tirto.id - Ayatollah Ali Khamenei adalah Supreme Leader atau Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989. Dalam perang Israel vs Iran yang sedang berlangsung saat ini, sosok Ayatollah Ali Khamenei menjadi target perburuan Israel. Berikut profil Ayatollah Ali Khamenei.
Khamenei dikenal sebagai tokoh sentral dalam politik dan agama Iran. Ia berperan penting dalam membentuk kebijakan luar negeri negara tersebut, termasuk soal nuklir. Khamenei pernah membuat fatwa melarang pembuatan senjata nuklir, namun kini banyak desakan untuk mencabut fatwa tersebut setelah agresi Israel.
Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran
Ali Hosseini Khamenei atau Ayatollah Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939. Ia adalah putra kedua dari pasangan Javad Khamenei dan Khadijeh Mirdamadi. Jika dirunut nasabnya, Khamenei adalah keturunan dari Ali al-Sajjad, Imam ke-4 dalam mazhab Syiah yang merupakan cucu dari Imam Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat Nabi Muhammad saw.
Khamenei menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran sejak tahun 1989. Sebelumnya, Khamenei menjabat sebagai Supreme Leader, Khamenei menjadi Presiden Iran pada periode 1981 hingga 1989.
Ia lalu naik jabatan menjadi pemimpin tertinggi Iran setelah Shah Mohammad Reza Pahlavi lengser. Saat itu, Shah dengan Revolusi Putihnya ditentang habis-habisan oleh Khamenei.
Khamenei menganggap Pemerintahan Shah sangat otoriter. Terjadi kesenjangan sosial yang amat mencolok saat Shah berkuasa. Belum lagi praktek condong ke barat membuat Khamenei yang merupakan tokoh Syiah Iran ikut berang.
Khamenei menganggap Shah sebagai boneka Amerika Serikat dan gerakan westernisasi sebagai hal yang dapat mencederai Islam. Shah melihat Khamenei sebagai ancaman, karenanya Khamenei sempat diasingkan di daerah terpencil.
Setelah Revolusi Iran mencuat, Khamenei kembali ke Iran yang disambut hangat oleh masyarakat Iran saat itu. Tumbangnya rezim Shah dan kembalinya Khamenei menandai berdirinya negara Islam Iran.
Khamenei kemudian menjabat sebagai presiden Iran dua periode yakni dari tahun 1981 hingga 1989. Sampai kemudian di tahun 1989, Supreme Leader saat itu, Ayatollah Imam Sayyid Ruhollah Musavi Khomeini meninggal dunia. Khamenei pun diangkat menggantikan Khomeini menjadi pemimpin tertinggi di Iran.
Ia menjabat sebagai supreme leader Iran sejak 1989 hingga sekarang. Ini menjadikan Khamenei sebagai salah satu pemimpin negara terlama berkuasa di Timur Tengah.
Khamenei dikenal sebagai sosok pemimpin negara yang paling gencar menyuarakan ketidaksukaannya pada Israel. Ia menyebut Israel sebagai zionis yang menjadi perampas tanah Palestina.
Sebagai pemimpin tertinggi Iran, Khamenei memegang peran penting dalam kebijakan nuklir Iran. Meski pemerintah Iran dipimpin oleh presiden dan parlemen, semua keputusan, termasuk soal nuklir, berada di bawah otoritas Khamenei.
Pada 2003, Khamenei secara terbuka mengeluarkan fatwa bahwa senjata nuklir tidak diperbolehkan dalam Islam. Fatwa ini pulalah yang menjadi dasar Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir hingga saat ini. Iran hanya menggunakan nuklir sebagai wadah pengetahuan.
Namun, ketika Israel menyerang Iran pada Juni 2025 ini, banyak kalangan mendesak Khamenei untuk merevisi atau mencabut fatwa tersebut sehingga Iran dapat mengembangkan senjata nuklir untuk melawan Israel.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Elisabet Murni P
Masuk tirto.id





























