Menuju konten utama

Naskah Khutbah Idul Adha 2026: Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim

Naskah Khutbah Idul Adha 2026 bertema meneladani keluarga Nabi Ibrahim menarik disampaikan kepada para jamaah. Simak kisah ketaatan dan pengorbanan.

Naskah Khutbah Idul Adha 2026: Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim
ilustrasi khutbah. ANTARA/M Ifdhal
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Naskah khutbah Idul Adha 2026 bertema meneladani keluarga Nabi Ibrahim dapat menjadi rujukan bagi imam dan para khatib yang bertugas. Simak uraian lengkap dan dalil-dalinya.

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI mengumumkan bahwa 1 Zulhijah 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada Senin (18/5/2026). Dengan begitu, 10 Zulhijah atau Hari Raya Idul Adha jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.

Pada momen tersebut, umat islam yang memiliki kelebihan harta dianjurkan untuk melaksanakan ibadah qurban, yaitu menyembelih hewan peliharaan dengan syarat-syarat tertentu. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan untuk menunaikan shalat Idul Adha 2026.

Teks Khutbah Idul Adha 2026: Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim

Salah satu perintah Allah kepada umat Islam pada bulan Zulhijah yaitu berqurban. Qurban dianjurkan bagi Muslim yang memiliki kelapangan harta. Ibadah qurban disyariatkan untuk dilakukan pada hari raya Idul Adha (10 Zulhijah) dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah).

Berikutnya, umat Islam yang tidak menunaikan ibadah haji juga dianjurkan untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Dalam ibadah tersebut, terdapat khutbah yang wajib disampaikan oleh imam kepada para jamaah yang hadir. Khutbah ini disampaikan setelah salat Id dan berisi pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan tema kurban dan ketakwaan.

Berikut naskah lengkap Khutbah Idul Adha 2026 dengan tema meneladani keluarga Nabi Ibrahim:

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْانِ: لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan, nikmat Islam, iman, hingga kesehatan, sehingga hari ini dapat memenuhi panggilan-Nya dan semoga senantiasa selalu menjauhi segala larangan-Nya.

Mari bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap kelak.

Salawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, juga para keluarga, sahabat, serta kepada kita selaku umatnya. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Hari ini, gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang di seluruh penjuru dunia untuk merayakan Idul Adha atau hari raya qurban. Dalam Islam, Idul Adha merupakan sebuah momentum untuk kembali merefleksikan sejarah kenabian ribuan tahun lalu. Yaitu perintah Allah kepada Nabi Ibrahim.

Hadirin Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.

Hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Haji. Di saat kita berkumpul di sini, jutaan saudara kita tengah berwukuf di Padang Arafah, puncak ibadah haji yang sangat agung.

Di sana, seluruh saudara kita melepas atribut duniawi yang dimiliki. Jabatan, nama baik, harta benda mereka letakkan untuk menghadap Allah. Semuanya memakai pakaian ihram, sebagai lambang semua umat manusia sama di hadapan Allah.

Mereka berkumpul, berseru dalam kalimat talbiyah, mengikrarkan ketundukan dan kecintaan kepada-Nya. Dari peristiwa itu, kita belajar tentang makna persaudaraan, kesetaraan, dan semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa memandang status atau jabatan.

لَبَّیْكَ اللّھُمَّ لَبَّیْك لَ بَّیْكَ لاَ شَرِ یْكَ لَك لَبَّیْكَ

Labaik allahumma labaika la baika la syarriika laka labaik.

Selain disebut Hari Raya Haji, hari ini juga dikenal dengan nama Idul Qurban. Ibadah ini juga mengingatkan kita tentang Nabi Ibrahim, istrinya Siti Hajar, dan anaknya yang masih bayi, Ismail.

Suatu hari,Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah yang tidak mudah. Ia membawa Hajar dan Ismail ke sebuah lembah gersang yang bahkan tidak ditumbuhi sebatang pohon pun, sunyi, tandus, dan jauh dari mana pun.

Bayangkan, tempat itu berada sekitar 1.600 kilometer dari tanah kelahiran mereka di Palestina. Tapi luar biasa, mereka menerima perintah itu tanpa banyak tanya. Tidak protes, tidak ragu.

Mereka pasrahkan diri mereka kepada Allah dengan hati yang lapang dan keyakinan penuh. Ketika air mulai habis, Siti Hajar dengan anak kecil yang menangis karena haus di pelukannya, berlari bolak-balik antara dua bukit yang kita kenal sekarang sebagai Shafa dan Marwah.

Ia tidak menyerah. Ia terus berusaha dalam keadaan hampir putus asa sampai datang pertolongan Allah. Malaikat Jibril diutus, kemudian tanah kering itu memancarkan air zamzam yang sampai hari ini tak pernah surut. Dari sana, kehidupan mulai tumbuh dan orang-orang mulai berdatangan.

Lembah tandus itu pun perlahan berubah jadi tempat yang ramai, makmur, dan diberkahi. Di sanalah cikal bakal Kota Makkah berdiri, berkat kesabaran seorang ayah, keikhlasan seorang ibu, dan kekuatan doa yang tidak pernah putus.

Suatu hari, Nabi Ibrahim juga mendapat perintah untuk berkurban, Perintah qurban termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 34 yang berbunyi:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَۙ ۝٣٤

wa likulli ummatin ja‘alnâ mansakal liyadzkurusmallâhi ‘alâ mâ razaqahum mim bahîmatil-an‘âm, fa ilâhukum ilâhuw wâḫidun fa lahû aslimû, wa basysyiril-mukhbitîn

Artinya: Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah).

Hadirin yang berbahagia.....

Dalam sejarah Islam, perintah qurban dimulai sejak masa Nabi Adam AS. Atas perintah Allah Swt., Nabi Adam meminta kepada 2 putranya, Habil dan Kabil, untuk berkurban. Keduanya harus berkurban dalam rangka memperoleh Iqlima dan Labuda sebagai istri.

Habil berkurban binatang ternak terbaik miliknya, sementara Kabil hanya memberi hasil pertanian yang rusak dan busuk. Kurban dari Habil diterima oleh Allah Swt. karena rasa keikhlasan. Adapun kurban dari Kabil ditolak karena tidak ikhlas.

Namun, perintah qurban menggunakan hewan ternak dilatarbelakangi oleh kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Kala itu, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih anaknya, Ismail.

Nabi Ibrahim menerima perintah tersebut, dan dengan penuh ketaatan, ia menyampaikan perintah itu kepada Nabi Ismail.

Hal ini diceritakan dalam Ash-Shaffat ayat 102-107:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٠٢

fa lammâ balagha ma‘ahus-sa‘ya qâla yâ bunayya innî arâ fil-manâmi annî adzbaḫuka fandhur mâdzâ tarâ, qâla yâ abatif‘al mâ tu'maru satajidunî in syâ'allâhu minash-shâbirîn

Artinya:"Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ۝١٠٣

fa lammâ aslamâ wa tallahû lil-jabîn

Artinya:"Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah)."

وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ ۝١٠٤

wa nâdainâhu ay yâ ibrâhîm

Artinya:"Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim."

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ۝١٠٥

qad shaddaqtar-ru'yâ, innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn

Artinya:"Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan."

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ۝١٠٦

inna hâdzâ lahuwal-balâ'ul mubîn

Artinya:"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata."

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ۝١٠٧

wa fadainâhu bidzib-ḫin ‘adhîm

Artinya:"Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar."

Setelah Nabi Ibrahim menyampaikan perintah kepada Ismail, ia menyanggupi perintah Allah. Maka, tepat pada tangal 10 Zulhijah sewaktu Nabi Ismail berusia 7 tahun (ada yang berpendapat 13 tahun), Nabi Ibrahim menjalankan perintah itu di Mina.

Nabi Ismail ke Mina dan membaringkan di atas pelipis. Saat-saat penuh kesedihan itu, Nabi Ismail lantas mengatakan pada ayahnya dengan penuh keikhlasan, yaitu:

يا أبت اشدد رباطى حتى لا اضطرب، واكفف عنى ثيابك حتى لا يتناثر عليها شئ من دمى فتراه أمى فتحزن، وأسرع مرّ السكين على حلقى ليكون أهون للموت على، فإذا أتيت أمى فاقرأ عليها السلام منى

Artinya, “Wahai ayahku! Kencangkanlah ikatanku agar aku tidak lagi bergerak, singsingkanlah bajumu agar darahku tidak mengotori, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya ia akan bersedih, percepatlah gerakan pisau itu dari leherku, agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu sangat dahsyat. Apabila engkau telah kembali maka sampaikanlah salam (kasih)ku kepadanya.” (Syekh Muhammad Sayyid Ath-Thanthawi, Tafsir Al-Wasith, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M], halaman 3582).

Berkat rahmat dan kasih sayang Allah Swt., Ismail tidak jadi dikurbankan. Saat Ibrahim hendak menyembelih putranya, Allah lalu mengganti Ismail dengan seekor domba. Dari perintah qurban tersebut, umat Islam diperintah untuk enyembelih sifat-sifat buruk dalam diri kita, meningkatkan ketakwaan, dan merajut kembali keharmonisan keluarga kita masing-masing.

Qurban juga menjadi simbol untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan, menghilangkan sifat-sifat buruk, sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual.

Semoga kita dapat menjaga kesucian dan kehormatan bulan Zulhujah sebagai langkah awal untuk memperbaiki rasa hormat dan patuh kita akan perintah-perintah serta larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، (2 مَرَّاتٍ)، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ،

اللهم اجْعَلْ عِيدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللهم اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهم أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْ

Baca juga artikel terkait KHUTBAH IDUL ADHA atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo