tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa pemerintah akan mengkaji penurunan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk mendukung daya beli masyarakat. Namun, ia menegaskan bahwa kementeriannya akan bersikap hati-hati dalam mengevaluasi usulan besaran tarif pajak tersebut.
“Jadi kita pikir-pikir gini deh, saya hitung dulu sebetulnya kondisi kemampuan kita mengumpulkan tax sama cukai seperti apa sih,” kata Purbaya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, dikutip dari YouTube Indef, Selasa (28/10/2025).
Mantan Ketua Dewan Komisioner LPS ini juga mengungkapkan bahwa penurunan tarif akan memiliki konsekuensi fiskal yang tidak ringan. Berdasarkan perhitungannya, setiap 1 persen penurunan tarif PPN dapat menggerus penerimaan negara hingga Rp70 triliun.
“Waktu di luar juga saya enak ngomongnya turunin aja ke 8 persen, tapi begitu jadi Menteri Keuangan setiap 1 persen turun saya kehilangan pendapatan Rp70 triliun, wah rugi juga nih,” tuturnya.
Purbaya menyatakan bahwa penurunan tarif hanya akan dipertimbangkan setelah sistem perpajakan diperbaiki dan kapasitas riil pemungutan pajak dapat terukur dengan jelas. Ia memberi tenggat waktu evaluasi hingga triwulan pertama tahun depan.
“Kalau sistemnya diperbaiki saya akan perbaiki sekarang sampai dua triwulan ke depan, ya mungkin akhir triwulan pertama tahun depan saya sudah lihat. Dari situ saya bisa ukur sebetulnya potensi saya berapa sih yang real, nanti kalau saya turunkan kurangnya berapa, dampak pertumbuhan ekonominya berapa,” paparnya.
Menteri Keuangan yang baru menjabat sekitar dua bulan ini menekankan komitmennya untuk menjaga defisit anggaran di bawah batas aman 3 persen. Ia menegaskan tidak akan mengambil kebijakan secara sembarangan.
“Jadi walaupun saya sembarang, kayak koboi, saya pelit dan hati-hati. Kalau jeblok nanti di atas 3 persen defisit saya. Nanti lu diledekin saya lagi,” ujarnya.
Meskipun, sambungnya, gaya komunikasi dan tindakannya kerap dianggap konyol oleh sebagian kalangan, ia memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambilnya tetap dilakukan dengan kehati-hatian.
“Jadi walaupun saya katanya konyol gak konyol-konyol amat, pak,” ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































