Menuju konten utama

PTDI Siapkan N219 sebagai Pesawat Komersial Penumpang dan Kargo

N219 merupakan produk PTDI yang pertama kali memperoleh sertifikasi laik udara (Type Certificate) pada Desember 2020.

PTDI Siapkan N219 sebagai Pesawat Komersial Penumpang dan Kargo
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Gita Amperiawan, dalam acara FGD dan penandatanganan MoU mengenai AMTO dan MRO di Kuta, Badung, Selasa (25/11/2025). Tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyiapkan N219 sebagai pesawat komersial yang akan membawa penumpang dan kargo, terutama hasil laut seperti lobster dan ikan. Pesawat jenis twin otter tersebut memiliki dua mesin, mampu mengangkut 19 penumpang, serta berfungsi efektif di bandara perintis dengan landasan pacu kurang dari satu kilometer dan belum beraspal.

Pesawat N219 sedang dikaji untuk konektivitas di wilayah Kepulauan Riau. Dalam kepulauan tersebut, terdapat 10 titik yang kemungkinan dapat diterbangi N219 secara komersial. PTDI mengincar Bali sebagai penghubung wilayah timur dengan Bandar Udara Letkol Wisnu, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, sebagai pusat pengembangannya.

"Kita sedang menunggu untuk kita kerjakan di wilayah Kepulauan Riau, tetapi setelah itu kita tinggal masuk. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita membangun trust, dari pemerintah, masyarakat, dan semua, bahwa kita mampu," ungkap Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, dalam acara FGD dan penandatanganan MoU mengenai AMTO dan MRO di Kuta, Badung, Selasa (25/11/2025).

Saat ini, pesawat seharga 8,9 juta dolar AS tersebut dikembangkan untuk kebutuhan militer. Gita mengungkap, pada kuartal ketiga tahun 2025, PTDI telah memproduksi 6 unit N219 untuk keperluan TNI Angkatan Darat. Namun, Presiden Prabowo Subianto menugaskan mereka untuk memproduksi 30 unit lagi untuk militer, di samping N219 amfibi yang masuk ke Proyek Strategis Nasional (PSN).

"Kami diberi fasilitas oleh Dishub Provinsi Bali untuk merevitalisasi Bandara Letkol Wisnu yang sangat ideal. Posisinya di Bali Utara dan ada runway, cukup untuk N219. Itu ada 900 meter, N219 cukup 800 meter saja, dan bisa diperpanjang sampai 1500 meter. Di ujungnya adalah laut, bisa untuk amfibi," jelasnya.

Gita menjelaskan, N219 merupakan produk PTDI yang pertama kali memperoleh sertifikasi laik udara (Type Certificate) pada Desember 2020. Pesawat ini pernah menjadi objek utama pada side event G20 di Belitung, serta mendapat dukungan dari Aircraft Manufacturing Facility (AMF).

Saat ini, Gita menyampaikan bahwa investor dan operator untuk pesawat N219 sudah siap. Pihak-pihak terkait hanya sedang menunggu kebijakan pemerintah untuk memberikan block seat (pemblokiran kursi tertentu) sebesar 65 persen.

"Kalau N219 ini hadir sebagai konektivitas wilayah, maka pemerintah menjamin okupansi dari pesawat 65 persen, tidak kurang untuk operator. Kalau kurang, itu top up oleh pemerintah. Jadi itu yang terjadi dan ternyata bentuknya adalah subsidi. Kurang lebih nanti masyarakat itu membayar sekitar 30 persen dari normalnya," ucap Gita.

Baca juga artikel terkait PESAWAT N219 atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - Insider
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah