tirto.id - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meningkatkan jumlah petugas haji perempuan pada penyelenggaraan haji 2026 sebagai bagian dari komitmen mewujudkan layanan haji ramah perempuan.
Peningkatan ini disertai penguatan pembinaan sumber daya manusia, rekrutmen petugas, hingga pengetatan standar pelatihan.
Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf, menyampaikan hal tersebut dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VIII DPR RI di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
“Peningkatan jumlah kuota petugas haji perempuan lebih dari 30 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini sesuai dengan apa yang kita harapkan bahwa tahun ini adalah haji ramah perempuan,” kata Irfan.
Ia memerinci, jumlah petugas perempuan pada PPIH kloter meningkat signifikan.
“Di PPIH kloter tahun 2025 ada 114 perempuan, tahun 2026 ada 198,” ujarnya.
Irfan juga memaparkan upaya Kemenhaj menyiapkan calon petugas haji 2026 agar profesional dan siap melayani jemaah. Salah satunya melalui training of trainer (ToT) fasilitator PPIH Arab Saudi dan PPIH Embarkasi yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede selama empat hari, pada 5–8 Januari 2026.
Selain itu, Kemenhaj saat ini tengah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) PPIH Arab Saudi yang diikuti 1.636 calon petugas haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Diklat tersebut berlangsung dalam dua tahap, yakni sesi luring pada 10–30 Januari 2026 dan sesi daring pada 2–8 Februari 2026.
“Kenapa kita lakukan secara semi-militer karena kita memerlukan mereka fisik siap, kita memerlukan disiplin mereka siap, dan juga kita memerlukan pemahaman medan bagi para calon petugas haji kita,” kata Irfan.
Adapun diklat PPIH kloter akan dilaksanakan di asrama haji embarkasi masing-masing.
Irfan juga menyampaikan progres kesiapan administrasi petugas. Hingga 20 Januari 2026, sebanyak 4.377 dari 4.418 atau 99,1 persen data petugas telah diinput ke dalam platform Nusuk Masar.
Di saat yang sama, Kemenhaj masih melakukan rekrutmen dan seleksi petugas haji daerah di setiap provinsi serta petugas pendukung PPIH Arab Saudi di Jeddah.
Ia memaparkan tahapan rekrutmen petugas pendukung PPIH Arab Saudi, mulai dari pengumuman pendaftaran pada 27 Desember hingga penetapan dan pengumuman hasil seleksi pada 4 Januari.
Unsur petugas pendukung PPIH Arab Saudi berasal dari mahasiswa dan mukimin. Dari unsur mahasiswa, antara lain berasal dari Mesir, Yaman, Tunisia, Suriah, Libya, Maroko, Lebanon, Jordan, dan Abu Dhabi. Sementara dari unsur mukimin terdapat 750 calon pendukung PPIH.
Jika digabung dengan unsur syarikah, jumlah pendukung mencapai sekitar 1.500 orang, atau bertambah sekitar 745 dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain aspek petugas, Irfan juga menyampaikan pembinaan manasik haji. Bimbingan manasik haji dilaksanakan lima kali, terdiri dari empat kali di tingkat kecamatan dan satu kali di kabupaten atau kota.
“Untuk pembinaan manasik haji dilaksanakan oleh kantor Kementerian Haji dan Umrah kota kabupaten dibantu oleh para pembimbing ibadah dan kelompok bimbingan ibadah haji,” ujarnya.
Kemenhaj menyatakan telah menyeleksi 685 pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), menerbitkan pedoman manasik haji terintegrasi, serta menyusun buku pedoman manasik haji.
Sementara itu, terkait perizinan dan akreditasi haji khusus dan umrah, Irfan mengatakan pemerintah tengah mempercepat proses harmonisasi antara Penyelenggara Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).
Ia menambahkan, pemerintah juga telah menuntaskan sejumlah tahapan administrasi penting untuk pelaksanaan haji tahun ini.
“Di samping itu pemerintah juga tengah menyelesaikan serah terima bank garansi dan melakukan finalisasi dua Peraturan Menteri Haji dan Umrah dan dua Keputusan Menteri Haji dan Umrah,” ujarnya.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































