Menuju konten utama

Profil Alireza Arafi Pemimpin Sementara Iran Usai Khamenei Tewas

Sosok Alireza Arafi yang menjadi pemimpin sementara Iran usai Ali Khamenei tewas. Ia merupakan salah satu ulama senior dan tokoh politik di Iran.

Profil Alireza Arafi Pemimpin Sementara Iran Usai Khamenei Tewas
Foto yang dirilis oleh stasiun televisi pemerintah, Islamic Republic of Iran Broadcasting News (IRIBNEWS) pada 2 Maret 2026, menunjukkan Alireza Aarafi, anggota dewan yurisprudensi, selama pertemuan kedua Dewan Kepemimpinan Sementara, yang dihadiri oleh presiden Iran dan Ketua Kehakiman, di Teheran. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, menewaskan pemimpin tertinggi Iran, dan Republik Islam membalas dengan rentetan rudal ke negara-negara Teluk dan Israel pada 28 Februari 2026. (Foto oleh Handout / IRIBNEWS / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Alireza Arafi ditunjuk untuk menjadi pemimpin Iran sementara setelah Supreme Leader Ali Khamenei tewas dalam serangan udara militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Otoritas Iran membentuk sebuah Dewan Kepemimpinan Sementara atau Interim Leadership Council berdasarkan konstitusi negara.

Dewan ini terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Yudikatif Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan Arafi sebagai wakil ulama dari Dewan Garda.

Ketiganya akan mengambil alih tugas pemimpin tertinggi secara kolektif untuk menjaga kontinuitas pemerintahan sampai Majelis Ahli, yaitu badan ulama yang berwenang, memilih pemimpin baru secara resmi.

Profil Alireza Arafi

Alireza Arafi lahir pada 1959 di Meybod, Provinsi Yazd, Iran. Ia merupakan salah satu ulama senior dan tokoh politik paling berpengaruh dalam struktur Republik Islam Iran saat ini.

Arafi lahir dalam keluarga ulama dan sejak kecil sudah terpapar pendidikan keagamaan. Ayahnya, Ayatollah Mohammad Ibrahim al-Arafi, dikenal dekat dengan pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini, meskipun sebagian analis mempertanyakan sejauh mana hubungan itu benar-benar dekat.

Alireza Arafi menempuh pendidikan dasar di Meybod sebelum melanjutkan ke Qom, pusat studi Islam Syiah di Iran.

Di Qom, ia mengikuti kursus seminari, mempelajari bahasa Arab dan Inggris, serta mempelajari matematika dan filsafat, di bawah bimbingan sejumlah ulama ternama seperti Ali Meshkini, Muhammad Baqir al-Sadr, Kazem al-Haeri, Morteza Haeri Yazdi, Mohammad Fazel Lankarani, Hossein Vahid Khorasani, Jawad Tabrizi, Abdollah Javadi-Amoli, Morteza Motahhari, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi.

Berkat dedikasi dan pemahamannya dalam ilmu fiqh dan filsafat Islam, Arafi meraih gelar mujtahid, sehingga memiliki otoritas untuk mengeluarkan fatwa hukum Islam secara independen.

Karier Arafi mulai menonjol setelah almarhum Ayatollah Ali Khamenei mengambil alih kepemimpinan pada 1989. Pada usia 33 tahun, Arafi ditunjuk menjadi imam salat Jumat di Meybod, sebuah posisi penting yang menunjukkan kepercayaan tinggi dari elite kepemimpinan.

Seiring waktu, ia menerima berbagai posisi kunci dalam birokrasi keagamaan dan politik, termasuk sebagai imam salat Jumat Qom sejak 2015, jabatan yang membuatnya memimpin ibadah mingguan di pusat spiritual dan pendidikan Syiah paling penting di Iran.

Dari 2008 hingga 2018, ia juga menjadi Rektor Al-Mustafa International University, sebuah institusi yang fokus pada pendidikan ulama dan penyebaran ajaran Islam Syiah secara global.

Pada 2016, Khamenei mengangkat Arafi sebagai kepala seminari-seminari nasional Iran, yang memberinya kontrol atas pendidikan dan pembinaan ulama di seluruh negeri. Posisi ini menjadikannya salah satu tokoh sentral dalam menjaga kesinambungan ideologi Syiah dan sistem kepemimpinan ulama di Republik Islam.

Pada Juli 2019, ia juga ditunjuk sebagai anggota Dewan Garda (Guardian Council), lembaga konstitusional yang memiliki wewenang besar untuk meninjau Undang Undang serta menyetujui atau menolak kandidat pemilu, yang menempatkan Arafi di jantung mekanisme pengawasan politik Iran.

Setelah wafatnya Khamenei pada 28 Februari 2026 dalam serangan udara gabungan AS–Israel, Arafi ditunjuk sebagai anggota Dewan Kepemimpinan Sementara (Interim Leadership Council), bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Yudikatif Gholam-Hossein Mohseni-Ejei.

Dewan ini bertugas menjalankan fungsi kepemimpinan tertinggi sementara hingga Majelis Ahli secara resmi memilih pemimpin baru, menandai peran Arafi sebagai penjaga stabilitas politik dan agama di masa transisi kritis bagi Iran.

Secara ideologis, Arafi menekankan bahwa Islam, khususnya Syiah, adalah sistem pemikiran dan peradaban yang lengkap, mampu memberikan jawaban atas tantangan filsafat, budaya, dan politik Barat modern.

Ia secara terbuka mengkritik sekularisme, liberalisme, dan materialisme, serta menekankan pentingnya solidaritas ulama dengan kaum tertindas dan peran internasional ulama dalam menyebarkan Islam.

Dalam pidato dan tulisannya, ia menekankan perlunya pendidikan ulama yang bersifat revolusioner, terhubung dengan rakyat, dan berpikiran global. Ia juga menulis lebih dari 20 buku dan artikel tentang hukum Islam dan filsafat, menegaskan reputasinya sebagai akademisi berpengaruh.

"Seminari (di Iran) harus berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan kaum tertindas, bersifat politis (Islamis), revolusioner, dan internasional (dalam pendekatan)," ucapnya dikutip Times of India.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra