tirto.id - Ketika bicara soal pandemi, kemungkinan besar yang langsung terlintas di otak adalah pandemi COVID-19, yang melanda seluruh dunia dari 2020 sampai kurang lebih 2023. Virus corona penyebab COVID-19 memang masih eksis hingga kini, tetapi secara umum pandemi tersebut dianggap sudah berakhir dan kehidupan sudah kembali normal seperti sedia kala.
Selain COVID-19, masih ada banyak pandemi lain yang belum betul-betul sukses dituntaskan. Salah satunya adalah obesitas. Ya, menurut ahli, obesitas merupakan pandemi terselubung yang telah menjangkiti lebih dari satu miliar orang di muka Bumi.
Sebagai penyakit, obesitas memang tidak secara langsung mengakibatkan kematian. Akan tetapi, ia bisa memunculkan berbagai penyakit lain yang pada akhirnya membuat seseorang kehilangan nyawa. Celakanya, pemahaman soal obesitas masih terbatas, sehingga lahir miskonsepsi yang membuat penanganan secara tepatnya jadi terhambat.
Salah satu miskonsepsi tentang obesitas adalah anggapan bahwa ia tidak bias gender. Artinya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mengalami obesitas karena alasan sama, cara sama, dan maka dari itu akibatnya pun sama. Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu.
Penelitian terbaru, yang dipresentasikan di European Congress on Obesity (ECO) pada 2026 di Istanbul, menemukan bahwa obesitas menyerang pria dan wanita dengan cara berbeda secara biologis. Ini bukan hanya soal lokasi penumpukan lemak, tapi juga sesuatu yang terjadi dalam tubuh akibat penumpukan itu.
Tim peneliti menganalisis data dari 886 perempuan dan 248 laki-laki yang menjalani perawatan di klinik obesitas antara tahun 2024 dan 2025. Mereka mengukur berbagai hal, mulai dari lingkar pinggang, tekanan darah, kadar kolesterol, trigliserida, enzim hati, hingga penanda peradangan seperti C-reactive protein.
Hasilnya, pada laki-laki, lemak lebih banyak tertimbun di sekitar organ dalam perut, yang dalam istilah medis disebut lemak viseral. Berbeda dari lemak yang ada di bawah kulit; lemak jenis tersebut mengelilingi organ-organ vital dan berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung serta gangguan metabolisme. Selain itu, laki-laki dalam penelitian ini menunjukkan kadar enzim hati lebih tinggi, yang berarti orang tersebut bekerja lebih keras dan berpotensi rusak lebih cepat
Dalam angka konkret, lingkar pinggang rata-rata laki-laki dalam penelitian itu mencapai 120 cm, lebih besar dibandingkan 108 cm pada perempuan. Tekanan darah sistolik laki-laki juga lebih tinggi, yakni 128 mmHg berbanding 122 mmHg pada perempuan. Keduanya adalah faktor risiko yang dikenal luas untuk penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.
Di sisi lain, perempuan menunjukkan pola berbeda. Kadar kolesterol total mereka lebih tinggi, yakni rata-rata 215 mg/dL dibandingkan 203 mg/dL pada laki-laki. Kolesterol "jahat" atau LDL mereka juga lebih tinggi, 130 mg/dL berbanding 123 mg/dL.
Yang lebih menonjol, penanda peradangan dalam tubuh wanita secara konsisten lebih tinggi, termasuk C-reactive protein dan erythrocyte sedimentation rate. Peradangan sistemik seperti itu berhubungan dengan risiko penyakit jantung dan diabetes dalam jangka panjang.
Lantas, apa saja yang menyebabkan perbedaan-perbedaan tersebut? Jawabannya ada pada hormon, genetika, dan cara tubuh merespons lemak.
Estrogen, hormon yang dominan pada wanita, berperan besar dalam menentukan lokasi penumpukan lemak.
Pada perempuan pramenopause, estrogen mendorong lemak untuk tersimpan di bawah kulit, terutama di pinggul dan paha, bukan di sekitar organ dalam seperti pada laki-laki. Itu merupakan mekanisme perlindungan biologis. Lemak subkutan, meski terlihat lebih mencolok secara estetika, sebenarnya lebih jinak secara metabolis dibandingkan lemak viseral.
Setelah menopause, kadar estrogen turun drastis. Distribusi lemak pada perempuan pun bergeser mendekati pola laki-laki, yakni lebih banyak ke area perut. Sebuah ulasan dari sejumlah ilmuwan Italia menemukan, perempuan pascamenopause memiliki lebih banyak massa lemak dibandingkan perempuan pramenopause. Risiko metabolis mereka pun ikut meningkat. Ini menjelaskan alasan risiko penyakit jantung pada perempuan melonjak setelah menopause.
Pada laki-laki, lonjakan testosteron selama masa pubertas mendorong sintesis protein dan lipolisis atau proses pemecahan lemak. Karenanya, pria cenderung memiliki lebih banyak otot dan lebih sedikit lemak subkutan.
Namun, ketika laki-laki mengalami obesitas, lemak justru menumpuk di dalam rongga perut. Lemak viseral itu bukan lemak pasif karena ia melepaskan senyawa-senyawa yang mengganggu kerja insulin, meningkatkan tekanan darah, dan memberatkan hati.

Selain dari sisi hormon, ada dimensi lain obesitas yang tidak kalah menarik, yaitu cara otak laki-laki dan perempuan merespons dorongan untuk makan. Penelitian terbitan jurnal Brain Communications Volume 5, Issue 2 (2023) menemukan, perempuan dengan obesitas menunjukkan perubahan pada jaringan otak yang terkait dengan trauma masa kecil, kecemasan, dan kerentanan terhadap makanan ultra-proses. Dengan kata lain, faktor emosional dan psikologis lebih kuat mendorong perilaku makan berlebih pada perempuan.
Pada laki-laki, dorongan makan berlebih lebih dipengaruhi oleh sinyal dari perut dan sensasi fisik dari saluran pencernaan, bukan oleh respons emosional terhadap makanan. Ini bukan berarti pria tidak bisa stres atau makan karena emosi. Hanya saja, rata-rata mekanisme pendorongnya memang berbeda.
Perbedaan laki-laki dan perempuan dalam urusan obesitas juga terlihat jelas ketika keduanya menjalani program diet.
Analisis sekunder dari uji klinis DIETFITS di Stanford University, yang melibatkan 609 orang dewasa dengan kelebihan berat badan selama 12 bulan, menemukan bahwa laki-laki lebih mudah menurunkan berat badan dengan diet rendah karbohidrat, bukan diet rendah lemak. Pada perempuan, kecenderungannya lebih seimbang.
Studi itu juga mencatat bahwa laki-laki lebih patuh menjalani diet rendah karbohidrat, kemungkinan karena perempuan secara kultural dan psikologis lebih terbiasa menghindari lemak alih-alih karbohidrat.
Secara demografis, gambaran obesitas juga tidak seragam antara laki-laki dan perempuan. Tinjauan dalam jurnal Advances in Nutritionmencatat, secara keseluruhan, lebih banyak perempuan yang mengalami obesitas dibandingkan pria, terutama di negara-negara berkembang. Namun, di negara-negara berpenghasilan tinggi, justru lebih banyak pria yang mengalami kelebihan berat badan. Faktor sosial budaya, termasuk tekanan untuk tampil langsing yang lebih kuat dirasakan wanita di negara maju, turut membentuk pola ini.
Di Indonesia, data Global Obesity Observatory menunjukkan, obesitas pada perempuan dewasa lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dengan risiko jangka panjang mencakup gangguan hormonal, diabetes, dan kanker tertentu. Pada laki-laki Indonesia, obesitas abdominal atau penumpukan lemak di perut menjadi perhatian utama karena berkaitan langsung dengan penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.
Lalu, apa implikasi dari semua itu? Sekelompok peneliti Korea Selatan dalam artikel di World Journal of Men's Health menegaskan, sebagian besar intervensi obesitas saat ini, baik berupa perubahan gaya hidup, obat-obatan, maupun bedah bariatrik, masih dirancang tanpa mempertimbangkan perbedaan jenis kelamin secara serius.
Padahal, respons terhadap obat penurun berat badan pun berbeda. Misalnya, perempuan cenderung mengalami penurunan berat badan lebih besar setelah setahun menjalani farmakoterapi, seperti semaglutide atau liraglutide, tapi juga lebih sering mengalami efek samping pada saluran pencernaan.
Dr. Zeynep Pekel, peneliti utama dari studi ECO 2026, menyebut bahwa temuannya membuka pintu menuju terapi berbasis jenis kelamin yang lebih tepat sasaran. Tentu saja, penelitian tersebut masih punya keterbatasan. Desainnya bersifat cross-sectional, atau hanya memotret satu titik waktu tertentu, dan tidak bisa membuktikan sebab-akibat. Hampir seluruh partisipannya beretnis Turki sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk populasi yang lebih beragam, termasuk masyarakat Indonesia.
Meski begitu, pesannya tetap relevan. Obesitas bukan sekadar soal naiknya angka di timbangan dan solusinya tidak bisa disamaratakan begitu saja. Tubuh pria dan wanita memproses lemak, merespons peradangan, dan bereaksi terhadap intervensi, dengan cara yang berbeda. Makin baik pemahaman dunia medis terhadap perbedaan itu, makin baik pula penanganan yang bisa diberikan kepada masing-masing orang.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































