tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons keputusan Moody’s Investors Service yang mengubah outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Menurutnya, kekhawatiran lembaga pemeringkat internasional tersebut bersifat sementara dan akan mereda seiring membaiknya fundamental ekonomi nasional.
Purbaya mengakui terdapat sejumlah program pemerintah yang berpotensi menjadi perhatian Moody’s. Namun, ia menilai percepatan pertumbuhan ekonomi ke depan akan mampu mengikis keraguan tersebut.
“Pelan-pelan nanti keraguannya akan hilang lagi," ujarnya di Kompleks Kementerian Keuangan, Jumat (6/2/2026).
Ia menegaskan, penilaian kredit pada dasarnya bertumpu pada dua hal utama, yakni kemampuan dan kemauan suatu negara dalam membayar utang. Dalam konteks itu, Purbaya memastikan Indonesia memenuhi kedua aspek tersebut.
"Dua-duanya kita penuhi, jadi harusnya nggak ada masalah. Ini saya pikir hanya yang agak pendek saja ya," tegasnya.
Lebih lanjut, Purbaya mengatakan perubahan outlook tersebut berpotensi memengaruhi arus modal asing, meskipun dampaknya tidak akan merata bagi seluruh investor.
"Kalau orang yang penakut ya akan takut," katanya.
Meski demikian, ia mengajak investor untuk melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya semakin solid. Salah satunya tercermin dari kinerja ekonomi kuartal IV-2025 yang tumbuh positif sebesar 5,39 persen.
"Nggak ada alasan ketakutan kita nggak bisa bayar atau kita nggak mau bayar utang," imbuhnya.
Purbaya bahkan optimistis prospek peringkat kredit Indonesia ke depan justru berpeluang membaik, bukan mengalami penurunan. Ia meyakini, dengan perbaikan fundamental ekonomi yang berkelanjutan serta target pertumbuhan 6 persen atau lebih, penilaian lembaga pemeringkat akan berubah.
"Alasannya enggak terlalu kuat untuk mendowngrade. Justru kita harusnya pelan-pelan akan ada prospek upgrade, mungkin setelah akhir tahun ketika ekonomi kita tumbuh 6 persen atau lebih," jelasnya.
Dari sisi kebijakan, Purbaya menegaskan pemerintah akan memastikan laju ekonomi berjalan lebih cepat melalui pelaksanaan program-program prioritas secara tepat sasaran, efektif, dan efisien. Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Jangan sampai ada pemborosan yang tidak terkontrol di sana. Itu mungkin Moody's juga khawatir di situ," tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































