Menuju konten utama

Prabowo Ingin Pertamina Tiru Kejayaan Era Ibnu Sutowo

Pada masa awal berdirinya, Pertamina tidak hanya berfungsi sebagai perusahaan minyak, tetapi juga menjadi motor pembangunan dan modernisasi nasional.

Prabowo Ingin Pertamina Tiru Kejayaan Era Ibnu Sutowo
Kantor Pusat Pertamina di Jl. Medan Merdeka Timur 1a, Jakarta Pusat. (FOTO/iStockphoto)

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto meminta PT Pertamina (Persero) meniru masa kejayaan era kepemimpinan Direktur Utama pertama Pertamina, Ibnu Sutowo. Sebab, saat era Sutowo Pertamina berperan sebagai agent of change, agent of development, dan agent of modernization.

Penegasan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan proyek kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan senilai Rp123 triliun di Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).

“Dulu, Pertamina di awalnya dipimpin oleh Pak Ibnu Sutowo jadi agent of change, agent of development, agent of modernization, Pertamina dulu punya bagian advance technology dimulai dari Pertamina,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, pada masa awal berdirinya, Pertamina tidak hanya berfungsi sebagai perusahaan minyak, tetapi juga menjadi motor pembangunan dan modernisasi nasional.

Karena itu, ia berharap BUMN migas tersebut mampu kembali ke masa kejayaannya dengan meningkatkan efisiensi dan menjadi juara nasional di sektor energi.

Prabowo juga mengenang peran Ibnu Sutowo sebagai sosok visioner, termasuk menggagas program food estate yang pertama kali dijalankan di Sumatera Selatan. Namun, Prabowo menyinggung adanya pihak-pihak yang dinilainya kerap menghambat upaya kemandirian bangsa.

“Dulu Pak Ibnu Sutowo yang menggagas food estate mulai dikerjakan di Sumsel, tapi ya tentunya apa yang disampaikan Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia) ada pihak-pihak yang selalu menurut saya tidak patriotik, di dalam tubuh kita tapi saya tidak mengerti apa sudah dibeli oleh bangsa lain akhirnya berusaha menggagalkan kemampuan kita sendiri,” ujarnya.

Prabowo turut menyoroti praktik-praktik tidak sehat yang sempat terjadi di tubuh Pertamina dan sektor energi nasional.

Ia mengatakan kegelisahan masyarakat terhadap tata kelola Pertamina beberapa tahun terakhir menjadi catatan penting bagi pemerintah.

“Kita harus mengakui bahwa beberapa tahun belakangan, rakyat pun merasa bahwa terjadi permainan-permainan tidak sehat di Pertamina, dan di pengaturan ESDM kita,” kata Prabowo.

Ia menyebut praktik tersebut berkaitan dengan impor komoditas energi melalui manipulasi harga untuk meraup keuntungan pribadi.

Sejak awal menjabat sebagai presiden, Prabowo mengaku bertekad membersihkan Pertamina.

“Karena itu, waktu saya menjadi presiden, saya bertekad untuk membersihkan Pertamina,” ujarnya.

Prabowo menuturkan dirinya menunjuk Simon Aloysius bersama sejumlah anak muda untuk memimpin Pertamina dengan pesan tegas agar tidak menyalahgunakan kewenangan.

“Saya angkat saudara Simon Aloysius dengan beberapa anak muda. Dan saya beri tugas, jangan korupsi. Jangan kau cari kaya di atas kepercayaan ini,” tuturnya.

Ia menilai praktik kecurangan saat ini semakin mudah terdeteksi seiring kemajuan teknologi.

Menurut Prabowo, pemimpin yang berperilaku curang pada akhirnya akan diketahui oleh bawahannya sendiri.

“Pengalaman saya di tentara, pemimpin itu maling, cepat anak buah tahu. Cepat sekali. Mungkin orang luar tidak tahu. Mungkin BPK bisa dikibulin, KPK bisa dikibulin, tetapi anak buah akan tau,” katanya.

Sebagai informasi, dalam artikel Tirto membahas profil Ibnu Sutowo menyebut, mulanya Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel Abdul Haris Nasution memberi kepercayaan pada Kolonel Ibnu Sutowo sebagai Komandan Operasi Sadar. Sejak 1955, Ibnu menjadi Panglima TT II Sumatera Selatan (kini Kodam Sriwijaya).

Demi amannya minyak-minyak di sana pula, pada 10 Desember 1957, KSAD menunjuk Ibnu Sutowo sebagai Direktur Utama perusahaan tambang minyak. Semula perusahaan itu bernama PT Eksplotasi Tambang Sumatera Utara, kemudian diganti menjadi Perusahaan Minyak Nasional (Permina).

Dalam sejarah Pertamina, Ibnu Sutowo adalah direktur utama terlama, sejak 1968 hingga 1976. Ia termasuk jenderal yang kaya-raya. Ibnu Sutowo meninggal pada 12 Januari 2001, tepat hari ini 25 tahun lalu.

Menurut catatan Mochtar Lubis dalam Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya Seri 2: Korupsi dan Ekonomi, Pendidikan dan Generasi Muda, Hukum ABRI (1997), Ibnu Sutowo punya enam atau tujuh perusahaan pribadi yang diurusnya di waktu senggang (hlm. 137).

Tak lupa, tiap tahunnya dia berderma 500 ribu dolar AS dari uang negara. Tuduhan korupsi pun pernah mengarah kepadanya.

Baca juga artikel terkait PERTAMINA atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Insider
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama