tirto.id - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai risiko penggunaan senjata nuklir saat ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, RIA Novosti melaporkan pada Kamis (5/2/2026), seperti dirangkum Antara.
Ia mengatakan hal itu dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) antara Rusia dan Amerika Serikat berakhir pada Rabu (4/2/2026).
Guterres sangat menyayangkan berakhirnya pencapaian yang telah dibangun selama puluhan tahun itu. Dia mengatakan kondisi ini terjadi, "pada waktu terburuk" karena ketegangan geopolitik global sedang memuncak.
Ia memperingatkan tidak adanya batasan strategis yang terverifikasi akan memicu kekhawatiran tentang keamanan global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi.
Guterres juga sempat menyebut berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir AS dan Rusia itu sebagai, “masa kelam" bagi perdamaian dan keamanan internasional.
"Berakhirnya Traktat New START tengah malam ini merupakan masa yang kelam bagi perdamaian dan keamanan internasional," kata Guterres dalam pernyataannya pada Rabu (4/2/2026), seperti dirangkum Antara.
Ia berkata, "kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat terkait persenjataan nuklir strategis antara Federasi Rusia dan Amerika Serikat."
Menurut Guterres, pengendalian senjata nuklir kedua negara telah menjaga stabilitas yang mencegah bencana nuklir dan mengurangi risiko salah perhitungan yang fatal.
Dari Perundingan Pembatasan Senjata Strategis (SALT) hingga New START, perjanjian bilateral kedua negara telah memangkas ribuan senjata nuklir dan memperkuat keamanan global, katanya.
Meski demikian, Guterres menilai situasi tersebut juga bisa menjadi peluang untuk menyetel ulang upaya pengendalian senjata global.
Ia menyerukan adanya kesepakatan pengganti yang "memulihkan batasan yang bisa diverifikasi, mengurangi risiko, dan memperkuat keamanan kolektif."
"Namun, bahkan di tengah ketidakpastian ini, kita harus mencari harapan. Ini merupakan kesempatan untuk mengatur ulang dan menciptakan sistem pengendalian senjata yang sesuai dengan konteks yang berkembang pesat," katanya.
Guterres mengatakan dirinya menyambut baik penegasan dari AS dan Rusia tentang pemahaman mereka terhadap dampak destabilisasi dari perlombaan senjata nuklir dan perlunya mencegah kembalinya dunia pada proliferasi nuklir tanpa kendali.
New START ditandatangani oleh AS dan Rusia pada 8 April 2010 di Praha dan berlaku sejak 5 Februari 2011. Perjanjian itu menggantikan START I yang berakhir pada 2009 dan Strategic Offensive Reductions Treaty (SORT) 2002, menurut Arms Control Association yang berbasis di Amerika Serikat.
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id


































