Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar tentang Pahlawan

Penulis: Yulaika Ramadhani, tirto.id - 7 Nov 2023 19:42 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar dapat dibaca sebagai simbol penghargaan terhadap pejuang RI di acara peringatan Hari Pahlawan 10 November.
tirto.id - Hari Pahlawan dapat diperingati dengan berbagai cara. Salah satunya adalah membagikan atau membacakan puisi tema pahlawan.

Salah satu puisi Hari Pahlawan yang cocok dibagikan atau dibacakan ialah sajak-sajak ciptaan Chairil Anwar. Ada banyak puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar, seperti "Diponegoro", "Karawang – Bekasi", juga "Siap Sedia".

Chairil Anwar merupakan sastrawan yang terkenal dengan sajak-sajaknya yang mendobrak. Sajak berjudul “Aku", misalnya, yang ditulis pada 1943 kemudian dimuat di majalah Timur tahun 1945, dianggap sebagai puisi yang berpengaruhnya bagi Angkatan '45.

Artati Sudirdjo, sebagaimana dikutip oleh Hans Bague Jassin dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956), menulis, sebagai orang pertama yang merintis jalan dan membentuk aliran baru dalam kesusastraan Indonesia, Chairil dapat dikatakan sebagai sosok paling berpengaruh bagi Angkatan '45.

Chairil banyak melahirkan puisi-puisi bertema perjuangan. Salah satunya adalah puisi "Karang Bekasi" yang diciptakannya pada 1948.

Pada zaman pendudukan Jepang, Chairil menggambarkan siksaan Kempeitai, polisi rahasia Jepang, melalui sajak berjudul “Siap Sedia".


Puisi Perjuangan Pahlawan Karya Chairil Anwar


Berikut kumpulan puisi karya Chairil Anwar tentang pahlawan yang cocok dibacakan dalam acara peringatan Hari Pahlawan. Total ada 8 puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar yang dirangkum di bawah ini.

1. Puisi Karawang Bekasi karya Chairil Anwar

Berikut ini puisi "Karawang Bekasi" yang diciptakan Chairil Anwar:

Karawang – Bekasi


Kami yang kini terbaring antara Karawang – Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda
Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang – Bekasi

(1948)

2. Puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar berjudul Diponegoro

Berikut ini sajak lengkap karya Chairil Anwar tentang pahlawan berjudul "Diponegoro":

Diponegoro

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati

MAJU

Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(1943)


3. Puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar berjudul Siap Sedia

"Siap Sedia" termasuk salah satu dari kumpulan puisi karya Chairil Anwar tentang pahlawan. Berikut isinya:

Siap-Sedia

kepada angkatanku

Tanganmu nanti tegang kaku,
Jantungmu nanti berdebar berhenti,
Tubuhmu nanti mengeras batu,
Tapi kami sederap mengganti,
Terus memahat ini Tugu,

Matamu nanti kaca saja,
Mulutmu nanti habis bicara,
Darahmu nanti mengalir berhenti,
Tapi kami sederap mengganti,
Terus berdaya ke Masyarakat jaya.

Suaramu nanti diam ditekan,
Namamu nanti terbang hilang,
Langkahmu nanti enggan ke depan,
Tapi kami sederap mengganti,
Bersatu maju, ke Kemenangan.

Darah kami panas selama,
Badan kami tertempa baja,
Jiwa kami gagah pekasa,
Kami akan mewarna di angkasa,
Kami pembawa ke Bahgia nyata.

Kawan, kawan
Menepis segar angin terasa
Lalu menderu menyapu awan
Terus menembus surya cahaya
Memancar pencar ke penjuru segala
Riang menggelombang sawah dan hutan

Segala menyala-nyala!
Segala menyala-nyala!

Kawan, kawan
Dan kita bangkit dengan kesedaran
Mencucuk menerang hingga belulang.
Kawan, kawan
Kita mengayun pedang ke Dunia Terang!

1944

4. Puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar berjudul Persetujuan Dengan Bung Karno

Berikut ini isi puisi pahlawan karya Chairil Anwar yang berjudul "Persetujuan Dengan Bung Karno".

Ayo Bung Karno kasih tangan,
Mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu,
dipanggang di atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tanggal 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno, Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh.

1953

5. Puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar berjudul Perjurit Jaga Malam

"Perjurit Jaga Malam" termasuk salah satu karya puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar. Berikut isinya:

Perjurit Jaga Malam

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam,
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu....
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

1948

6. Puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar berjudul Aku

"Aku" juga termasuk puisi yang punya kaitan erat dengan pahlawan dan semangat kebangsaan. Buyung Saleh dalam Suluh Indonesia (1961) mengatakan, Chairil tidak bisa dilepaskan dari keakuannya. Di sisi lain, ia juga punya semangat kebangsaan yang menjelma lewat karya-karyanya.

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

1943

7. Puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar berjudul Hukum

Selain puisi Karawang Bekasi, ada juga puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar. Judulnya "Hukum". Berikut isinya:

Hukum

Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu

Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.

Bungkuk jalannya — Lesu
Pucat mukanya — Lesu

Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa
Melecut supaya terus ini padanya

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti!

1943

8. Puisi perjuangan pahlawan karya Chairil Anwar berjudul Malam

"Malam" juga bisa dimasukkan dalam kumpulan puisi karya Chairil Anwar tentang pahlawan. Sajak ini menceritakan tentang perjuangan perang, digambarkan melalui kata Thermopylae, yang merujuk pada Pertempuran Thermopylae antara Yunani melawan Persia pada 191 SM.

Berikut isi sajak "Malam" karya Chairil, yang ditulis pada 1945:

Malam

Mulai kelam
belum buntu malam,
kami masih saja berjaga
—Thermopylae? —
—jagal tidak dikenal? —
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam
hilang....

1945


Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yantina Debora
Penyelaras: Fadli Nasrudin
DarkLight