tirto.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan Indonesia sudah menandatangani lima kesepakatan dagang, baik yang berbentuk Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) maupun Free Trade Agreement (FTA). Namun, perjanjian-perjanjian dagang tersebut baru dimanfaatkan setidaknya 80 persen oleh para pelaku usaha.
Karenanya, agar dampak perjanjian dagang lebih nyata bagi kinerja ekspor Indonesia, Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso meminta para pengusaha untuk lebih masif memanfaatkan CEPA atau FTA yang berhasil diteken pemerintah.
"Ketika pemerintah sudah membuka akses pasar, sudah membuat perjanjian, ya Bapak-Ibu semua harus aktif. Karena pemanfaatan CEPA atau FTA itu rata-rata 80 persen," kata dia dalam acara Strategic Forum: Indonesia-Peru CEPA dan Indonesia-Tunisia FTA, di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Selasa (25/11/2025).
Budi menambahkan, kinerja ekspor Indonesia secara kumulatif pada Januari-September telah mengalami peningkatan sebesar 8,14 persen. Ini lebih tinggi dari target yang ditetapkan pemerintah, yakni peningkatan sebesar 7,1 persen. Pun, pada waktu yang sama neraca perdagangan Indonesia juga tercatat surplus hingga 50,93 persen.
"Tahun ini target (peringatan ekspor) 7,1 persen, tetapi Januari-September ekspor kita itu sudah meningkat 8,14 persen. Dan surplus kita meningkat 50,93 persen. Jadi luar biasa. Tetapi, kita ingin terus meningkatkan," tambah Budi.
Caranya bermacam-macam, salah satunya dengan mencari pasar baru. Dalam hal ini, Kemendag punya tiga program, pertama dengan melakukan pengamanan pasar dalam negeri, kemudian perluasan pasar ekspor dan yang ketiga UMKM bisa ekspor.
"Pada pagi ini adalah bagian dari program perluasan pasar ekspor. Jadi, kita harus punya banyak akses pasar ke berbagai negara," sambung dia.
Sementara itu, lima perjanjian dagang yang berhasil diteken Indonesia antara lain, European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada CEPA (IC-CEPA), Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Area (I-EAEU FTA), Indonesia-Peru CEPA, dan terakhir adalah Indonesia-Tunisia PTA (Preferential Trade Agreement) yang akan rampung di Januari 2026.
"Kalau kita sudah membuka pasarnya, tapi Bapak-Ibu tidak memanfaatkan dengan baik juga percuma. Jadi sekali lagi, saya terima kasih kepada Bapak-Ibu yang sudah hadir pada kesempatan pagi ini. Mari kita manfaatkan peluang dagang ini dengan Tunisia, dengan Peru. Tujuannya sebenarnya perjanjian dagang itu tidak ingin membuat defisit satu sama lain, tidak. Tapi bagaimana kita meningkatkan ekspor masing-masing," tegas Budi.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































