tirto.id - Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mengungkapkan pelaksanaan arus mudik Lebaran 2026 dari sejumlah terminal di Jakarta masih berjalan lancar, hingga Selasa (17/3/2026) hari ini.
"Untuk kebijakan mudik dan pelaksanaan mudik di Jakarta, Alhamdulillah, dari empat terminal utama dan tiga terminal tambahan yang kami monitor masih berjalan lancar, terutama di terminal tipe A, yaitu Terminal Terpadu Pulo Gebang," kata Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Ujang Hermawan, di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, Selasa (17/3/2026) dilansir dari Antara.
Dia memastikan pihaknya terus memantau perkembangan arus mudik di empat terminal utama dan tiga terminal tambahan yang melayani keberangkatan pemudik.
Menurut dia, salah satu titik pemantauan utama berada di Terminal Terpadu Pulo Gebang yang merupakan terminal tipe A dan menjadi salah satu pusat keberangkatan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) terbesar di Jakarta.
Ujang menjelaskan berdasarkan data pemantauan terakhir, lonjakan penumpang sempat terjadi pada Jumat (13/3) lalu. Pada hari itu, tercatat lebih dari 4.000 penumpang berangkat menggunakan sekitar 800 bus dari terminal tersebut.
Dishub DKI juga menyiagakan berbagai unsur petugas untuk memastikan kelancaran dan keselamatan perjalanan pemudik.
Petugas yang berjaga di terminal berasal dari berbagai instansi, mulai dari Dinas Perhubungan, tenaga kesehatan, hingga relawan.
"Kami menyiagakan petugas dari Dinas Perhubungan yang terpadu dengan Dinas Kesehatan, PMI, Pramuka, serta petugas dari masing-masing operator bus," ujar Ujang.
Sementara itu, Dishub DKI memprediksi puncak arus mudik dari Jakarta akan terjadi pada Rabu, 18 Maret 2026. Pada hari itu, diperkirakan jumlah penumpang yang berangkat dari terminal meningkat signifikan.
Menghadapi puncak mudik Lebaran 2026, Dishub DKI Jakarta memperketat pemeriksaan kelaikan kendaraan atau ramp check terhadap seluruh bus di Terminal Terpadu Pulo Gebang.
Kegiatan ramp check itu dilakukan secara rutin untuk memastikan keamanan dan kesiapan seluruh armada bus yang akan digunakan masyarakat untuk mudik Lebaran.
Pemeriksaan tersebut meliputi berbagai komponen penting kendaraan, di antaranya sistem pengereman, kondisi ban, lampu, serta kelengkapan administrasi kendaraan.
"Langkah ini dilakukan untuk memastikan bus yang mengangkut pemudik benar-benar dalam kondisi aman dan siap beroperasi," ucap Ujang.
Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan sejauh ini, Dishub DKI masih menemukan beberapa catatan teknis pada sejumlah kendaraan.
Meski demikian, temuan tersebut dinilai masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu kelayakan operasional kendaraan.
Akan tetapi, Dishub DKI Jakarta tetap memberikan catatan kepada perusahaan otobus (PO) apabila ditemukan kekurangan pada kendaraannya.
Jika kondisi bus dinilai tidak memenuhi standar keselamatan, maka pihak operator diminta segera melakukan perbaikan atau bahkan mengganti armada yang akan digunakan.
'Kalau misalnya, catatannya banyak, kekurangannya cukup signifikan, maka kita minta kepada PO atau pemilik bus untuk menukar kendaraannya dengan yang lebih siap agar bisa mengangkut penumpang dengan aman dan selamat sampai tujuan," ujar Ujang.
Tak hanya bus, pemeriksaan juga dilakukan terhadap sopir bus yang akan mengangkut pemudik ke kampung halamannya.
Dishub DKI menegaskan pengemudi yang tidak lolos tes kesehatan di terminal tersebut tidak diperkenankan untuk membawa pemudik pada Lebaran kali ini.
"Kalau memang hasil tes kesehatannya tidak memungkinkan, entah karena tekanan darah atau gula darah yang tinggi, tentu tidak diperkenankan. Kemarin sempat ditemukan satu orang dan langsung diganti sopirnya," kata Ujang.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan penumpang selama perjalanan jarak jauh menuju berbagai daerah.
Ujang menegaskan pemeriksaan yang dilakukan bersama dengan tenaga medis dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta itu wajib diikuti oleh pengemudi bus yang akan membawa penumpang.
Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan kondisi fisik, di antaranya tekanan darah, kadar gula darah, serta kondisi kesehatan lain yang dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan sopir dalam mengemudi.
Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, petugas sempat menemukan satu sopir bus yang tidak diperkenankan mengemudi karena kondisi kesehatannya dinilai tidak memenuhi syarat untuk melakukan perjalanan jauh.
Untuk menghindari risiko kecelakaan akibat kelalaian atau kondisi fisik yang menurun, sopir tersebut langsung digantikan oleh pengemudi lain.
Masuk tirto.id

































