, demi Investasi Jumbo Exxon dkk

Tarif 0 persen ini diberikan karena AS dianggap telah menanamkan modalnya cukup besar di Indonesia.

RI Bebaskan Tarif Impor AS, demi Investasi Jumbo Exxon dkk
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait Joint Statement Indonesia-Amerika Serikat di Jakarta, Kamis (24/7/2025). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/agr
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengakui dalam kesepakatan tarif dagang dengan Amerika Serikat (AS), Indonesia sepakat untuk memberikan tarif impor 0 persen terhadap barang-barang dari AS, membebaskan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) perusahaan-perusahaan AS dan barang yang diproduksinya di sektor-sektor tertentu, hingga bekerja sama untuk melakukan transfer data antarnegara.

Namun, pada saat yang sama AS juga telah menanamkan modalnya cukup besar di Indonesia. Sebagai contoh, pada awal tahun 2025, ExxonMobil telah berkomitmen untuk membangun fasilitas penangkapan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) dengan nilai sekitar 10 miliar dolar AS.

Kemudian, perusahaan teknologi multinasional Oracle Corporation juga telah membicarakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia dengan nilai mencapai 6 miliar dolar AS.

“Microsoft juga akan membangun infrastruktur cloud dan AI, nilainya juga 1,7 miliar dolar (AS). Kemudian, Amazon akan memperkuat pengembangan AI dan cloud, juga besarnya 5 miliar dolar (AS), General Electric dari GE Healthcare, itu bekerja sama dengan Kalbe, akan membuat (pabrik) CT Scan pertama, pabriknya di Jawa Barat, tahap awal akan investasi Rp178 miliar,” papar Airlangga, dalam Konferensi Pers, di Kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (24/7/2025).

Selain itu, 12 perusahaan AS seperti Amazon Web Service (AWS), Microsoft, Equinix, Edge Connect, Oracle, Anaplan Unlimited, dan beberapa lainnya juga telah mendirikan data center di Tanah Air.

Melalui perluasan investasi ini, keseimbangan neraca dagang antara AS dan Indonesia dapat terjaga. Kemudian, kendati pemerintah memeberikan banyak Kemudahan perdagangan untuk Washington, namun momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diharapkan dapat dijaga, dengan penciptaan lapangan pekerjaan dapat dijamin.

“Nah, Indonesia sendiri berharap perjanjian dengan Amerika akan meningkatkan daya saing, meningkatkan inovasi, karena itu yang akan diberikan oleh Amerika, kemudian R&D, capacity building, mendorong perkembangan digital ekonomi, seperti tadi komitmen beberapa perusahaan Amerika untuk investasi di Indonesia di data center,” tutur Airlangga.

Pada saat yang sama, melalui kesepakatan yang telah dicapai Indonesia juga dapat menurunkan tarif resiprokal yang sebelumnya ditetapkan sebesar 32 persen menjadi hanya 19 persen.

“Nah, dan itu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah Indonesia, serta mendorong peningkatan logistik, interkoneksi antarpulau,” tambahnya.

Menurut Airlangga, jika Indonesia tetap mendapat tarif 32 persen. Artinya, tidak ada perdagangan atau transaksi yang terjadi atau dalam hal ini Indonesia dapat dikatakan mengalami ‘embargo dagang’.

“Dan itu 1 juta pekerja di sektor padat karya, itu bisa terkena hal yang tidak kita inginkan. Karena kita harus mencari pasar baru yang 11 persen itu, untuk mencari pangsa pasar baru yang 11 persen, itu bukan sesuatu langkah yang seperti tinggal membalik tapak tangan,” tukas Airlangga.

Baca juga artikel terkait INVESTASI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra