tirto.id - Ketua Fraksi Nasdem Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Viktor Laiskodat, menilai bahwa pemikiran orang terkait hutan sebagai paru-paru dunia adalah keliru. Sebab, alih-alih-alih hutan, laut melalui fitoplankton dan alga justru merupakan produsen oksigen terbesar pertama dan kedua. Karena itu, menurutnya, lebih tepat jika dikatakan laut merupakan paru-paru dunia.
"Kita pikir, hutan itu paru-paru dunia. Jagalah paru-paru dunia, (Hutan) Amazon paru-paru dunia. Paru-paru dunia dari mana? Salah itu. Yang paru-paru dunia itu bukan hutan, hutan itu nomor 3 penyumbang oksigen. Nomor 1 itu laut. Satu plankton, dua alga," kata dia, dalam video yang kini telah beredar luas di media sosial, dikutip Sabtu (3/1/2026).
Dus, ketika es di kutub mencair dan membuat luasan perairan makin besar, akan makin banyak pula oksigen yang dihasilkan oleh fitoplankton dan alga.
"Itu pasti nomor satu di dunia. Habis itu, baru hutan. Hutan itu nomor 3. Jadi, kalau orang bilang hutan itu nomor satu ... lautan makin lama makin besar, makin banyak oksigennya. Makin tinggi suhunya, es di kutub cair, lautnya makin lebar. Lautnya makin luas, makin banyak oksigennya. Bukankah begitu?" sambungnya.
Sebaliknya, menurut pengamat lingkungan, Budi Riyanto, masalah perairan dan hutan tidak bisa dilihat dari satu sisi kuantitatif--perbandingan mana yang lebih besar menghasilkan oksigen--saja. Pasalnya, seperti halnya laut dengan beragam ekosistemnya, hutan juga memiliki ekosistem yang sama pentingnya untuk dijaga.
"Tapi kalau berbicara hutan itu ekosistem. Kalau kita berbicara ekosistem tidak anti-tanaman, berarti berbicara faktor-faktor biotik lainnya. Di situ ada hewan, ada satwa, ada mikroorganisme, dan segalanya. Nah, sebetulnya pemahaman ini harus utuh," ujar Pengamat Kebijakan Hukum Kehutanan Dan Konservasi asal Universitas Indonesia (UI) Budi Riyanto, kepada Tirto, Sabtu (3/1/202).
Pernyataan Viktor membuat hutan seolah-olah tidak memberikan kontribusi besar terhadap dunia, khususnya dari sisi penciptaan oksigen. Hal inilah yang berbahaya dan berpotensi menyesatkan masyarakat.
"Larinya kan nanti ke ... 'Oh deforestasi itu nggak masalah.' 'Kan begitu? Ini politiknya kan ke situ. Nah, ini berbahayanya di situ," lanjut Budi.
Jika berbicara soal ekosistem, erat kaitannya dengan interaksi antarbiota dan berbagai mikroorganisme. Oleh karenanya, ketika terjadi pengurangan area luasan hutan atau deforestasi, yang jadi masalah bukan hanya pengurangan sumber oksigen tapi juga rusaknya ekosistem hutan.
"Fungsi daripada ekosistem hutan ini yang harus disosialisasikan ke masyarakat. Bahwa kehancuran atau deforestasi ini bukan masalah hilangnya produksi oksigen maupun penyerapan CO2, tetapi hancurnya ekosistem. Kalau kita berbicara ekosistem, baik biotik, abiotik, dan faktor-faktor tadi yang sebut saya sebelumnya," jelas dia.
Budi Menilai, pernyataan anggota DPR dari Komisi I tersebut juga kurang tepat atau terlalu gegabah jika disampaikan kepada masyarakat. Sebab, dengan pengawasan pemerintah yang lemah terhadap perlindungan hutan, pernyataan Viktor bisa menjadi pembenaran bagi pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan deforestasi.
"Itu statement tadi sebetulnya kurang tepat kalau disosialisasikan kepada masyarakat dalam arti terlalu gegabah gitu loh. Karena apapun fungsi hutan adalah merupakan unsur esensial di dalam perlindungan sistem penyangga kehidupan dan salah satunya adalah penyumbang oksigen dan penyerap CO2," tegas Budi.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id






























