tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk tidak memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 meskipun dibayangi ketegangan geopolitik Timur Tengah. Alih-alih menaikkan batas defisit, Presiden menginstruksikan langkah efisiensi ekstrem, mulai dari penghematan konsumsi BBM hingga optimalisasi GovTech untuk menutup kebocoran negara.
"Kita Alhamdulillah sudah mengamankan masalah pangan yang mendasar. Masalah BBM kita sebenarnya sudah punya rencana-rencana, ini akan kita akselerasi," ujarnya dalam Sidang Kabinet, di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).
Kendati sudah memiliki rencana untuk meningkatkan pasokan BBM nasional, Prabowo tetap mengimbau agar para punggawanya dapat melakukan langkah-langkah proaktif untuk menghemat konsumsi BBM.
"Kita tidak bisa menganggap bahwa apapun terjadi kita aman. Ya, kita bersyukur kita aman, tapi kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita," tambahnya.
Banyak negara yang demi menghemat konsumsi BBM, memutuskan untuk menempuh kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) atau hanya empat hari kerja. Bahkan, ada pula saat krisis seperti pandemi COVID-19, negara yang harus sampai memotong gaji anggota parlemen.
"Dan semua penghematan gaji ini dikumpulkan untuk membantu kelompok yang paling rentan atau kelompok yang paling lemah. Mereka memotong semua ketersediaan BBM untuk semua kementerian. Dan mereka mewajibkan 60 persen kendaraan pemerintah untuk tidak digunakan pada setiap saat," tambahnya.
Oleh sebab itu, alih-alih menaikkan batas defisit, penghematan atau efisiensi anggaran justru akan menjadi jalan keluar.
"Saya kira kita juga harus mengupayakan bahwa kita melakukan penghematan. Saya percaya dua tiga tahun kita akan sangat kuat, tapi tetap kita harus hemat konsumsi. Dengan demikian kita berharap kita akan selalu menjaga bahwa kita defisit kita tidak tambah. Bahkan cita-cita kita adalah kalau bisa kita tidak punya defisit. Sasaran kita adalah APBN kita harus balanced budget, itu paling ideal," tegas Prabowo.
Selain efisien anggaran, ia juga akan mengoptimalkan penutupan kebocoran-kebocoran penerimaan negara. Dalam hal ini, ia menilai GovTech yang merupakan bentuk sinkronisasi semua K/L menjadi satu jaringan diperkirakan bisa mengurangi kebocoran sampai dengan 40 persen.
"Nah, jadi ini saya minta dibicarakan nanti ya mungkin oleh Menko-Menko nanti berapa hari ini kita lihat. Kita pikirkan. Dulu kita atasi COVID-19, berhasil kita. Dan kita mampu, banyak bekerja dari rumah, efisiensi, berarti kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar," kata dia.
Efisiensi seperti kebijakan WFH untuk ASN hingga mengurangi hari kerja juga layak dipertimbangkan sebagai langkah penghematan konsumsi BBM sekaligus mengatasi masalah kemacetan.
"Walaupun merasa aman, tidak panik tapi kita juga tidak boleh terlalu lengah. Kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek. Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi perang yang sangat panjang, perang yang sangat panjang," tutup Prabowo.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































