tirto.id - Buku karya Albert Camus bisa dijadikan bahan bacaan di sela-sela kesibukan. Mulai dari novel populer seperti The Stranger hingga buku nonfiksi, karya-karyanya menawarkan cerita dan pemikiran yang mendalam tentang berbagai hal dalam kehidupan.
Albert Camus adalah seorang filsuf, novelis, sekaligus dan jurnalis asal Prancis yang sudah menghasilkan banyak karya di sepanjang hidupnya. Ia diketahui menerbitkan sejumlah novel, cerita pendek, buku-buku nonfiksi, naskah sandiwara, hingga berbagai esai.
Albert Camus sangat tertarik dengan politik dan berbagai persoalan sosial yang terjadi pada masanya. Ketertarikan tersebut tidak hanya terlihat dari aktivitasnya sebagai jurnalis, tapi juga tercermin dalam karya-karya tulisnya.
Ia kerap mengangkat tema keadilan, kebebasan, dan tanggung jawab moral manusia. Melalui puluhan karya yang ia tulis, Camus kerap menyoroti bagaimana individu menghadapi konflik, kekuasaan, dan kondisi dunia yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Setelah wafat di tahun 1960, buku Albert Camus masih sangat berpengaruh dan menjadi favorit banyak orang sampai sekarang. Sebagai penghormatan terhadap sang penulis, sebuah tugu dibangun di Tipasa, dengan ukiran quote yang diambil dari salah satu bukunya, Noces à Tipasa.
Profil Albert Camus
Albert Camus lahir pada 7 November 1913 di Mondovi (sekarang Dréan), Aljazair Prancis. Ia lahir dari keluarga yang sangat sederhana, sementara ayahnya meninggal dalam Perang Dunia I sehingga hanya dibesarkan oleh ibunya yang tuli dan buta huruf.
Meski hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan, Camus tumbuh dengan kecerdasan tinggi yang cepat disadari oleh gurunya, Louis Germain. Berkat sang guru, Camus mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di sekolah menengah bergengsi di dekat Algiers.
Pada masa mudanya, Camus tertarik pada olahraga seperti sepak bola. Baginya, semangat dan solidaritas tim sangatlah menarik. Namun, tuberkulosis yang ia derita membuatnya harus menghentikan aktivitas tersebut dan memengaruhi perjalanan hidupnya.
Di masa-masa inilah Camus muda mulai tertarik dengan filsafat. Ia mengagumi para filsuf Yunani kuno serta filsuf asal Jerman, Friedrich Nietzsche. Di tahun 1933, Albert Camus belajar filsafat di University of Algiers dan lulus sekitar 3 tahun setelahnya.
Karier Camus berkembang di era 1940-an ketika ia aktif sebagai jurnalis dan terlibat dalam Gerakan Perlawanan Prancis selama Perang Dunia II. Ia kemudian menjadi editor surat kabar Combat dan menulis berbagai artikel yang menekankan pentingnya keadilan, kebenaran, dan tanggung jawab moral dalam politik.
Pada periode ini pula ia mulai dikenal luas melalui karya sastra dan esai filosofisnya. Beberapa karya Camus yang paling terkenal antara lain novel The Stranger (1942), esai filsafat The Myth of Sisyphus (1942), novel The Plague (1947), dan esai The Rebel (1951).
Melalui karya-karya tersebut, Camus mengeksplorasi tema keterasingan manusia, absurditas kehidupan, serta pentingnya pemberontakan moral dan solidaritas manusia dalam menghadapi dunia yang tidak pasti.
Berkat karya-karyanya, Albert Camus pun dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pemikiran abad ke-20, terutama melalui gagasan filsafat absurdisme, yang membahas ketegangan antara keinginan manusia untuk menemukan makna hidup di tengah ketidakpastian dunia.
Albert Camus juga menerima Penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1957, ketika usianya baru 44 tahun, menjadikannya salah satu penerima Nobel Sastra termuda dalam sejarah.
Albert Camus diketahui meninggal pada 4 Januari 1960 dalam sebuah kecelakaan mobil di dekat Sens, Prancis, setelah merayakan tahun baru bersama keluarganya. Ia kemudian dimakamkan di pemakaman Lourmarin di Vaucluse, Prancis.
8 Rekomendasi Buku Albert Camus dengan Rating Tertinggi

Pemikiran dan karya-karya Albert Camus memiliki pengaruh besar dalam sastra dan filsafat modern, serta terus dibaca dan diperdebatkan hingga saat ini. Dari puluhan karya yang sudah terbit, berikut deretan buku-buku Albert Camus yang populer di kalangan book lovers:
1. The Myth of Sisyphus
The Myth of Sisyphus jadi salah satu buku Albert Camus yang populer dan memiliki rating tinggi. Dalam karya filsafatnya yang terbit pada 1942 ini, Albert Camus memperkenalkan gagasan tentang absurd.Sebuah pertentangan antara keinginan manusia untuk menemukan makna hidup dengan kenyataan bahwa alam semesta tidak memberikan jawaban apa pun. Pemikiran ini pun dipengaruhi oleh beberapa filsuf seperti Søren Kierkegaard, Arthur Schopenhauer, dan Friedrich Nietzsche.
Alih-alih melihat absurditas hidup sebagai alasan untuk menyerah atau bunuh diri, Camus justru mengajak manusia untuk memberontak terhadap keadaan tersebut dengan tetap menjalani hidup secara sadar.
2. The Rebel
The Rebel juga termasuk salah satu esai filsafat karya Albert Camus yang populer dan terbit pada tahun 1951. Albert Camus membahas konsep pemberontakan (rebellion) dari sudut pandang metafisik maupun sejarah, terutama dalam konteks masyarakat Eropa Barat.Ia menelusuri bagaimana gagasan pemberontakan dan revolusi berkembang dalam pemikiran, budaya, serta gerakan sosial di Eropa, sekaligus mengkaji berbagai tokoh dan gerakan yang dianggap melawan arus utama dalam sejarah pemikiran Barat.
Melalui analisis tersebut, Camus juga membahas perubahan nilai dalam masyarakat, seperti menurunnya peran Tuhan, raja, hingga munculnya paham nihilisme. Buku ini sering dianggap sebagai sekuel dari The Myth of Sisyphus karena sama-sama membahas pertanyaan tentang makna hidup.
3. The Stranger
The Stranger menjadi salah satu buku Albert Camus paling populer. Diterbitkan pada 1942, novel ini mengikuti kisah seorang pria bernama Meursault, seorang pegawai Prancis yang tinggal di Aljazair, yang menerima kabar bahwa ibunya meninggal dunia.Saat menghadiri pemakaman, Meursault dengan emosi datarnya tidak menunjukkan kesedihan seperti yang diharapkan orang lain. Setelah kembali ke kehidupan sehari-hari, ia mengalami berbagai konflik yang akhirnya berujung pada penembakan seorang pria Arab.
Bagian kedua cerita ini berfokus pada proses persidangan Meursault setelah pembunuhan tersebut. Dalam pengadilan, perhatian tidak hanya tertuju pada kejahatan yang ia lakukan, tapi juga pada sikapnya yang dianggap dingin, tak bermoral, dan tidak berperasaan.

4. The Plague
Buku Albert Camus lain yang juga populer adalah The Plague. Berlatar belakang di kota Oran, Aljazair, tahun 1940-an, novel ini bercerita tentang serangan wabah mematikan yang dimulai dengan penemuan banyaknya tikus mati di jalanan.Dokter Bernard Rieux menyadari akan bahaya wabah ini, dan pemerintah akhirnya menutup kota dan memberlakukan karantina. Penduduk Oran terisolasi dari dunia luar, diselimuti oleh ketakutan, kehilangan, dan keputusasaan.
Selama wabah berlangsung, berbagai tokoh berusaha menghadapi situasi tersebut dengan cara yang berbeda. Dan di tengah masa kelam itu, semua orang menunjukkan solidaritas serta keberanian untuk terus melawan penyakit yang mengancam nyawa.
5. Lyrical and Critical Essays
Lyrical and Critical Essays merupakan karya non-fiksi Albert Campus berupa kumpulan esai. Buku ini berisi berbagai tulisan reflektif tentang kehidupan, seni, hingga filsafat yang menggabungkan dua jenis tulisan, esai liris dan kritis.Dalam esai liris, Camus banyak menulis tentang pengalaman masa mudanya, keindahan alam Mediterania, serta perasaan manusia terhadap kebebasan dan kebahagiaan. Sementara itu, esai kritis membahas pandangannya mengenai filsafat dan sastra.
6. Resistance, Rebellion, and Death: Essays
Rekomendasi buku Albert Camus berikutnya adalah Resistance, Rebellion, and Death. Buku ini merupakan kumpulan esai yang diterbitkan pada 1960, tahun yang sama dengan wafatnya sang penulis.Buku ini berisi 23 esai, artikel, hingga wawancara yang dipilih sendiri oleh Camus. Ia membahas berbagai konflik di kawasan Mediterania, juga mengkritik berbagai bentuk ketidakadilan, seperti hukuman mati, serta mengecam praktik totalitarianisme.
Camus pun menegaskan pentingnya memperjuangkan keadilan dan kebebasan di dunia modern. Meski mengakui bahwa dunia sering kali dipenuhi kejahatan, Camus tetap menyuarakan harapan bahwa melalui usaha yang terus-menerus, keadilan dapat diperjuangkan.

7. Seri Notebooks Albert Camus
Seri Notebooks adalah kumpulan catatan pribadi Albert Camus yang diterbitkan setelah kematiannya. Karya ini terdiri dari tiga jilid, yaitu Notebooks 1935-1942 (1963), Notebooks 1942-1951 (1965), dan Notebooks 1951-1959 (2008).Notebooks 1935-1942 ini berisi berbagai catatan, aforisme, atau gagasan Albert Camus yang berkaitan dengan proses kreatif dan pemikirannya. Dalam catatan ini, ia banyak membahas tema-tema penting seperti humanisme dan pemberontakan.
Jilid kedua, Notebooks 1942-1951, memberikan gambaran tentang pemikiran Camus ketika ia sedang menulis beberapa karya besarnya, seperti The Plague, The Rebel, dan The Misunderstanding.
Notebooks 1951-1959 menyoroti periode akhir kehidupan Albert Camus, termasuk persaingannya dengan Jean-Paul Sartre dan ketegangannya dengan sebagian kaum kiri setelah terbitnya The Rebel, serta reaksinya saat menerima Nobel Prize in Literature.
8. The Fall
The Fall merupakan novel filsafat yang terbit pada tahun 1956 dan menjadi karya fiksi terakhir Albert Camus yang selesai sepenuhnya. Novel ini berlatar di Amsterdam, kisahnya disampaikan melalui serangkaian monolog dramatis dari tokoh utama bernama Jean-Baptiste Clamence.Kepada seorang asing di sebuah bar, Clamence mengisahkan kehidupan masa lalunya yang gemilang sebagai pengacara sukses yang sangat dihormati di Paris. Namun, Clamence mengalami krisis yang membuatnya “jatuh”, layaknya manusia yang terusir dari Taman Eden.
Melalui pengakuan ini, Albert Camus mengeksplorasi berbagai tema filosofis seperti kepolosan, keberadaan manusia, kebebasan, dan kebenaran.
Itu dia beberapa buku yang bisa dijadikan bacaan untuk menggali pemikiran mendalam dari seorang Albert Camus. Buku-buku Albert Camus tidak hanya menghadirkan cerita yang menarik, tapi juga mengajak pembaca merenungkan berbagai pertanyaan tentang kehidupan, dan makna keberadaan manusia.
Melalui karya-karyanya, pembaca dapat melihat bagaimana Camus memandang dunia yang sering kali penuh ketidakpastian, sekaligus memahami gagasan filsafat yang membuat namanya tetap dikenang hingga sekarang.
Butuh buku bacaan lain untuk mengisi waktu luang? Cek rekomendasi buku dari berbagai genre untuk menambah wawasan sekaligus hiburan di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id




































