Menuju konten utama

Pedagang Pasar Senen Ogah Pindah dari Thrifting ke Brand Lokal

Bagi sebagian pedagang, hal yang paling penting bukan soal perubahan model usaha, tapi bagaimana transisi dilakukan.

Pedagang Pasar Senen Ogah Pindah dari Thrifting ke Brand Lokal
Pedagang baju bekas di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Rabu (19/11/2025). tirto.id/Natania Longdong
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rahmat, pedagang pakaian bekas di Pasar Senen, Jakarta Pusat, sudah lelah dengan cara pemerintah memperlakukan bisnis thrifting. Hampir saban tahun, selalu ada alasan baru untuk memojokkan pedagang kecil sepertinya. Isunya berulang: dari rencana penutupan lapak sampai razia balpres di pelabuhan.

Teranyar, muncul gagasan dari sejumlah kementerian untuk mengganti pakaian bekas dengan produk brand lokal. Toh, roda usaha mereka tetap berjalan. Pasar Senen masih jadi sentra pakaian bekas pilihan banyak orang—mulai dari pemburu barang “preloved” sampai reseller.

"Dari dulu, dari tahun 90. Isunya (ada yang) mau ditutup. Semua pernah kena isu, sampai sekarang masih jalan," ujar Rahmat saat ditemui di lapaknya, Rabu (19/11/2025).

Rahmat sebenarnya terbilang baru di bisnis pakaian bekas. Sebelumnya, ia sempat juga menjajal jualan pakaian anyar. Namun, ia banting setir usai berkali-kali ganti usaha jualan pakaian. Alasanya sederhana: peminat pakaian thrifting masih cukup tinggi.

"Dulu juga pernah dagang barang baru, terus (sekarang) second, terus barang baru lagi, tapi yang dicari tetap second," ungkapnya.

Yang menarik, kata Rahmat, memanasnya isu pakaian bekas justru menguntungkan sejumlah pedagang. Sebab, tiap kali pembatasan thrifting digembar-gemborkan pemerintah, harga barang di pasar justru naik. Kondisi itu, menurutnya, terjadi karena para importir menahan pasokan atau menaikkan harga kiriman.

Infografik Insider Bisnis Thrifting

Infografik Insider Bisnis Thrifting. tirto.id/Fuad

Saat ditanya apakah ia khawatir Pasar Senen bakal ditutup, Rahmat menjawab cepat. “Enggak ada takutnya, kecuali dibakar. Toko kayak begini, kan, bayar. Kita sewa. Mana bisa tutup? Kecuali dibakar,” tukasnya.

Lapak-lapak thrifting di Pasar Senen memang telah lama disudutkan oleh pemerintah. Alasannya selalu sama: melindungi industri tekstil domestik dari serbuan barang impor ilegal berharga murah.

Bedanya, kali ini pemerintah tak lagi mengangkat nada. Menteri UMKM Maman Abdurrahman, usai bertemu Menteri Perdagangan Budi Santoso, menyampaikan bahwa opsi yang disiapkan bukan penertiban, melainkan mengubah Pasar Senen menjadi sentra penjualan jenama lokal.

Nantinya, akan ada 1.300 merek lokal yang akan ditawarkan untuk dijual para pedagang thrifting. Selain di Pasar Senen, langkah serupa juga akan dilakukan kepada pedagang pakaian bekas di Pasar Gedebage, Bandung.

"Per hari ini, tadi saya sampaikan ke Pak Mendag (Menteri Perdagangan, Budi Santoso), kita sudah mengonsolidasi kurang lebih 1.300 merek, brand lokal. Nanti dalam waktu dekat akan kami bicarakan dengan seluruh pedagan baju-baju bekas kita, untuk mendorong substitusinya," ungkap Maman di Kantor Kementerian Perdagangan, Senin (17/11/2025).

Menyusul pernyataan Maman, Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, mengatakan bahwa strategi "bedol pasar" tersebut bukan hendak menutup para pelapak thrifting. Fokusnys, kata dia, mula-mula akan diarahkan pada pencocokkan skala bisnis brand dengan model usaha pedagang.

Pemerintah hanya akan memberikan opsi dan bertindak sebagai fasilitator yang mempertemukan pedagang dengan produsen brand lokal yang telah melalui proses seleksi.

“Ini saya klarifikasi, bukan gantiin (pedagangnya). Kami menyiapkan 1.300 brand untuk dipilih oleh para penjual, pedagang pakaian bekas di Senen maupun di Gedebage dan lain-lain,” katanya di Kementerian UMKM, Jakarta, Selasa (18/11/2025)

Namun, kenyataan di lapangan, wacana itu belum sepenuhnya dipahami. Enengbukan nama aslisalah satu pedagang crewneck bekas, mengaku tak yakin mengenai rencana tersebut. Sebab, jika tak diwajibkan, ia pasti akan memilih bertahan lantaran pembeli pakaian thrifting masih cukup banyak.

"Ya gak tahu ya, soalnya gini, baju thrift itu kita masih banyak pemainnya, masih banyak peminatnya," ujar perempuan yang telah menggeluti dunia thrifting selama lima tahun itu.

Ia juga meragukan apakah brand lokal bisa memenuhi standar selera pembeli thrifting, yang datang bukan sekadar mencari pakaian murah, melainkan barang unik, branded, atau punya karakter tertentu.

"Pembeli rata-rata milih bahan, nah bahan lokal gimana? (Kalau pakaian second) Model (juga) beda, lebih murah, nah kalo brand lokal kita gak tahu ya harganya gimana," beber Eneng.

Meski demikian, Eneng tidak terlalu memusingkan setiap wacana yang dirilis pemerintah. Bagi Eneng, dia hanya mencari makan melalui penjualan pakaian bekas. "Kita cuma cari makan aja," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Lukman, penjual berbagai jenis celana, mengakui bahwa untuk peralihan kepada brand lokal tidak semudah yang terlihat.

Baginya, dan sebagian pedagang lain, hal yang paling penting bukan soal perubahan model usaha, tapi bagaimana transisi dilakukan. Jika dilakukan tiba-tiba, mereka khawatir tidak punya cukup waktu dan modal untuk adaptasi.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa ada proses perundingan yang harus dilalui pemerintah dengan para pedagang. Sayangnya, kata dia, tak ada satu pun pemerintah yang berbicara dengan para pedagangsejak dulu hingga sekarang.

"Gak segampang itu. Ya (kalau mau masuk local brand) pasti harus ada perundingan dulu sama orang-orang sini kan," beber Lukman.

Sebagai orang yang menggantungkan hidup dari pakaian bekas, Lukman tentu cemas jika sewaktu-waktu kebijakan itu dijalankan pemerintah. Apalagi, jika cara itu gagal dan pemerintah terpaksa mengambil langkah keras: menutup seluruh bisnis thrifting Pasar Senen. "Kami cari makan dimana? Kan sebelum gue lahir juga udah ada thrifting," ujarnya.

Baca juga artikel terkait PAKAIAN BEKAS atau tulisan lainnya dari Natania Longdong

tirto.id - Insider
Reporter: Natania Longdong
Penulis: Natania Longdong
Editor: Hendra Friana