tirto.id - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyebutkan neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar 2,52 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada Desember 2025. Neraca perdagangan barang tersebut tercatat telah mengalami surplus sejak 2020.
"Neraca perdagangan barang mencapai surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS," sebutnya saat konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2026).
"Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak pada bulan Mei tahun 2020," lanjut dia.
Ateng mengatakan surplus pada Desember 2025 ditopang oleh sejumlah komoditas. Salah satunya, yakni komoditas nonmigas yang mencatat surplus hingga 4,6 miliar dolar AS.
Berdasarkan catatan BPS, selain komoditas nonmigas, komoditas lemak dan minyak hewan atau HS 15, bahan bakar mineral atau HS 27, serta besi dan baja atau HS 72 juga menopang surplus neraca perdagangan barang pada Desember 2025.
"Pada saat yang sama, neraca perdagangan komiditas migas tercatat defisit 2,09 miliar dolar AS, dengan komoditas penyumbang defisit pada perdagangan komoditas, yaitu minyak mentah dan hasil minyak," tutur Ateng.
Sementara itu, secara kumulatif sepanjang Januari–Desember 2025, surplus perdagangan terbesar terjadi dengan Amerika Serikat. Nilainya mencapai 18,11 persen. Adapun defisit perdagangan paling rendah terjadi dengan Tiongkok, yakni -20,5 persen.
Ateng menambahkan, komoditas nonmigas penyumbang surplus terbesar sepanjang Januari–Desember 2025 adalah lemak dan minyak hewan, sebesar 34,06 persen. Sementara itu, komoditas nonmigas penyumbang defisit terbesar selama periode yang sama adalah mesin dan peralatan mekanis, sebesar -28,48 persen.
"Sepanjang Januari-Desember 2025, neraca perdagangan non-migas menyumbang surplus 60,75 miliar dolar AS," sebut dia.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































