tirto.id - Pemerintah melaporkan persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2026 di Arab Saudi telah memasuki fase krusial. Sejumlah komponen utama, mulai dari penerbangan, pendanaan operasional, hingga layanan jemaah di Tanah Suci susah dikontrak dan disiapkan.
Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, menyampaikan persiapan penerbangan jemaah haji telah sampai pada tahap penandatanganan kontrak.
“Maskapai Garuda telah melakukan kontrak pada tanggal 17 Desember 2025, maskapai Saudi pada tanggal 23 Desember 2025,” ujar Irfan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VIII DPR RI di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Garuda Indonesia akan melayani jemaah haji dari embarkasi Banjarmasin, Kualanamu, Padang, Solo, Yogyakarta, Balikpapan, Ujung Pandang, Lombok, BTN Banten, serta sebagian Jakarta Cengkareng.
Sementara Saudi Arabian Airlines melayani jemaah dari Batam, Jakarta Pondok Gede, Kertajati, Palembang, Surabaya, serta sebagian Jakarta Cengkareng.
Dari sisi pembiayaan, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) telah mentransfer dana operasional ibadah haji sebesar Rp11.574.420.950.436 atau 63,8 persen dari total permintaan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2026 sebesar Rp18,215 triliun.
Dana tersebut digunakan untuk pembayaran tenda, paket layanan Masyair, serta sebagian hotel, konsumsi, dan transportasi dengan nilai mencapai 2.254.320.260 riyal Saudi.
“Tenggat waktu pembayarannya 20 Januari 2026 kemarin,” kata Irfan.
Persiapan layanan di Arab Saudi sendiri telah dimulai sejak 27 November 2025.
Pemerintah menyiapkan 178 hotel untuk jemaah haji reguler di Makkah yang tersebar di kawasan Misfalah, Syisyah, Raudhah, Jarwal, dan wilayah lainnya.
Sementara di Madinah, akomodasi jemaah berada di tiga wilayah utama, meliputi Markaziyah Shamaliyah, Markaziyah Gharbiyah, dan Markaziyah Janubiyah.
Dalam penyelenggaraan layanan di Arab Saudi, jemaah haji Indonesia dibagi ke dalam dua syarikah.
Al-Bayt Guests melayani jemaah dari Batam, Padang, Jakarta Pondok Gede, Yogyakarta, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan, dan Lombok.
Selain itu, Rawafid Al-Haj melayani jemaah dari Aceh, Medan, Palembang, Jakarta Bekasi, Jakarta Banten, Kertajati, Solo, dan Makassar.
Untuk layanan konsumsi, jemaah haji di Makkah akan menerima maksimal 84 kali makan. Rinciannya, 78 kali makan berupa makanan segar dan enam kali makan siap saji pada 7, 8, dan 13 Dzulhijjah.
Layanan ini akan ditangani oleh 52 dapur. Di Madinah, konsumsi jemaah dilayani oleh 23 dapur dengan maksimal 27 kali makan.
Irfan mengatakan, progres penyediaan konsumsi bagi jemaah haji telah masuk dalam proses input dan pembayaran. Sementara proses manual seluruh dapur telah selesai.
Layanan transportasi jemaah disiapkan dalam tiga skema, yakni bus antarkota perhajian, bus layanan Masyair, dan bus Shalawat.
Bus antarkota melayani rute hotel Madinah–Makkah, Makkah–Madinah, Makkah–Bandara King Abdulaziz International Airport, serta Madinah–Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz.
Bus Masyair disiapkan untuk pergerakan jemaah dari hotel ke Arafah dan layanan Taraddudi.
Sedangkan bus Shalawat disiapkan sebanyak 45 unit khusus bagi jemaah disabilitas. Fasilitas penunjang juga disediakan di setiap terminal, berupa rumah kontainer yang berfungsi sebagai layanan operasional, posko, serta layanan kedaruratan bagi jemaah sakit.
“Proses penyediaan layanan transportasi saat ini sudah selesai dengan 15 perusahaan bus,” kata Irfan.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































