tirto.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menyerahkan bantuan sebesar Rp2,7 miliar untuk pemulihan Pasar Badung dan Pasar Kumbasari yang terdampak banjir. Bantuan diserahkan pada 373 pedagang di kedua pasar tersebut, usai dimulainya masa transisi pemulihan banjir Bali yang dimulai pada Rabu (17/09/2025).
Total bantuan yang diserahkan berjumlah 638 paket. Penyaluran ini berdasar data yang diterima Pemprov Bali, sebab pedagang ada yang memiliki lebih dari satu kios. Tercatat, ada 72 kios, 148 los, dan 418 pelataran yang menerima bantuan.
"Disepakati [berdasarkan hasil diskusi dengan Wali Kota Denpasar dan Kepala Pasar] besarnya adalah Rp10 juta untuk kios, Rp5 juta untuk los, dan pelataran Rp3 juta,” kata Gubernur Bali, Wayan Koster, ketika menyerahkan bantuan untuk korban banjir di Pasar Badung, Kamis (18/09/2025).
Koster berharap, setelah menerima bantuan pendanaan, para pedagang dapat mulai segera melapak di Pasar Badung dan Pasar Kumbasari. "Biar saya bisa membeli daun kelor, bayam, pisang, dan telur. Beli canang juga," kelakarnya.
Pemprov Bali juga menyampaikan bantuan pada dua pura, yakni Pura Meranting dan Pura Taman Beji. “Untuk Pura Meranting dibantu Rp429,5 juta dan Pura Taman Beji sebesar Rp281 juta,” ujarnya.
“Sehingga total bantuan untuk pedagang pasar dan pura menjadi Rp3.424.500.000," imbuhnya.
Koster menambahkan, jumlah bantuan yang sudah diserahkan mencapai Rp3.123.500.000, sementara yang belum diserahkan ada di kisaran Rp301 juta. Alasan dari belum diserahkannya bantuan tersebut bervariasi, mulai dari rekening tidak valid hingga menolak diberikan bantuan.
"Ada yang meninggal 4 orang, jadi dia sudah masuk ke dalam santunan untuk ahli waris. Terus ada juga 1 orang masih hilang, 7 orang alamatnya tidak jelas, 2 orang tidak bisa dihubungi sampai sekarang, 4 orang belum ada rekening, serta 53 orang sedang dalam proses validasi," ungkapnya.
Sementara itu, kata Koster, untuk 18 orang korban yang meninggal akibat banjir, masing-masing akan diberikan Rp45 juta. Dana tersebut berasal dari Pemerintah Pusat sebesar Rp15 juta, Pemerintah Provinsi Bali sebesar Rp15 juta, dan Pemerintah Kota Denpasar sebesar Rp15 juta.
"Dari 18 [korban] ini, yang sudah bisa ditransfer sebanyak 17 orang. Satu orang keluarganya belum ketemu, jadi yang berhak menerima belum ada," jelasnya.
Selain dari pemerintah pusat dan daerah, dana untuk membantu proses pemulihan berasal dari dana gotong royong yang diberikan oleh berbagai instansi dan individu. Koster menyebut dirinya menyumbang Rp50 juta. Sementara Wakil Gubernur, I Nyoman Giri Prasta, menyumbang kurang lebih Rp25 juta.
Koster menjelaskan, sesuai namanya, dana gotong royong tersebut berasal dari sumbangan sukarela akibat terjadinya bencana. Namun, dia mewajarkan apabila ada yang mematok nominal donasi untuk jabatan tertentu, sebab setiap orang memiliki penghasilan yang berbeda.
"Tadi saya juga menerima bantuan sukarela dari OJK sebesar Rp100 juta, dari Direksi BPD sebesar Rp200 juta, kemudian dari Pegawai BPD sebesar Rp400 juta. Itu inisiatif gotong royong karena ada masalah bencana. Kalau mau ikut silakan, enggak juga enggak apa-apa. Waktu pandemi juga saya lakukan hal yang sama," sebut Koster.
Di samping dana untuk pedagang di pasar, Koster mengatakan dana juga akan dialirkan untuk memperbaiki peralatan Rumah Sakit Wangaya yang terdampak banjir. Menurut dia, dana perbaikan peralatan rumah sakit tersebut akan dibantu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebesar Rp55 miliar.
"Menteri Kesehatan [Budi Gunadi Sadikin] juga bertitip salam kepada para pedagang yang kena banjir. Oleh sebab itu, saya berharap semua pedagang dalam keadaan yang baik, sehat semua, dan bisa mulai berdagang," tutupnya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































