tirto.id - Bayangan tentang sebuah penjara umumnya lekat dengan jeruji besi kokoh, tembok tinggi, dan atmosfer mencekam penuh ketegangan. Namun, stereotip tersebut seketika luruh saat menapakkan kaki di Lapas Kelas II B Ciangir, Kabupaten Tangerang.
Lahan seluas 23 hektare ini justru tampak seperti area perkebunan dan peternakan yang hijau. Tempat di mana batas pengungkungan narapidana digantikan oleh pendekatan humanis yang memanusiakan manusia.
Pengamanan minim dan suasana terbuka justru menjadi ruang bagi para warga binaan untuk menjemput kepulangan mereka ke masyarakat. Selama di Lapas Kelas II B Ciangir, mereka menjalankan hidup sebagai peternak dan petani yang produktif.
Lapas Ciangir memang dirancang berbeda dengan lapas tertutup pada umumnya. Alih-alih menghabiskan hari dengan berdiam diri di dalam sel, 50 warga binaan justru aktif bekerja pagi hingga sore hari.
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Ditjen Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Banten, Lili, menjadi pemandu Tirto menyusuri lapas. Dia menunjukkan luasnya lahan lapas yang disulap menjadi area produktif yang mendukung ketahanan pangan. Nampak peternakan ayam petelur, pembesaran sapi pedaging, budidaya domba, hingga persawahan dan perkebunan terong serta timun.
"Ini ada ayam petelur ya, ayam peternak itu, ayam petelur. Terus ada domba tadi kita lihat, kita panen timun. Ini ada 50 warga binaan di sini dan sudah diasesmen ketat. Nanti juga akan ditambah 20 lagi warga binaan untuk bekerja di sini," ujar Lili sembari menuntun Tirto untuk mencermati Lapas Kelas II B Ciangir, pada Kamis (9/7/2026).
Saringan Ketat Menuju Udara Bebas
Kalapas Kelas II B Ciangir, Soeistanto Poedji Djatmiko, menjelaskan mengenai sistem di Lapas terbuka Ciangir, Kamis (9/7/2026).

Lili menjelaskan, seluruh penghuni lapas terbuka ini tidak dipilih sembarangan. Proses seleksi berjalan amat ketat melalui serangkaian asesmen oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas).
Warga binaan yang bisa mencicipi udara bebas di Lapas Ciangir adalah narapidana kasus kriminal umum ringan, seperti pencurian atau penadahan. Itu pun, yang masa hukumannya sudah mendekati bebas. Selain itu, para narapidana ini juga harus sudah memenuhi tahanan lebih dari setengah masa hukuman yang diputuskan majelis hakim.
"Kita cek asesmennya itu minat bakatnya seperti apa. Jadi kalau ada asesmennya yang tinggi atau emosinya tinggi atau seperti apa ya ini tidak masuk nominasi di sini. Hasil asesmennya adalah orang-orang yang punya pertobatan benar. Risikonya minim, harus minim," tutur Lili.
Karena risikonya yang rendah, kata Lili, pendekatan pengamanan di Lapas Ciangir pun bergeser dari kekangan fisik menjadi pendekatan humanis. Namun Setiap kegiatan yang dilakukan warga binaan itu ada PIC petugas yang mendampingi.
Lili menaruh harapan besar kepada warga binaan yang akan bebas setelah dari Lapas Ciangir. Dia berharap agar ketika pintu gerbang pembebasan itu benar-benar terbuka, para warga binaan ini tidak lagi menoleh ke belakang untuk berbuat kriminal.
"Skill-nya ini bukan sama dengan yang di luar. Skill-nya ini lebih dari di luar biar dia bertarung di luar. Ini bagaimana sudah dilatih di sini bisa bekerja di luar sehingga bermanfaat buat dirinya, tidak melakukan kesalahan lagi," tutur Lili.
Kalapas Kelas II B Ciangir, Soeistanto Poedji Djatmiko, lantas menimpali menjelasan Lili. Dia menekankan, kunci dari nihilnya pelanggaran adalah ikatan batin yang kuat antara petugas dan warga binaan.
Selama hampir tiga tahun kepemimpinannya, pria yang akrab disapa Tanto itu memastikan warga binaan tak pernah melakukan pelanggaran seperti di lapas tertutup.
"Dan saya tekankan kepada anggota untuk kita membina sifatnya humanis. Jadi kita anggap keluarga kita. Ketika mereka berkeluh kesah, ada apa pun itu kita sebagai petugas ya harus responsif untuk mencarikan solusi terbaiknya," kata Tanto.
Menabung Modal Lewat Keringat di Sawah
Seorang warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciangir, Tangerang, Banten, tengah memanen telur ayam, Kamis (9/7/2026). ANTARA/Laily Rahmawaty

Meski tanpa pagar-pagar tinggi, kata Tanto, standar operasional prosedur (SOP) pengamanan dan penggeledahan barang bawaan tetap berjalan ketat demi mengantisipasi penyimpangan. Namun, warga yang tinggal di sekitar area lapas pun tetap bisa beraktivitas di area persawahan.
Sifat lapas yang memanusiakan manusia ini juga terlihat dari bagaimana keseharian warga binaan diatur secara profesional. Mereka mendapatkan jatah libur satu kali dalam seminggu melalui sistem giliran dan bahkan diperbolehkan merokok.
Tak hanya itu, keringat mereka di sawah dan kandang pun dihargai dengan materi, yakni berupa premi bulanan berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Apresiasi tersebut tergantung pada grafik produksi. Melalui penghasilan itu, warga binaan mampu membeli rokok, kopi, dan juga menabung untuk masa hidupnya di tengah masyarakat nanti.
"Sebagian besarnya kita tabungkan, sebagiannya lagi itu kita titipkan ke koperasi. Kalau sewaktu-waktu mereka pengin jajan, pengin ngopi, pengen apa ya tinggal ke koperasi. Nanti hasilnya keluar [saat bebas] nanti uangnya bisa bermanfaat buat keluarganya," ungkap Tanto.
Secara produktivitas, Lapas Ciangir memiliki peternakan ayam petelur yang digawangi oleh 21 warga binaan. Produksinya mampu menghasilkan hingga 863 kilogram telur per hari.
Telur-telur ini dijual seharga kisaran Rp21 ribu per kilogram dan dipasarkan ke wilayah Jabodetabek. Bahkan sudah direncanakan untuk menyuplai hotel-hotel besar seperti Hotel Mercure Kemayoran.
Selain telur, kata dia, pada musim panen sebelumnya Lapas Ciangir juga sukses memanen sekitar 12 ton padi dari sektor persawahan yang digarap tentatif oleh 10 orang warga binaan. Sementara dari sektor peternakan musiman, lapas menjual 25 ekor domba dan 11 ekor sapi pada momen Iduladha lalu.
Merajut Harmoni Bersama Warga Sekitar
Untuk menjaga kualitas produk, Lapas Ciangir menggandeng berbagai stakeholder kompeten, mulai dari Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, hingga komunitas-komunitas ahli demi mengedukasi warga binaan. Transformasi ini menjadi modal penting bagi reintegrasi sosial warga binaan.
Menurut Tanto, pihaknya tengah menganalisa untuk membuka kapasitas lebih besar di Lapas Ciangir ini. Saat ini hanya bisa menampung maksimal 60 warga binaan, meski yang terisi baru 50 orang.
"Saya sedang merancang agar adanya penambahan kapasitas menjadi 100 warga binaan. Jadi di atas itu kan kamar seperti kos-kosan gitu, lalu yang paling pojok mau saya bobol jadi satu, kan besar seperti barak. Jadi bisa menampung 100 warga binaan," ungkap Tanto.
Diakui Tanto, Lapas Ciangir juga masih membutuhkan alat untuk kebutuhan bercocok tanam. Dengan luasan lahan 8 sampai 10 hektare, mereka membutuhkan traktor sawah untuk mempermudah para petani.
Dalam sistem pertanian yang dilakukan di Lapas Ciangir ini, Tanto mengaku pelibatan warga sekitar sangat besar. Saat ini terdapat 40 warga yang terlibat dalam produktivitas pertanian.
"Ada sekitar 40 warga yang terlibat. Biasanya mereka menggarap lahan pertanian di pojok sana. Ini kita jadikan mitra. Kami juga rutin melakukan bakti sosial (baksos) kepada warga saat musim panen datang, jadi manfaatnya benar-benar dirasakan juga oleh mereka," ucap Tanto.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































