tirto.id - Presiden Prabowo Subianto dan rombongan telah tiba di Tanah Air usai merampungkan kunjungan ke dua negara, Jepang dan Republik Korea pada sekitar pukul 23.55 WIB. Selama kunjungan terakhirnya di Korea Selatan, ia menyaksikan penandatanganan 10 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara lembaga pemerintah, serta 17 MoU antara pelaku bisnis kedua negara senilai 10,268 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp173 triliun.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan kerja sama tersebut mencakup berbagai sektor strategis, antara lain energi dan transisi hijau, termasuk tenaga surya, penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS), serta energi terbarukan. Selain itu, kerja sama juga meliputi sektor industri dan manufaktur seperti baja, baterai, dan transportasi ramah lingkungan.
“Dalam investasi tersebut juga termasuk sektor digital dan AI. Kemudian properti dan infrastruktur, termasuk pengembangan di Bumi Serpong Damai, dan kerja sama bisnis dan asosiasi antara Kadin, KCCI, terutama untuk mendorong bisnis komitmen,” kata dia, dalam keterangan pers, dikutip Kamis (2/4/2026).
Sepuluh nota kesepahaman yang diumumkan kedua negara meliputi:
1. Pembentukan Dialog Strategis Komprehensif Khusus
2. Kerja sama Ekonomi 2.0
3. Kerja sama dalam Kemitraan Mineral Kritis
4. Kerja sama dalam Pengembangan Digital
5. Kerja sama di bidang AI untuk Kesehatan Dasar dan Pembangunan Manusia
6. Kerja sama di Bidang Energi Bersih
7. Kerja sama di Bidang Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS)
8. Kerja sama di Bidang Industri Jasa Pembangkit Lepas Pantai
9. Kerja sama Perlindungan dan Penegakan Hak Kekayaan Intelektual
10. Kerja sama Keuangan (Danantara – Exim Bank Korea)
Sedangkan dalam kunjungan Prabowo sebelumnya ke Jepang, Indonesia dan Jepang berhasil menandatangani komitmen investasi senilai 23,63 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp401,71 triliun.
Daftar kerja sama dengan Jepang yang diumumkan antara lain:
• MoU tentang produksi metanol dengan memanfaatkan emisi CO2 dari PKT di Bontang, Kalimantan Timur antara PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT. Kaltim Methanol Industri;
• MoU tentang keria sama di bidang perdagangan, niaga, dan investasi antara Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN Indonesia) dan Japan Chamber of Commerce and Industry;
• Kerja sama strategis untuk pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, Indonesia antara PT Pertamina (Persero) dan INPEX
• MoU untuk peluang kemitraan potensial di sektor hulu minyak dan gas di Indonesia dan Asia Tenggara antara PT Pertamina Hulu Enerai dan INPEX;
• MoU tentang Pengembangan ekosistem semikonduktor di Indonesia dan Jepang; desain dan manufaktur chip elektronik serta kecerdasan buatan antara PT Eblo Teknologi Indonesia dan Hayashi Kinzoku Co., Ltd.;
• MoU terkait berbagai kajian menuju realisasi Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Rajabasa antara PT Supreme Energy Rajabasa dan INPEX
• MoU antara SMBC Indonesia dan Pegadaian untuk berkontribusi pada ekosistem emas Indonesia serta inklusi keuangan antara PT Pegadaian dan PT Bank SMBC Indonesia;
• MoU tentang Indonesia-Japan Strategic Beauty Partnership antara PT Nose Herbal Indo dan 2Wav World;
• MoU tentang Mandiri Aviation Leasing Fund antara Danantara dan Mandiri Investment Manaqement dan SMBO Aviation Capital;
• MoU tentang Penquatan hubungan keria sama antara JETRO dan PT Danantara Investment Management.
Airlangga berujar, kunjungan ini menegaskan keberhasilan diplomasi ekonomi Presiden Prabowo dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Asia, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor global terhadap stabilitas dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Capaian tersebut diharapkan dapat segera ditindaklanjuti menjadi realisasi investasi konkret yang mendorong penciptaan lapangan kerja, penguatan industri nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menarik di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Ini sebuah angka yang sangat signifikan karena Indonesia dalam situasi geopolitik yang tidak menentu ini masih menjadi daya tarik bagi para investor baik dari Jepang maupun Korea,” pungkas Airlangga.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id


































