tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada November 2025 harga logam mulia naik sebesar 0,87 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 55,42 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan lonjakan harga logam mulia tersebut dipicu oleh pergerakan harga emas yang sangat bervariasi sepanjang tahun berjalan.
“Pada November 2025 secara umum harga komoditas di pasar global bervariasi, baik secara month to month maupun secara year on year. Kenaikan harga secara bulanan dan tahunan terjadi pada kelompok logam mulia, serta juga logam dan mineral. Peningkatan harga komoditas logam mulia didorong oleh peningkatan harga emas,” ujarnya dalam Rilis Berita Resmi Statistik, di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).
Lonjakan harga logam mulia inilah yang kemudian menjadi pendorong inflasi sepanjang tahun 2025. Bahkan, secara khusus emas yang termasuk dalam komponen harga bergejolak tercatat 11 kali menjadi penyumbang utama inflasi nasional secara bulanan sejak Januari sampai Desember.
“Emas dan emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar pada tahun 2025. Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali di tahun 2025,” lanjut Pudji.
Sementara itu, dari catatan BPS, secara tahun berjalan (ytd) hingga Desember 2025, inflasi secara nasional mencapai 2,92 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi ytd Desember 2021 hingga 2024, kecuali pada 2022.
Kemudian, secara bulanan (mtm), inflasi juga tercatat sebesar 0,64 persen, sedangkan secara tahunan inflasi mencapai 2,92 persen. Dari inflasi tersebut, emas perhiasan memberikan andil sebesar 0,07 persen.
“Komoditas penyumbang utama inflasi tahun 2025 adalah emas perhiasan, cabai merah, ikan segar, cabai rawit, dan beras,” papar Pudji.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































