tirto.id - Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jisman P Hutajulu, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan proyek Super Grid nasional, dengan nilai investasi mencapai Rp500 triliun. Proyek Super Grid, ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat konektivitas sistem ketenagalistrikan antar pulau, sekaligus mempercepat transisi menuju energi terbarukan (EBT).
Super Grid juga dirancang untuk menghubungkan pusat-pusat energi baru terbarukan dengan wilayah, yang nantinya menjadi pusat permintaan listrik (demand center).
"Kita akan menghubungkan pulau-pulau terbesar di Indonesia. Ada juga proyek antara Sumatera-Batam, yang diperkirakan akan COD di 2028 sesuai RUPTL, kemudian Sumatera-Jawa pada 2031, dan Kalimantan-Sulawesi di kisaran 2040-an," kata Jisman dalam sambutannya di acara Decagrid PJCI: Empowering Smart Grids with Mission-Critical Networks, di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Selasa (21/10/2025).
Jisman menambahkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan pembangunan transmisi sepanjang 48 kilometer dan gardu induk dengan kapasitas 108 megavolt ampere (MVA).
"Nah ini besar sekali untuk investasinya, kalau tidak salah Rp500 triliun kurang lebih. Ketika ingin mendorong EBT, tantangan utamanya adalah jarak antara sumber energi dengan pusat konsumsi. Maka kita membutuhkan yanh namanya Super Grid. Tidak ada transisi energi tanpa adanya transmisi," ujar Jisman.
Dalam kesempatan yang sama, Jisman juga menjelaskan bahwa pemerintah akan mempercepat transisi menuju energi bersih dengan menargetkan 74 persen pembangkit listrik nasional dari EBT pada 2060.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia menuju net zero emission, sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Jisman menekankan hingga 2060, kapasitas pembangkit energi listrik nasional ditargetkan mencapai 443 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, porsi EBT akan menjadi 'tulang punggung' sistem ketenagalistrikan di Tanah Air.
"Kita menargetkan 74 perseb kapasitas pembangkit berasal dari EBT. Ini langkah besar untuk memastikan pasokan energi yang andal dan berkelanjutan," papar Jisman.
Meski demikian, Jisman menyoroti tantangan besar dalam pengembangan EBT, terutama karena lokasi sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan hidro, yang berada jauh dari pusat permintaan listrik.
"Kita menghadapi ketidakseimbangan antara demand center dan lokasi sumber EBT. Karena itu, pembangunan infrastruktur transmisi menjadi sangat penting," ungkapnya.
Lebih jauh, pemerintah pun menekankan pembangunan sektor ketenagalistrikan sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Jisman menegaskan pentingnya strategi energi untuk memperkuat fondasi industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang mumpuni.
"Program pembangunan tenaga listrik diarahkan untuk memperkuat infrastruktur pada kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, serta pusat-pusat hilirisasi sumber daya alam," beber Jisman.
Langkah ini, menurut Jisman, sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan hilirisasi menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, Staf Ahli Kementerian ESDM itu pun mengatakan bahwa kebijakan energi ke depan tidak lagi didorong oleh permintaan pasar, melainkan di 'inject' lebih awal ke wilayah strategis, yang dianggap mampu mendorong aktivitas ekonomi baru.
Pendekatan ini, kata Jisman, diharapkan mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi RI hingga 8 persen di tahun 2029. "Visi besar kita adalah membangun sistem tenaga listrik yang berdaulat, andal, dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045," pungkas dia.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id

































